Friday, April 03, 2009

KESAKSIAN INJIL KEPADA DIRI MEREKA SENDIRI?

BAB 4

Oleh George S. Bishop, D.D., East Orange, New Jersey

Pokok pembicaraan saya adalah Kesaksian Injil kepada diri mereka sendiri - - pembuktian diri mereka sendiri – saksi yang dibawanya, yang melumpuh-kan tanpa keikutsertaan siapapun.

Izinkan saya memperluas tentang saksi ini di bawah judul-judul berikut:

Keabadian, Kuasa, Doktrin yang teramat penting, Pernyataan langsung.

1. KEABADIAN – “Saya telah menulis!” Semua buku lain telah mati.

Sedikit sekali buku kuno masih bertahan, dan lebih sedikit dari yang sedikit

itu memiliki pengaruh.

Sebagian besar dari buku-buku dari mana telah kami mengutip ditulis pada tiga atau bahkan satu abad terakhir.

Namun, ini ada Buku yang suaranya dari sebelum dunia telah menjadi tua, ketika suara-suara berbicara di taman Eden. Sebuah Buku yang telah berta-han dengan cahaya, vitalitas, semangat, popularitas dan pantulan pengaruh yang bukan saja tetap melainkan semakin bertambah. Sebuah Buku yang telah melewati segala guncangan tanpa terkilir, dan segala tungku api dari segala abad – seperti sebuah lemari besi berisi dokumen di setiap sudut, tanpa mengalami kerusakan, atau bau hangus. Ini adalah Buku yang dapat dikatakan, seperti mengenai Kristus sendiri yang Abadi: “Engkau telah membawa embun di atas masa muda-Mu dari rahim sang Subuh”. Sebuah buku yang sama kunonya seperti buku-buku dari Hari Purba, dan yang apabila segala yang kita lihat dan sebut alam semesta telah tiada, akan terus berbicara dengan suara menggelegar agung, dan berbisik dengan suara lembut tentang cahaya dan suara musik tentang kasih, karena ia telah mem-balut dirinya dengan masa lalu yang abadi, dan membuka serta memperluas dari dalam dirinya hari depan yang abadi; dan seperti matahari yang menyi-nari segalanya, akan tetap berlalu, sementara abad-abad tetap berjalan, tak berubah, mustahil diubah: Wahyu Allah.

2. Keabadian berada di dalam halaman-halaman ini, dan OTORITAS TELAH MEMETERAII-NYA. Ini merupakan soal kedua. Sebuah standar.

Tidak berguna berbicara tentang tidak ada standar. Alam menunjukkan ada. Hati nurani berteriak membutuhkannya – hati nurani yang, tanpa hukum, terus menerus melakukan perang internal dan menyakitkan antara menya-lahkan atau jika tidak, memaafkan diri sendiri.

Harus ada Standar, dan sebuah Standar yang Terilhami – karena Ilham me-rupakan Intisari dari Otoritas, dan otoritas/kuasa adalah perimbangan dari ilham – lebih terilhami, lebih besar pula kuasanya, lebih sedikit, lebih sedikit. Bahkan sang rasionalis Rothe, seorang oposisi yang gigih, telah menyetujui “bahwa Alkitab yang bukan hasil dari ilham langsung tidak mempunyai ke-kuatan mengikat”.

Oleh karenanya ilham/wahyu verbal dan langsung merupakan “Thermopylae

dari iman menurut Kitab Injil. Tanpa nafas tiada suku kata; tanpa suku kata tiada kata; tanpa kata tiada Kitab, tanpa Kitab tiada agama.

Kita pertahankan, dari mula hingga akhir, bahwa tidak mungkin ada kemaju-an pada Wahyu – tiada terang baru. Apa yang ditulis pada mulanya, tetap tertulis hari ini, dan akan tetap ada selamanya. Apa yang keluar dari pikiran Allah adalah lengkap sempurna. “Tidak ada sesuatu yang dapat ditambah-kan atau di kurangi”; ipse dixit-nya pasti, final. “Jika ada yang menambah-kan kepada hal-hal ini, Allah akan menambahkan kepadanya kutukan-kutukan yang tertulis di dalam Kitab ini; dan jika ada yang mengurangi kata-kata dari Buku Ramalan ini, Allah akan mengurangi bagiannya dari Kitab Ke- hidupan dan dari Kota Kudus, dan dari hal yang tertulis di dalam Buku ini”.

Alkitab adalah Sabda Allah, dan bukan hanya MENGANDUNGNYA. Itu jelas.

Karena Alkitab menamakan dirinya sendiri Sabda Allah. “Taurat Tuhan itu sempurna” kata sang Pemazmur. Dan lagi, “Sabda-Mu adalah pelita bagi kakiku” “Dengan apakah seorang pemuda akan menyucikan jalannga? Dengan mengindahkannya menurut Perintah Allah”. “Rumput akan mati” kata Yesaya, “bunganya akan layu, tetapi Sabda Allah kita bertahan sela- manya”.

Tidak hanya Kitab Injil dinamai Sabda Allah, tetapi ia dibedakan dari semua buku yang lain justru oleh judul itu. Ia dibedakan demikian di dalam Mazmur 119 dan di mana pun kontras antaranya dan semua buku manusia diperda-lam dan dipertahankan.

Jikalau kita tidak mau menamakan Alkitab Sabda Allah, maka kita tidak da-pat menamakannya sesuatu yang lain. Apabila kita menuntut suatu des-kripsi yang setepat-tepatnya dan tidak terbuka terhadap patil-patil kritik sembarangan, maka Bukunya tetap anonim. Kita tidak lagi dapat mengata- kan “Injil Kudus” karena kejahatan-kejahatan yang tercatat di dalamnya tidak kudus, karena ungkapan-ungkapan seperti “Kutuk Allah dan matilah” dll. dari mulut Iblis dan dari orang-orang jahat, tidaklah kudus. Tetapi, Alkitab adalah “kudus” karena tujuan dan cara-caranya adalah kudus. De- mikian juga, Alkitab adalah Sabda Allah, karena datangnya dari Allah, ka- rena kata-katanya telah ditulis oleh Allah, karena ia merupakan satu-satunya penjelas Allah; satu-satunya peraturan bagi prosedurNya dan Buku yang pada akhirnya menurut mana kita diadili.

(1) Alkitab adalah kuasa, karena di dalamnya, dari sampul ke sampul, Allahlah Pembicaranya. Belum lama ini seorang pemimpin dari yang disebut ortodoksi mengatakan kepada hadirin yang padat, “Alkitab itu benar. Siapa pun harus percaya apa yang benar. Apa bedanya, siapa yang menulisnya?” Bedanya, saudara-saudara, sikap Allah yang sungguh-sungguh menggugah jiwa. Teman saya boleh mengatakan kepada saya apa yang benar, istri saya boleh mengatakan kepada saya apa yang benar, namun apa yang mereka katakan itu bukan khidmad. Kekhidmadan terjadi apabila Allah menatap muka saya – Allah ! dan di belakang-Nya nasib abadi – dan berbicara deng-anku mengenai jiwaku! Di dalam Alkitab Allah bersabda, dan Allah dide-ngarkan, dan manusia dilahirkan kembali oleh Sabda Allah. Demikian, iman datang karena mendengarkan dan mendengarkan Sabda Allah”. Adalah Wahyu Allah yang didengarkan oleh iman, dan pada Allah yang telah diung- kapkan, iman bersandar.

(2) Alkitab adalah Sabda Allah. Datangnya kepada kita diberitakan oleh

Keajaiban-keajaiban dan di dahului oleh api. Ambillah Perjanjian Lama – Gunung Sinai; ambil Perjanjian Baru – Pantekosta. Maukah Allah mengu- lurkan tangan-Nya dan menulis pada tablet dalam memberi, dan menu-runkan lidah-lidah api dalam memproklamirkan sebuah wahyu, yang sebuah partikel dan secarik pun bukan milik-Nya? Dengan kata lain, apakah Ia mau mengadakan mujizat dan menurunkan lidah-lidah api untuk menonjolkan suatu karya yang hanya dari manusia, atau bahkan sebagian manusiawi dan sebagian Ilahi. Betapa tak layak bagi Allah, betapa tak beriman, betapa mus-tahilnya perkiraan demikian!

(3) Alkitab muncul dengan kekuasaan di dalam kata-katanya yang penuh kuasa dan mengagungkan di dalam amanatnya. Allah di dalam Alkitab bersabda dari sebuah angin ribut dan dengan suara Elias. Bukti ilham literer apa yang bisa lebih besar daripada yang terdapat di dalam cara yang penuh kuasa dan bernada perintah para nabi dan rasul yang memungkinkan mere- ka – orang-orang miskin, tak dikenal, dan tanpa pengaruh, nelayan, tukang- tukang batu, pemilik losmen, buruh harian – untuk dengan berani mengajari dunia dari Firaun dan Nero ke bawah? Dapatkah ini disebabkan oleh sesu-atu yang kurang dari Allah yang berbicara di dalam diri mereka – oleh dorongan dan penguasaan Allah yang dahsyat? Siapa yang dapat percaya?? Siapa yang tidak terpesona oleh kekuatan dan kebijaksanaan Allah? Kata-kata-Nya ada di dalam tulang-belulang saya”, ada yang berseru. “Saya tidak dapat diam. Singa telah mengaum, siapa tidak akan takut? Tuhan telah bersabda, siapa bisa bertahan untuk tidak meramal?”

(4) Alkitab adalah puncak kekuasaan karena dari mula hingga akhir ia merupakan proyeksi mulia dari perintah-perintah Allah pada skala yang

terluas. Sapuan Alkitab adalah dari penciptaan para malaikat sampai sebuah surga baru dan dunia baru melewati sebuah danau api. Betapa banyak keja-dian! Betapa besar ruang diatas sapuan itu atau bahkan jangkauan pikiran- ke-depan manusia, kritik atau kerja-sama! Betapa merupakan sebuah labirin

dengan tiap tikungan yang terkecil dan terhalus mempengaruhi pengam-punan seluruhnya, oleh karena sebuah rantai tidak pernah lebih kuat dari sebuah mata-rantainya yg terkecil! Lalu siapa berani bicara sebelum Allah bersabda? “Aku akan mengeluarkan peraturannya!” Itu telah me- ngesampingkan segala-galanya yang membuat peraturan itu seakan-akan sebuah perpanjangan dari Dia yang menyatakannya. “Aku akan mengeluarkan peraturannya”. Apabila kita pertimbangkan bahwa Alkitab adalah sebuah proyeksi tepat dari perintah-perintah Allah ke dalam waktu yg akan datang, argumen itu terlihat mengangkat, sampai mencapai klimax; dan memang ia sampai kepada pokok persengketaan, karena hal yang tersulit bagi kita untuk dipercaya tentang Allah adalah bahwa Ia mengeta-hui tepat, benar-benar tahu karena Ia telah menetapkan, hari depan. Tiap sifat Allah lebih mudah dimengerti dari pada sifat Maha Mengetahui-Nya yang tak pernah salah. Oleh karena itu “Aku akan mengeluarkan peraturannya” membutuhkan pengilhaman langsung.

(5) Alkitab adalah puncak kekuasaan karena kitab-kitab pada akhir ran-tainya membuktikan ilham yang diperintahkan bagi tiap matanya. Banding- kan kejatuhan di kitab Kejadian – satu mata rantai – dengan kebangkitan kembali di dalam Apokalips, mata rantai lain. Bandingkan ciptaan lama di dalam bab-bab pertama Perjanjian Lama dengan ciptaan baru di dalam bab-bab akhir dari Perjanjian Baru. “Kita buka halaman-halaman pertama dari Alkitab” kata Vallotton, “dan kita menemukan di sana resital penciptaan dunia oleh Sabda Allah mengenai kejatuhan manusia, mengenai pembuang-annya jauh dari Allah, jauh dari surga, dan jauh dari pohon kehidupan. Kita buka halaman-halaman akhir dari 66 jilid kitab tertanggal 4000 tahun kemu-ian. Allah masih tetap berbicara, Dia masih tetap mencipta. Ia menciptakan sebuah surga baru dan sebuah dunia baru. Manusia ditemukan di sana, terpulihkan. Ia telah dikembalikan kepada hubungan dengan Allah, ia berada kembali di surga, di bawah naungan pohon kehidupan. Siapa yang tidak terkesan oleh persesuaian aneh dari akhir dengan permulaan itu? Bukankah yang satu merupakan prolog, dan yang lain epilog dari sebuah drama, yang maha besar juga unik”?

(6) Sebuah argumentasi lain mengenai kuasa tertinggi Injil adalah sifat investigasi yang menantang Sabda Allah. Alkitab mengundang pemeriksaan yang terketat. Halaman-halamannya yang terbuka mengobarkan seruan “Se- lidikilah Injil!” Ereunao – “Carilah”. Ini adalah sebuah istilah seorang olahra-gawan, dan dipinjam dari lomba lari. “Telusurilah” , “Ikutilah jalannya”, -

telusuri Sabda dalam segala penggunaan dan liku-liku-Nya. Enduslah Dia sampai ke arti yang terjauh, seperti seekor anjing mengendusi kelenci.

“Mereka mencari,” kata Santo Lukas lagi di dalam Kisah para Rasul menge-nai orang-orang Berea. Disana terdapat sebuah kata lain, Anakrino – “mereka membagi-bagikan”, menganalisa, menyaring, menumbuk seperti di dalam sebuah lumpang – hingga pikiran yang terakhir.

Betapa khidmatnya tantangan ini! Buku mana selain Kitab Suci yang berani mengeluarkan sebuah tantangan seperti itu? Jika suatu buku telah ditulis oleh manusia, ia akan dikuasa oleh manusia. Orang dapat menelusuri, me- lobang-lobanginya, menyaringnya lalu meninggalkannya, hancur. Namun Kitab Suci, sebuah kitab yang dijatuhkan dari surga, adalah “dinafasi Allah”.

Ia membesar, meluas, dipenuhi dgn tubuh Allah. Allah telah menulis-nya, dan tak seorangpun dapat menghabiskannya. Gunakan mikroskopmu, gunakan telekopmu, arahkan kepada materinya Injil. Mereka memisahkan, tetapi tidak merusak benang-benangnya. Mereka menyebar luas kabut-kabutnya, tetapi menemukan itu adalah kelompok-kelompok bintang. Mereka tidak sampai kepada tanda kemiskinan di dalam Injil. Mereka sama sekali tidak menemu-kan kekasaran kainnya, ataupun keterbatasan horison- nya seperti selalu terjadi apabila diadakan ujian semacam dilakukan pada suatu karya manusia. Letakkan setetes air atau sebuah sayap lalat, di bawah mikroskop. Semakin kuat lensanya semakin banyak tetes air itu membesar hingga menjadi sebuah lautan berisi molekul-molekul lincah. Semakin tinggi kekuatannya, semakin halus, semakin seperti sutra jadinya tissu sayap lalat itu , sampai ia menjadi hampir sehalus benarg emas dan sutra tipis sayap kerubi. Demikian-lah halnya dengan Sabda Allah. Semakin banyak penyelidikan - semakin banyak keilahiannya, semakin banyak pembedahan – semakin banyak pula kesempurnaannya. Kita tidak mungkin mengadakan ujian yang terlalu mendalam, tidak pula menggunakan sinar yang terlalu tajam, ataupun batu uji yang terlalu menuntut.

Kitab Injil berada di atas segala upaya bukan hanya untuk menghabiskan, tetapi untuk memahaminya. Tak ada akal manusia yang dengan mencari, dapat menemukan sepenuhnya tentang Allah. “Karena manusia mana mengetahui hal-ihwal seseorang kecuali roh yang ada di dalamnya? demikian pula hal-ihwal tentang Allah tak seorang mengetahuinya kecuali Roh Allah”.

3. Hal ini membawa kita kepada soal ketiga. Injil memberi kesaksian

mengenai Asal-usul Ilahi-nya dengan DOKTRIN YG MELAMPAUI SEGALANYA, SINAR YANG MELAMPAUI SEGALA SINAR, KECEMERLANGANNYA SENDIRI, CAHAYA ILAHINYA, KESAKSIAN ROH.

Kita seharusnya berharap menemukan suatu Kitab yang datang dari Allah, ditulis dengan ujung batu jaspis dan batu sardine – dilingkari halo dari terangnya bukit-bukit abadi. Kita seharusnya mencari sesuatu mengenai Kitab itu, yang secara langsung memberikan keyakinan, should carry overwhelmingly and everywhere by its bare, naked witness – by what it simply is. That just as God, by stretching out a hand to write upon the “plaister” of a Babylonian palace, stamped, through mysterious and disjointed words, conviction of Divinity upon Beshazzar, and each one of his one thousand “lords”; so after that same analogue – why not? – God should stretch out His hand along the unrolling palimpsests of all the ages, dan menulis di atasnya dengan huruf-huruf yang lebih besar, yang, dengan diam-diam dikenali setiap jiwa manusia, mengatakan, tidak hanya “Ini adalah Kebenaran”, tetapi “Ini adalah Kebenaran, yang difirmankan oleh Allah”.

Injil adalah Firman Allah oleh karena Ia adalah Kitab Keabadian – pengung-kapan apa yang alam, tanpanya, tidak akan pernah peroleh, dan tanpa pe- ngetahuan tentangnya, alam akan hilang.

Kebutuhan jiwa yang terbesar adalah penyelamatan. Pengetahuan mengenai Allah itulah yang dapat meyakinkan kita mengenai “ketenangan “ di sini dan di alam baka. Pengetahuan seperti itu tidak dimiliki oleh alam di luar Alki-tab. Di mana-mana meraba-raba di dalam kegelapan, manusia dihadapkan kepada dua fakta yang tak berubah. Satu, rasa bersalahnya, yang seraya ia melihat ke bawah, tenggelam semakin dalam. Yang lain, pengadilan Allah, yang seraya ia mendongak, naik semakin tinggi. Abadi di sini berlawanan dengan abadi di sana – tanpa ada jembatan di antara keduanya. Alam tidak menolong dengan jembatan. Ia sama sekali tidak bicara tentang Penebusan Dosa.

Berdiri dengan Uriel di bawah matahari, kita kemukakan usul bahwa Injil adalah Ilahi dalam pesan-Nya karena diutarakannya tiga keabadian: Rasa bersalah abadi, Kekudusan abadi dan Penebusan dosa abadi.

Sebuah buku harus sendirinya abadi jika menghayati keabadian, dan sebuah buku harus Ilahi yang menggabungkan secara ilahi keabadian-keabadian.

Rasa bersalah abadi! Apakah rasa bersalahku tanpa dasar? Apakah neraka lebih dalam? Apakah secara introspeksi, terdapat sebuah nadir yang lebih dalam, lebih tanpa dasar? Rasa bersalah abadi! Itulah yang membuka, yang runtuh di bawah kakiku semakin hati-hati aku membenahi hatiku sendiri – watakku, sejarahku. Bersalah abadi! Betapa jauhnya aku berada di bawah tingkat memaafkan-diri, atau “kritik” mengerikan dari Kitab yang menyata- kan ini! Itulah aku. Tenggelam tanpa batas, dan di bawahku sebuah Tophet (Neraka) abadi. Aku tahu itu. Segera setelah dinyatakan oleh Alkitab, aku tahu, dan dengannya aku mengenali Alkitab Ilahi yang bersaksi itu. Aku tahu, tak tahu bagaimana – oleh sebuah naluri, atau hati nurani, oleh suatu penerangan, oleh kuasa Roh Allah, oleh Firman di luar, dan oleh keyakinan yang terkilas di dalam diriku yang mengiakan.

Dan, terbalik di atasku, sebuah Abadi terhubung – Allah! Apa yang dapat lebih tinggi? Puncak apa lebih tinggi? Kubuh tanggungjawab apa yang lebih menakutkan atau lebih menyeramkan? Allah Abadi di atasku – akan datang untuk menilai aku! Sedang di perjalanan sekarang. Aku harus menemui-Nya Aku tahu itu. Aku tahu segera setelah Alkitab menyatakannya. Aku tahu – tak tahu bagaimana – oleh naluri. Bahkan manusia alam harus membayang-kan itu pada dirinya apabila digambarkan demikian, dan harus takut.

“Satu Allah dalam kemegahan, serta sebuah dunia yg membara” Allah yang Kudus abadi di atasku, datang untuk mengadili aku. Itu adalah keabadian kedua.

Lalu yang ketiga dan yang melengkapi Segitiga dan membuat sisi-sisinya sama abadi dan ilahi sama dengan penebusan abadi – Allah Penyelamat abadi di atas kayu salib memberi jawaban kepada Allah di atas singgasana –Yesusku – Pelindungku, Yehovaku untuk selama-lamanya.

Dengan ketiga keabadian ini – terutama yang terakhir Penebusan abadi, yang kepadanya seluruh diriku mengeluarkan jeritan kelelahanku yang terakhir – dengan sisi ketiga dari Segitiga raksasa ini – sisi yang jika aku tidak dibantu, aku tidak akan pernah mengetahui Alkitab membuktikan dirinya adalah Geometri jiwa. Matematika tunggal, Wahyu Allah.

Kita berpegang pada keyakinan bahwa ketiga hal ini – Rasa Bersalah, Allah, dan Penebusan – diletakkan dalam posisi bintang keterangan tambahan dan kebersamaan, berbicara dari langit, lebih nyaring daripada bintang, menga-takan: “Pendosa dan penderita, Wahyu ini adalah Ilahi”.

Mari kita ambil posisi terbuka bahwa sehelai halaman yang terlepas dari Injil Allah, lalu ditemukan di pinggir jalan oleh seseorang yang belum pernah melihat-nya, akan segera meyakinkan orang itu bahwa kata-kata yang aneh dan ajaib itu datangnya dari Allah.

Injil adalah bukti mereka sendiri. Kita meyakini bahwa matahari tidak mem-butuhkan kritik – kebenaran tidak pula membutuhkan lonceng penyelam. Apabila matahari bersinar, ia bersinar. Apabila Allah bersabda, buktinya berada di dalam aksen kata-kata-Nya.

Bagaimana para nabi dahulukala mengetahui waktu Allah berfirman kepada me- reka, bahwa itu adalah Allah? Apakah mereka menguji dengan sangat kritis suara itu yang menggetarkan tiap tulang mereka, dan membuat daging mereka meleleh di atasnya? Apakah mereka memasukkan Allah, boleh dikatakan, - seperti yang rupanya telah dilakukan oleh beberapa orang mo- dern kita – kedalam sebuah botol pelebur emas atau sebuah botol penyu-ling seorang ahli kimia, untuk membuktikan bahwa Dia adalah Allah? Apakah mereka anggap perlu untuk meletakkan tandatangan Allah di depan sebuah pipa-tiup pemeriksaan filosofis kegelisahan, untuk mengeluarkan dan membuat terlihat yang tidak terlihat? Sarannya saja sudah suatu keedanan.

Injil adalah pembuktian mereka sendiri. Penolakan Alkitab berdasarkan pe- nampilannya yang sederhana sudah cukup untuk mengutuk orangnya dan jika diteruskan, akan dikutuknya dia karena :

“Kemuliaan menyepuh emas

halamannya yang kudus

Mulia, laksana matahari;

Ia memberi terang kepada segala usia;

Ia memberi, namun tak pernah meminjam.”

4. Kemuliaan terbentang di atas permukaan Injil, namun kemuliaan ini apabila diperiksa dengan teliti, terlihat memiliki sifat-sifat tertentu dan menguraikan pembuktian-pembuktian di dalam dirinya sendiri, pernyataan

tegas, yang bersama-sama menggambarkan kembali Keilahian-Nya yang tinggi, serta menetapkan hak-Nya.

Ini adalah pokok kita yang keempat: INJIL MENYEBUTKAN DIRINYA SENDIRI ILAHI. Mereka tidak hanya menganggapnya demikian, mereka mengutarakannya. Dan ini: “Demikianlah sabda Tuhan”, adalah intrinsik

- sebuah saksi di dalam saksi, dan kepadanya tergantung sesuatu yang lebih daripada keyakinan – kepercayaan, atau lahir dari Roh, kecuali iman.

Argumen yang timbul dari pengakuan-diri oleh Injil adalah kumulatif.

(1) Alkitab menyatakan bahwa, sebagai Buku, Ia datang dari Allah. Dan dengan berbagai cara Ia menekankan pernyataan ini.

Satu hal: ia mengatakan demikian. Dahulu Allah berfirman melalui para nabi.

Sekarang Allah berfirman melalui Putera-Nya”. Perihal Inspirasi, di dalam pernyataannya yang pertama, adalah perihal Wahyu sendiri. Andaikata Kitab itu Ilahi, maka apa yang ia firmankan mengenai dirinya adalah Iliahi. Injil adalah ter-ilhami karena mereka katakan bahwa mereka terilhami. Persoalannya adalah hanya kesaksian Ilahi, dan urusan kita sama mudah-nya, hanya percaya kesaksian itu. “Inspirasi sama dengan sebuah

kenyataan”, kata Haldane, “seperti juga pembenaran oleh iman. Keduanya bersandar sama-sama pada kekuasaan Injil, yang merupakan kuasa ter-akhir mengenai hal ini seperti mengenai hal apa saja. “Apabila Allah ber-firman, dan apabila Ia mengatakan “Aku berfirman!”, ya itu segalanyalah. Dia pasti didengar dan dituruti.

Di dalam Injil Allah berfirman, dan berfirman tidak hanya melalui wakil. Ki- tab Imamat adalah sebuah contoh dari hal ini. Ayat demi Ayat di Kitab Imamat dimulai dengan “Dan Allah berfirman, demikian:”; dan demikian terus di seluruh kitab. Musa hanyalah seorang pendengar, seorang penulis. Pembicara yang menyatakan diri-Nya sendiri adalah Allah.

Di dalam Injil Allah Sendiri turun dan berfirman, tidak hanya di Perjanjian Lama, dan juga tidak hanya melalui seorang wakil. “Perjanjian Baru membe- rikan kepada kami,” kata Dean Burgon, “ sebuah gambaran agung mengenai Yang Berlanjut Usia memegang seluruh Kitab Injil Perjanjian Lama di dalam tangan-Nya, dan menjelaskannya Sendiri. Dia, Firman yang telah menjadi daging, yang pada mulanya ada pada Allah, dan yang adalah Allah – Maha Kuasa yang sama itu dijelaskan di dalam Injil seolah Ia memegang ‘Benda

Kitab itu’ di dalam tangan-Nya, membuka dan melepaskan lipatan-lipatannya serta menjelaskan seluruhnya mengenai Dirinya sendiri”

Kristus di mana-mana menerima Injil, dan berbicara mengenai Injil, keseluruhannya – Hukumnya, Nabi-nabinya, dan Mazmurnya, seluruh Kanon Perjanjian Lama – sebagai Orakel hidup dari Allah. Ia menerima dan mengabsahkan semua yang tertulis, dan bahkan menonjolkan keajaiban-keajaiban yang oleh para fakir dianggap paling tidak mungkin. Dan semua itu dilakukan-Nya atas dasar kekuasaan Allah. Ia mengabaikan penulisnya – tidak diperhitungkannya. Dalam semua kutipan-Nya dari Perjanjian Lama, hanya empat dari para penulisnya yang Ia sebutkan namanya. Yang penting bagi-Nya ialah bukan yang membuat laporan, tetapi Sang Pendiktenya.

Dan posisi Penyelamat kita yang mengagungkan Injil sebagai “penyambung lidah” Allah yang hidup, terus-menerus dipertahankan oleh para Rasul dan Gereja apostolik. Berkali-kali, di dalam Kitab Kisah Para Rasul, di dalam semua Surat ditemukan ungkapan-ungkapan seperti “Ia berfirman”, “Allah berfirman”, “Orakel Allah”, Roh Kudus berfirman”, “Benar Roh Kudus ber- firman melalui Nabi Esaias”.

Surat kepada kaum Ibrani memberikan gambaran yang bagus sekali menge-nai hal ini, di mana seraya menguraikan seluruh ekonomi ritual Mosaik, sang penulis menambahkan “Roh Kudus yang menunjukkan”. Lebih jauh lagi, dan mengutip kata-kata Nabi Yeremiah, ia memperkuatnya dengan u- capannya: Roh Kudus juga menjadi saksi kepada kami”. Argumen kerajaan pada Mazmur 95 ia akhiri dengan “Maka, seperti difirmankan oleh Roh Kudus, Hari ini akan engkau dengar suara-Nya”. Di dalam seluruh Surat, siapa pun penulis yang dikutib tulisannya, kata-kata kutipan itu dikembalikan kapada Allah.

(2) Namun sekarang, mari kita lebih mendekat, kepada pernyataan yang sangat presis, dan pasti serta tanpa ragu-ragu. Apabila Injil sebagai Kitab adalah Ilahi, jadi apa yang mereka katakan tentang mereka sendiri, adalah Ilahi. Apa kata mereka?

Di dalam penyelidikan ini, biarkan kita meletakkan jari kita pada dua buah kata, dan selalu dua buah – kunci apostolik menuju seluruh posisi Gereja:

“Grafik” – tulisan, tulisan, Tulisan itu – bukan seseorang, atau sesuatu di belakang Tulisan itu. Tulisan itu. “Grafik” itu yang telah di ilhami.

Dan apa yang dimaksud dengan di ilhami? “Theopneustos”, di nafasi Allah.

“Di nafasi Allah!” Tergoncangkan seluruh dasar. Allah turun seperti letusan pipa-pipa sebuah organ – dengan suara seperti angin puyuh, atau dengan suara lebut berbisik laksana nada-nada Aeolis, dan seraya berfirman, Ia mengambil sebuah tangan, dan di dalam tangan-Nya sendiri dijadikan-Nya sebuah pena seorang penulis yang sangat penurut.

Pasa Grafe Theopneustos! “Semua tulisan kudus”. Lebih tepat lagi “Setiap

Tulisan kudus” setiap tanda di atas perkamennya, “telah dinafasi Allah”. Demikian kata Paulus.

Pasa Grafe Theopneustos! Pernyataan kudus ini bukanlah dari alat pemban-tu, tetapi dari Penulisnya; bukan dari seorang perantara, tetapi dari produk- nya sendiri. Ia merupakan satu-satunya pertahanan tertinggi dari apa yang tertinggal di atas halaman ketika Ilham telah selesai. “Apa yang telah tertu-lis”, ucap Yesus. “bagaimana engkau membacanya?” Manusia hanya dapat membaca apa yang telah tertulis.

Pasa Grafe Theupneustos! Allah bukan mengilhami manusia, tetapi bahasa.

Ungkapan “manusia yang terilhami” tidak terdapat di dalam Alkitab. Injil tidak pernah menggunakannya. Injil mengatakan bahwa “orang-orang suci tergerak untuk” -- pheromenoi – tetapi tulisan, manuskrip mereka, apa yang telah mereka bubuhkan dan tinggalkan di atas kertas, itu yang ternafasi-Allah. Orang bernafas di atas sepotong kaca. Nafasnya menempel di sana, membeku dan tetap di sana; membuat รบ menjadi sebuah gambar dari es. Itulah maksudnya. Tulisan di kertas di bawah tangan Paulus ditiup, dinafasi ke dalam halaman itu seperti Roh Allah memberi nafas kepada Adam.

Khirograf itu adalah suara penjelmaan Allah, sama benarnya seperti daging Yesus yang sedang tidur di atas bantal adalah penjelmaan Allah.

Kita berdiri di atas keyakinan bahwa pada perkamen yang asli, selaput tiap kalimat, kata, garis, tanda, titik, titik-sapuan pena, itota telah di letakkan di sana oleh Allah.

Mengenai perkamen yang asli. Pasti tidak ada perkamen-perkamen lain yang lebih tua usianya. Bahkan jika kita menuruti memikiran extra-Injiliah berat bahwa Musa atau Matius menuliskan dari ingatan mereka atau dari buku-buku lain hal-hal yang telah mereka tinggalkan bagi kami; tetap saja, dalam hal manapun, pilihan, pengungkapan, pembentukan dan liku-liku ucapan di atas selaput adalah pekerjaan Allah tanpa bantuan.

Tetapi apa? Marilah kita berhenti mengandai-andai dengan extra-Injiliah yang sombong. Yesaya yang menyala, Yehezekiel yang perfervid, peman-dang roda? (wheel-gazing), Sto Paulus yang berapi-api, mirip bidadari terangkat naik, naik, naik terus sampai ke Surga yang oleh dia sendiri disebut “surga ketiga” – apakah mereka hanya pembuat copy, hanya “redaktor” yang ber- gerak sendiri? Saya rasa tidak. Pena mereka menuntut, membujuk, bergerak kesana kemari oleh sapuan sebuah aliran yang ilahi, meregangkan baju kulit mereka seperti kepunyaan Lukas di atas kubu Santo Petrus, menuju Surga yg tertinggi, tersayapi dari singgasana Allah.

Kita tetap berkeyakinan bahwa perkamen yang asli – selaput tulisan setiap kalimat, kata, garis, tanda, titik, titik-sapuan pena, iota diletakkan di sana oleh Allah.

Di atas perkamen yang asli. Orang boleh menghancurkan perkamen itu. Waktu dapat menghancurkannya. Mengatakan bahwa selaput-selaput itu telah Menderita di tangan manusia, hanyalah mengatakan bahwa segala yang Ilahi harus menderita, seperti juga pola Tabernakel menderita ketika diserahkan ke dalam tangan kita. Namun, untuk mengatakan bahwa penulis-annya telah menderita – kata-kata dan aksaranya – sama saja mengatakan bahwa Yehova telah gagal.

Yang tertulis tetap ada. Seperti juga tulisan sebuah palimpsest, ia tetap

bertahan dan akan muncul kembali, tak peduli dalam keadaan bagaimana, perubahan apapun terjadi untuk memporak-porandakan, menggelapkan, mencacati, atau menghapusnya. Bahkan suatu THEOS yang kesepian (Allah yg menyatakan diri-Nyai dalam rupa manusia (Timotius 3:16)) ditulis oleh Roh Allah di atas Uncial “C” Agung seperti, telah saya lihat dengan mata kepalaku sendiri - sederhana, jelas, berkilau mulai dari belakang tinta pucat dan menutupi tinta Ephraim, orang Syria – mustahil dapat dikubur. Seperti hantu Banquo, ia akan naik, dan Allah Sendiri akan menggantikannya, dan, dengan sebuah sabetan palu, memukul tangan-tangan yang menghilangkan. Perkamen, selaput, kerusakan, tulisan, kata abadi seperti Allah. Cabutilah plester dari istana Balshazzar namun Mene! Mene! Tekel! Upharsin! Tetaplah. Mereka tetap ada.

Mari kita ulang lagi, dan dari permulaan, dan melihat apa yang Injil mengatakan mengenai dirinya sendiri.

Satu hal: mereka mengatakan bahwa Allah berfirman, “dari dulu dan terus-menerus, di dalam diri para rasul” . Kita boleh jika diinginkan, menjadikan “en” instrumental – memang juga ia lebih sering instrumental --- yaitu “oleh” para rasul, tetapi di dalam kedua hal, di dalam diri mereka atau oleh mereka, Pembicaranya adalah Allah.

Sekali lagi, Injil mengatakan bahwa hukum yang diumumkan, doktrin-doktrin yang diajarkan, cerita-cerita yang dicatat, oleh para penulis itu – dan di atas segalanya, ramalan-ramalan mereka mengenai Kristus – bukanlah milik mereka; tidak bersumber dari mereka, atau diciptakan oleh mereka dari sumber-sumber apapun dari luar – bukan apa yang dengan cara apapun mereka ketahui sebelumnya, atau mereka pahami, tetapi datang langsung dari Allah; mereka hanya sebagai penerima, hanya bersama Allah seraya Allah bergerak di dalam diri mereka.

Beberapa dari Pembicara di Alkitab, seperti Balaam, Nabi Tua dari Bethel, Caiaphas, tercekam dan dipaksa berlawanan dengan kemauan mereka sendiri, dan dengan sangat enggan, mengutarakan apa yang sama sekali tidak terpikirkan atau terasakan oleh mereka. Pembicara lain lagi – sebetulnya semua – dibuat rabun mata terhadap orakel-orakel, perintah-perintah dan penglihatan-penglihatan yang mereka utarakan. “Mencari apa, waktun kapan, Roh Allah yang di dalam mereka, mengatakannya!”, dengan kata lain para nabi sendiri tidak mengetahui apa yang mereka tulis. Gambaran apa dapat lebih mengesankan daripada melihat nabi itu sendiri memperhatikan dengan terheran-heran, melihat tandatangannya sendiri – seperti telah ditinggalkan di atas meja – relekwi dari sebuah tangan aneh dan supernatural? Bagaimana gambaran itu tidak mengangkat Alkitab dari tangan-tangan manusia dan diletakkan pada tempatnya kembali, sebagai tempat penyimpanannya yang asli, di dalam tangan Allah.

Sekali lagi; dikatakan “Sabda Allah datang” kepada penulis yang ini yang itu. Tidak dikatakan bahwa Roh datang, yang memang betul, tetapi bahwa Sabdanya sendiri datang, yaitu Dabar-Jehova. Dan dikatakan pula: “Hayo Haya Dabar”, bahwa ia benar-benar datang, pada pokoknya, “essendo fuit” - demikian kata Pagninus, Montanus, Polanus – yaitu, ia datang: kecambah benih dan kulitnya, serta bunga – seluruhnya – kata-kata yang diajarkan oleh Roh Kudus – yaitu “INJIL”.

Sekali lagi; disangkal, dan dengan sangat keras, bahwa kata-kata itu adalah milik manusianya – yaitu sang wakil. “Kata-kata itu ada di lidah saya” dinya-takan oleh Santo Paulus bahwa “Kristus berkata-kata di dalam nya” (2 Ko-rintus 13:3). “Siapa yang telah membuat mulut manusia. Bukankah Aku, Allah yang membuatnya? Aku akan menaruh kata-kata-Ku ke dalam mulutmu”. Itu sangat menyamai apa yang telah di nodai sebagai “teori mekanis”. Benar-benar membuat sang penulis tak lebih dari pada sebuah alat, meskipun bukan alat yang tidak sadar, atau enggan atau tidak spontan. Apakah bahasa dapat lebih jelas menyatakan atau membela suatu inspirasi langsung yang diucapkan?

Sesuai dengan fakta, sekali lagi dikatakan bahwa Sabda itu datang kepada para penulis tanpa pelajaran apapun – “sekonyong-konyong” – seperti de- ngan Amos di mana dia diambil sedang menggembalakan dombanya.

Sekali lagi; ketika dengan demikian sabda itu datang kepada para nabi mereka tidak berkuasa untuk menyembunyikannya. Itu merupakan sebuah “api di dalam tulang belulangnya” yang harus bicara atau menulis, menurut Yeremia, atau ditelan wadah manusiawinya.

Dan untuk lebih menjelaskan hal ini, dikatakan bahwa orang-orang kudus itu sedang pheromenoi, “tergerak” atau terbawa oleh suatu aliran supernatural dan merasa bahagia luar biasa (yang tidak dapat dilukiskan) – sebuah delectatio scribendi. Untuk sekejap pun mereka tidak dapat menggunakan akalnya, kebijakannya, fantasi, ingatan atau penilaiannya sendiri untuk mengatur, menata, atau menyingkirkan, atau menghapus. Mereka hanyalah tukang mencatat yang cerdas, sadar, pasif, plastis, penurut, persis dan akurat. Mereka merupakan orang-orang yang menulis dengan tinta berbeda-beda. Mereka mewarnai karya mereka dengan warna-warni kepribadian mereka, atau lebih baik dikatakan Allah mewarnainya, setelah membuat penulis seperti tulisannya, dan penulisnya untuk tulisan yang khusus itu; dan karena karya itu mengalir melalui mereka seperti air yang dialirkan melalui pipa gelas berwarna kuning, hijau, merah, ungu, akan menjadi kuning, ungu dn hijau, dan merah.

Allah telah menulis Injil, seluruh Injil dan Injil sebagai suatu keseluruhan. Dia menulis tiap kata benar-benar seperti Ia menulis Dekalog (Sepuluh Perintah) di atas lempengan-lempengan batu.

Kritik yang lebih tinggi mengatakan kepada kita – “ Pemberangkatan Baru” mengatakan kapada kita – bahwa Musa telah di-ilhami, tetapi Dekalog tidak. Tetapi KELUARAN dan ULANGAN lebih dari tujuh kali menyatakan Allah telah merentangkan ujung jari-Nya dari Surga dan meninggalkan tanda-tanda, coretan, huruf-huruf, dan goresan di atas batu-batu itu. (Keluaran 24:12):

“.....tinggallah di sana, maka Aku akan memberikan kepadamu lem-pengan batu , yakni hukum dan perintah, yang telah Kutuliskan untuk diajarkan kepada mereka”.

“ Dan Tuhan memberikan kepada Musa, setelah Ia selesai berbicara

dengan dia di Gunung Sinai, kedua lempengan Hukum Allah,

lempengan batu, yang ditulisi oleh jari Allah”. (KELUARAN 31:18).

Lempengan-lempengan itu adalah pekerjaan Allah dan tulisan itupun adalah tulisan Allah, yang diukir di atas lempengan-lempengan itu. (ULANGAN 4:12).

“Tuhan telah berbicara kepadamu dari tengah api dan Ia menyatakan

kepadamu Perjanjian-Nya, bahkan Sepuluh Perintah-Nya dan Dia telah

menulisnya di atas dua lempengan Batu” (KELUARAN 9:10)

“Kata-kata itu telah diucapkan oleh Allah, dan Ia menulisnya pada dua

Lempengan batu, dan diberikannya kepada saya” (KELUARAN 9:10).

“Dan Allah telah memberikan kepada saya dua lempengan batu yang ditulisi dengan jari Allah”!

Tujuh kali, dan kepada orang bagi siapa menulis itu merupakan insting, bagi manusia yang terutama merasa terkesan, bukan oleh suara-suara yang menghilang, tetapi terkesan oleh kata-kata yang tetap dan tertulis, dan yang sendiri tidak dapat menahan keinginan untuk meletakkan kata-kata mereka sendiri ka atas suatu tempat. Biarpun batu atau kulit pohon jika kertas tidak mereka miliki; tujuh kali, kepada orang untuk siapa menulis merupakan suatu dorongan dan yang cenderung untuk keyakinan mereka mengandalkan apa yang mereka namakan “pembuktian dokumenter”. Yaitu buku-buku, Allah mun cul dan menyatakan “Aku telah menulis!”.

Injil apakah dengan alat menusiawi atau tanpa itu, dengan Musa atau tanpa Musa, telah ditulis oleh Allah. Ketika Allah selesai, Musa tidak harus apa-apa selain menurunkan tulisan Allah. Itulah doktrin kita. Injil – jika sepuluh buah kata, ya seluruhnya – jika hukum, lalu Injil – tulisan, Tulisan Itu, GrafikNya – Hai Graphai ungkapan-ungkapan yang telah diulang lebih dari limapuluh kali di dalam Perjanjian Baru saja – ini, inilah telah di-ilhami.

Saudara-saudara, bahaya zaman sekarang – disebut “down-grade” dari doktrin, dari keyakinan, dari perasaan moral – penurunan yang semakin tetap paten, semakin dinyatakan blak-blakan – apakah tidak menemukan tapaknya yang pertama di dalam pegangan kitayang telah hilang pada ilham Sabda Allah?

Apakah tidak ditemukan sebuah keyakinan baru di akar tiap-tiap obat yang kita inginkan, seperti ketiadaannya berada pada akar tiap kerusakan yang kita sesali.

Diterjemahkan seorang ibu, Tim Penerjemah THE FUNDAMENTALS

No comments: