Sunday, January 22, 2012

SINCIA & TRADISI TIONGHOA

"Mengapa kamu pun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu? Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu.” (Matius 15:3-4a)

Bulan Januari tahun 2012 diisi dua perayaan tahun baru yaitu Tahun Baru Masehi (1 Januari) yang dirayakan secara global mengikuti peredaran bumi mengelilingi matahari (tahun matahari), danTahun Baru Imlek (Sincia, 23 Januari ) yang dirayakan di kalangan Tionghoa/Cina mengikuti perputaran bulan mengelilingi bumi (tahun bulan). Bagaimana sikap orang Tionghoa yang telah mengaku percaya dalam menghadapi perayaan Sincia itu?

Selain orang Yahudi, tradisi/adat-istiadat orang Tionghoa terbilang tua yang dipegang secara turun-temurun oleh masyarakat Tionghoa pada umumnya dan sekalipun mereka tinggal di perantauan, umumnya masih menjalankan tradisi nenek-moyang itu secara eksklusif di China Town / Pecinan. Untuk mengetahui seluk beluk perayaan Sincia kita perlu mengetahui latar belakang budaya di Tiongkok dan bagaimana isi perayaan Sincia itu.

Tradisi Jalan Tengah
Setidaknya dikalangan Tionghoa ada lima pengaruh akar budaya yang secara turun-temurun diikuti masyarakat tradisional, yaitu: (1) animisme/spiritisme/okultisme; (2) mistik I-Ching; (3) Konfusianisme; (4) Taoisme; dan (5) Buddhisme. Tradisi Jalan Tengah yang meresap di kalangan Tionghoa menempatkan orang Tionghoa pada umumnya cenderung mencampur adukkan semua tradisi budaya secara sinkretis, dan sekalipun sudah ada tiga agama (konfusianisme, Taoisme, dan Buddhisme) yang relatif lebih muda umurnya yang mempengaruhi orang Tionghoa (tridharma), orang Tionghoa masih mempercayai kepercayaan kuno nenek moyang mereka.
(1)  Animisme/Spiritisme/Okultisme bisa dilihat dari kepercayaan yang kuat akan dunia roh terutama penyembahan roh leluhur;
(2)  Mistik I-Ching bisa dilihat dari unsur keseimbangan alam Yin-Yang yang membentuk perpaduan trigram, hexagram dst. yang digambarkan dalam skema Luo Pan yang menempatkan orang Tionghoa ke dalam kepercayaan akan nasib dengan ramalan seperti guamia dan ciamsi;
(3)  Konfusianisme (500 SM) mengajarkan etika hubungan tingkah laku terutama hormat rakyat kepada pemerintah; isteri kepada suami; anak kepada orang tua; adik kepada kakak; dan teman lebih muda kepada yang lebih tua;
(4)  Taoisme (500 SM) meneruskan tradisi I-Ching dan mendiskripsikan secara filosofis dan mistis dalam konsep ‘Tao’ yang tersurat dalam buku Tao The Ching. Dalam perkembangannya unsur okultisme kuno juga berkembang dalam Taoisme seperti pengusiran setan; dan
(5)  Buddhisme yang datang dari India yang membawa pengaruh meditasi tentang pencerahan diri.

Kelima kepercayaan itu sedikit banyak akan diikuti oleh masyarakat Tionghoa pada umumnya, dan sekalipun waktu pemerintahan Komunis tradisi budaya religi itu coba dilenyapkan, namun dikalangan generasi tua terutama yang tinggal di kawasan pedesaan dan perantauan masih secara turun-temurun diikuti sampai sekarang. Sekalipun seseorang telah masuk kristen, tradisi nenek-moyang itu tidak begitu saja hilang dan tetap dijalankan sedikit atau banyak.

Perayaan Sincia
Perayaan Sincia biasa dirayakan selama 22 hari dimulai dengan hari ke-tujuh sebelum Sincia dimana dipercaya Toa Pek Kong Dapur (dewa penunggu dapur) naik ke langit melaporkan situasi rumah tangga kepada Thian dan malam sebelum Imlek dilakukan sembahyang ‘Sam Seng’ (babi, ikan dan ayam). Pada Hari Sincia dilakukan kunjungan kepada orang tua untuk menghormat dan juga sembahyang didepan meja sembahyang nenek-moyang yang telah meninggal, pada kesempatan ini juga dibagikan Angpao yaitu uang yang dibungkus amplop berwarna merah dengan tulisan Fu/Hu. Angpao bukan sekedar dianggap hadiah namun lebih merupakan wisit yaitu jimat yang akan membawa rejeki bagi yang menerima, ini diperkuat dengan penggunaan warna merah yang mengandung arti magis keberuntungan dan Fu/Hu yang merupakan kata mantra.

Pada hari keempat setelah Sincia Toa Pek Kong Dapur kembali dari langit dan disambut dengan permainan Barongsai dan Bilekhud diiringi petasan dan tambur + simbal dengan maksud mengusir roh-roh kegelapan yang akan mengganggu, biasanya barongsai masuk ke rumah-rumah untuk mengusir roh gelap di rumah itu. Pada hari ke-lima-belas ketika bulan purnama dirayakan Cap Go Meh dengan hiasan Lampion berwarna merah dan sembayang ‘Sam Kai’ kepada langit, bumi dan manusia.

Seluruh rangkaian perayaan Sincia itu dirayakan secara komunal beramai-ramai, bahkan sekarang tradisi Barongsai sudah menghiasi acara Sincia di mal-mal dan tempat-tempat hiburan umum. Lalu bagaimana sekarang kalau seseorang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus apakah ia masih tetap mempraktekkan semua perayaan Sincia tersebut atau adakah pembaharuan hidup dalam dirinya dalam sikapnya terhadap adat-istiadat/tradisi?

Sikap Umat Kristen Tionghoa
Bahaya sinkretisme yang mendarah daging dalam etnis Tionghoa tidak mudah dihilangkan begitu saja sebab sekalipun seseorang menjadi kristen, banyak yang masih menjalankan tradisi apa adanya, namun pertumbuhan iman berangsur-angsur membawa umat Kristen Tionghoa menjauhi praktek adat-istiadat tradisi budaya leluhur yang mendukakan Tuhan. Di kalangan Tionghoa totok, tidak mudah meninggalkan tradisi turun-temurun kalau mereka menjadi kristen, namun di kalangan peranakan dan Tionghoa modern umumnya hal-hal yang berbau mistis-magis terutama penyembahan roh leluhur yang menjadi jantung budaya Tionghoa berangsur-angsur sudah tidak lagi mempengaruhi dirinya sekalipun mereka mengalami ketegangan dengan bagian keluarga besarnya yang masih kolot dan masih mempercayainya.

Merayakan Sincia adalah netral seperti halnya merayakan Tahun Baru Masehi selama hari ini mengenang kondisi nenek-moyang yang dalam situasi agraris mernyambut bulan baru dan mulai siap bercocok tanam, dan pertemuan kekeluargaan dimeja makan menjadi bagian perayaan Sincia yang baik juga diikuti. Pemberian hadiah antar anggota keluarga terutama kepada orang tua baik juga dilakukan hanya perlu ditekankan bahwa itu adalah ungkapan kasih dan syukur dan bukan wisit (benih rejeki) yang kita berikan kepada seseorang dengan Angpao, karena itu hadiah uang tidak perlu dibungkus dengan amplop warna merah dengan tulisan Fu/Hu karena itu berarti jimat.

Merayakan Sincia bisa dilakukan umat kristen Tionghoa selama unsur adat-istiadat tradisi budaya religi seperti penyembahan dewa-dewi dan roh nenek-moyang tidak kita lakukan, memasang lampion bisa saja dilakukan selama kita tidak terikat warna magis merah melainkan lampion aneka warna. Kita tidak perlu mengundang Barongsai masuk ke dalam rumah (apalagi ke dalam gereja) karena rumah umat Kristen (terlebih gereja) adalah rumah Roh Kudus maka dengan mendatangkan Barongsai pengusir roh, roh yang mana mengusir roh yang mana?

Ayat pembuka artikel ini membawa kita kepada ketaatan akan perintah Allah dan agar kita tidak lagi terikat adat-istiadat nenek moyang yang mendukakan Tuhan, demikian juga maksud baik pertemuan keluarga dihari Sincia juga merupakan perintah Allah yang wajib dilakukan umat Kristen namun dilakukan dengan hormat dan kasih terutama kepada orang tua, dengan demikian umat kristen Tionghoa bisa ikut merayakan Sincia dengan misi kesaksian Injil bahwa sebagai umat tebusan Tuhan, umat kristen tidak lagi perlu percaya akan segala permainan roh dewa-dewi dan nenek-moyang yang tidak berdaya melainkan bergantung pada iman akan Allah pencipta langit dan bumi, dan Tuhan Yesus Kristus, juruselamat manusia. ***

Salam kasih dari YABINA ministry (www.yabina.org)

SINCIA & SIMBOLISME HEWAN

Artikel berjudul ‘Sincia & Tradisi Tionghoa’ dan Artikel berjudul ‘Simbolisme Hewan Cina’ mendapat banyak tanggapan. Banyak yang memberikan apresiasi karena banyak mendapat informasi baru yang belum mereka ketahui, namun ada bebeberapa tanggapan yang masuk yang dirasa perlu didiskusikan lebih lanjut untuk melengkapi artikel yang sudah dikirimkan.

(Tanggapan–1) Kalau kita merayakan Natal dengan latar belakang kultus dewa mataharinya, bukankah kita bisa sama bebasnya merayakan Sincia dengan kultus tradisi simbolisme dewa-dewi dan hewan cinanya?
(Diskusi–1) Natal bukan pengganti perayaan dewa matahari, sebab peringatan Natal sudah terjadi sebelum kaisar Aurelius di tahun 274 meresmikan 25 Desember sebagai hari dewa Matahari. Waktu itu umat kristen memperingati pembaptisan oleh Yohanes, kunjungan Orang Majus dan sekaligus kelahiran Yesus sebagai hari Epifani pada tanggal 6 Januari. Pada tahun 325, kaisar Konstantin yang menjadi Kristen berusaha mengalihkan orang Romawi dari perayaan dewa matahari maka perayaan Natal Januari digeser menjadi tanggal 25 Desember agar umat romawi tidak lagi merayakan hari dewa matahari melainkan hari Natal lambang matahari kebenaran. Perayaan minggu Saturnalia sebelum 25 Desember yang merupakan rangkaian perayaan dewa Matahari tidak dirayakan lagi. Ini berbeda dengan merayakan ‘Imlek’ karena orang Tionghoa/Cina  cenderung menerima begitu saja apa yang ada dalam perayaan Imlek yang sudah mendarah daging dan sudah diikuti secara turun temurun.

(T–2)   Bukankah orang yang percaya sama Yesus mestinya tidak lagi percaya dengan roh-roh semacam itu (dewa & hewan)sehingga bila acara2 semacam itu diadakan...  tidak berarti dan berpengaruh apa2 baginya. Jadi tidak perlu berhati-hati lagi berkaitan dengan yang dipercayai orang lain. kita sudah ditebus dan harganya mahal... mengapa masih harus berhati-hati untuk mengikuti perayaan Imlek?
(D–2) Seorang kristen seharusnya menerima kenyataan adanya roh-roh diudara yang mengganggu hidup manusia dalam hubungan dengan Allah yang Esa. Yesus dalam menghadapi setan hanya mengusirnya tetapi tidak meniadakannya dan mengajar kita berdoa agar ‘dijauhkan dari yang jahat,’ demikian juga dalam kaitan dengan ‘berhala,’ Rasul Paulus mengatakan ada banyak ‘allah’ (ilah) dibumi tetapi hanya ada satu ‘Allah,’ pencipta langit dan bumi dan pemberi hidup (1Kor.8; band. Efs.6:11-12). Yang benar adalah bahwa mereka yang kuat imannya, apa yang ada dalam dirinya (Roh Kudus) lebih besar dari roh-roh didunia ini, namun seberapa banyakkah orang yang imannya kuat? Bukankah banyak orang kristen lemah imannya yang mudah dipengaruhi oleh roh-roh diudara? Karena itulah kita yang kuat harus berhati-hati agar tidak menjerumuskan yang lemah. Rasul Paulus mengingatkan: “Tetapi jagalah, supaya kebebesanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah” (1Kor.8:9).

(T–3)   Bukankah yang mesti dipikirkan adalah iman saudara-saudara Kristen lain yang lemah... yang melihat tradisi semacam ini sebagai mengancam .... kalau itu menjadi batu sandungan sebaiknya tidak diikuti... bukan karena adanya roh-roh yang terlibat dalam perayaan... tetapi karena memerhatikan iman saudara yang masih lemah....
(D–3) Benar, Paulus juga mengingatkan bahwa kita harus memikirkan iman mereka yang lemah, tapi bukan karena ‘roh tidak ada’ melainkan karena sadar bahwa ‘roh-roh itu memang ada dan tetap ada sekalipun kita masuk iman,’ namun bagi yang kuat iman roh itu tidak berpengaruh tapi bagi iman yang lemah roh itu bisa berpengaruh buruk, apalagi kalau kita mengadakan Imlek di rumah atau gereja dimana keluarga yang belum beriman ikut diundang, mereka masih percaya dan dengan adanya simbolisme yang diterima masuk ke dalam rumah orang kristen dan gedung gereja mereka lebih diperkuat lagi mempertahankan tradisi penyembahan roh yang mereka sudah percayai secara mendarah-daging dan turun-temurun itu.

(T–4) Cukup banyak kalangan gereja2 Pentakostal dan Kharismatik menyebarkan ajaran yang menimbulkan 'antipati' dari kalangan non-Kristen. Khususnya yang dengan tidak bijaksana mencap segala "simbol" dari tradisi Tionghoa yang tidak mungkin dibuang begitu saja. Misalnya: gambar2 yang bertulisan huruf Tionghoa yang artinya memang bagus. Misalnya: Damai sejahtera, Berkat, dls. Juga gambar2 misalnya: Singa/Barongsai, Naga, Ular, termasuk juga segala lukisan, guci, dan berbagai barang antik, bahkan photo2 piknik yang diambil di sekitar tempat ibadah non-Kristen juga diminta dibakar... Katanya ada setannya lalu minta dibakar dalam nama Yesus...
(D–4) Secara praktis cara ‘bumi hangus’ itu memang lebih mendatangkan syak daripada penyadaran, namun secara prinsip tidak juga bisa disalahkan sekalipun jangan menyamaratakan semuanya begitu karena banyak juga simbol-simbol yang tidak dipuja dengan hio sehingga menyebabkan hadirnya roh-roh jahat diudara dalam obyek penyembahan itu (Barongsai dan Liong biasa disimpan di klenteng dengan dibakari hio). Bila kita mempelajari sejarah animisme dan okultisme, kita dapat mengetahui bahwa timbulnya penyembahan berhala itu semula adanya obyek atau simbol yang disembah. Obyek/simbol yang terus-menerus disembah itu menarik roh-roh diudara untuk menungganginya dan menyatakan dirinya dalam obyek/simbol itu seperti misalnya gunung, gua, pohon, batu besar, patung, dan simbol-simbol lainnya seperti hewan atau kata-kata sehingga obyek/simbol itu menjadi keramat, berkhasiat, dan mendatangkan kekuatan magis. Sebagai contoh ‘Huruf-huruf Fu (Hu)’ yang dalam terjemahan Alkitab Tionghoa digunakan untuk menerjemahkan kata ‘berkat,’ sekalipun arti katanya sama, namun kandungannya beda. ‘Fu’ dalam Alkitab Tionghoa lebih menggambarkan berkat yang dijanjikan kepada umat manusia yang beriman, sedangkan ‘Fu’ dalam simbolisme Cina dianggap sebagai ‘jimat atau mantra’ yang dalam dirinya memiliki kekuatan magis. Simbol ‘Naga’ dalam Alkitab menunjukkan gambaran mengenai ‘Iblis si jahat’ namun simbol ‘Naga’ dalam simbolisme hewan cina dalam dirinya memiliki kuasa pengusir roh dan mendatangkan keberuntungan, itulah sebabnya biasa sepasang patung ‘Barongsai’ dipasang di pintu masuk gedung (bank) agar roh jahat tidak masuk ke gedung itu atau orang Tionghoa memasang gantungan simbol Liong di pintu masuk rumahnya.

(T–5)   Hal-hal spt diatas menimbulkan 'permusuhan' dengan mereka yang belum percaya dan menghambat komunikasi Injil kepada mereka. Saya yakin bila kita sudah percaya, Roh Kudus yang didalam kita lebih besar dari roh manapun, dan tidak perlu takut, atau alergi, atau 'menjadi bodoh' hingga memusuhi dan sembarang membakar hal-hal yang dianggap/ditakuti ada setannya.
(D–5) Memang menyamaratakan semua benda, simbol, dan barang antik mengandung roh jahat tidak bijaksana apalagi kalau dilakukan didepan orang bukan Kristen, namun secara terbatas memang ada simbol-simbol kepercayaan tertentu yang dianggap sebagai jimat/mantra dan ini perlu dibakar untuk memusnahkan kekuatannya, sebab kalau tetap disimpan oleh umat kristen, hal itu menduka-citakan Roh Kudus. Tidak semua keris, simbol binatang atau barang antik mengandung roh jahat sehingga harus dibakar semua kecuali yang dijadikan obyek penyembahan/jimat. Penulis pernah mengunjungi rumah dimana kepala keluarga mengalami penyakit aneh yang parah dan sudah berulang-kali masuk rumah sakit dan tidak sembuh-sembuh. Ketika memasuki rumahnya terlihat ruangan itu suasananya gelap dan terasa menyeramkan, di dinding yang warnanya gelap digantung keris keramat termasuk patung-patung kuno dan pedang perang yang dulunya sudah mengalirkan darah banyak orang. Tidak lain yang bisa dilakukan seorang pembimbing rohani selain mengajaknya berdoa yaitu menasehati agar barang-barang antik tertentu yang mencurigakan yang dijadikan jimat disingkirkan dan agar tidak mempengaruhi orang lain baik juga kalau dibakar. Ada hamba-hamba Tuhan tertentu yang memang dikaruniai Tuhan membedakan roh yaitu mana benda antik yang berpenghuni dan mana yang tidak. Sudah tiba saatnya para hamba Tuhan mulai berhati-hati menghadapi kuasa kegelapan yang belakangan ini gencar menyesatkan umat kristen.

Akhirnya . . .
Johanes Verkuyl yang menulis seri buku etika yang klasik menulis bahwa dalam mengambil keputusan etika kita harus berhati-hati untuk tidak terseret pada ekstrim ‘libertinisme’ (kebebasan) maupun ‘farisiisme’ (keterikatan) melainkan menguduskan semua tindakan etis kita dengan Firman Tuhan.
Demikianlah, marilah kita menghadapi masalah etika dengan berhati-hati, tidak ekstrim menolak, juga tidak menerima begitu saja melainkan menerima apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

SIMBOLISME HEWAN CINA

“… bagi orang-orang Cina kuna sejak zaman Dinasti Hsia desain-desain hewan itu tidaklah tanpa makna karena bagi mereka desain-desain tersebut mempunyai arti penting magis yang berasal dari peran utama mereka sebagai pembawa berita dunia roh.” (Ong Hean Tat, Simbolisme Hewan Cina, hlm.10).

Masyarakat Tionghoa/Cina kuno mempunya kepercayaan bahwa baik manusia maupun hewan setelah mati rohnya masih tetap hidup di langit dan roh itu memiliki kekuatan yang dapat mempengaruhi hidup manusia di bumi. Kepercayaan ini disebut ‘Animisme/Spiritisme.’

Semula, hewan-hewan itu hanya digunakan untuk menamai ke-12 cabang bumi yang digambarkan sebagai simbol shio dan juga ke-5 tangkai langit, namun dalam perkembangannya simbol-simbol yang dibuat manusia itu kemudian dijadikan obyek penyembahan dan ujung-ujungnya dipercayai memiliki kekuatan magis menghubung dunia roh yang dapat mempengaruhi manusia.

Hewan – Hewan S h i o
Semula orang Tionghoa kuno mengikuti penanggalan berdasarkan peredaran bulan (lunar calendar) yang dibagi ke dalam 12 bulan dengan panjang sekitar 29,5 hari perbulan dan dinamakan zhengyue (bulan utama), eryue (bulan kedua), sanyue (bulan ketiga) sampai bulan shi’eryue (bulan keduabelas), namun sejak kaisar Hsia, karena penamaan itu dianggap menyulitkan maka dicarilah nama hewan sebagai simbol nama bulan maka ia mengundang hewan-hewan untuk berlomba menyeberangi sungai.

Tikus adalah hewan cerdik yang semula berteman dengan kucing dan mengelabui kerbau yang bisa berenang agar bekerjasama mencapai seberang dengan catatan tikus menjadi penunjuk arah karena matanya lebih tajam daripada kerbau. Mendekati seberang tikus ternyata licik dan mendepak kucing sehingga kucing tenggelam tidak masuk penanggalan dan tikus melompat lebih dahulu keseberang meninggalkan kerbau yang menjadi nomor dua. Demikianlah ceritanya maka Tikus dianggap simbol nama bulan pertama, disusul kerbau, harimau, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, kera, ayam, anjing sampai babi yang keduabelas. Nama-nama itulah yang kemudian dijadikan nama-nama Shio dalam kalender Tionghoa. (Kucing tidak masuk karena mati tenggelam dan sejak itu kucing bermusuhan dengan tikus).

Legenda lain menyebutkan bahwa di malam tahun baru, Buddha mengundang hewan-hewan untuk makan bersama, yang datang pertama adalah tikus, kemudian disusul kerbau, harimau, kelinci, naga dan yang keduabelas yang terakhir yaitu babi.

Kekuatan Magis Simbol Hewan
Sejak masa dinasti Hsia simbol hewan bukan saja dijadikan nama bulan namun lama-kelamaan menjadi obyek penyembahan dan dipercayai memunyai daya magis sebagai perantara dunia roh. Ong Hean Tat dalam buku hasil studinya yang mendalam tentang Simbolisme Hewan Cina (Megapoin, Jakarta, 1996) menyebutkan bahwa:
“Dalam pemujaan dan dalam upcara-upacara magis yang terdapat dalam kebudayaan-kebudayaan religi, banyak bentuk simbol dianggap mempunyai daya misterius yang mempengaruhi orang. Daya ini adalah daya magis.” (hlm. 5)
“Simbol-simbol religi juga bisa ampuh karena simbol-simbol ini dalam dirinya mempunyai kemampuan untuk mengundang roh dan memerintah roh tersebut.” (hlm.6)

Jadi, ke-12 simbol hewan bukan saja hanya dijadikan nama 12 shio/zodiak melainkan lebih dari itu dipercayai sebagai memiliki kekuatan magis yang mempengaruhi manusia yang dilahirkan dibawah simbol hewan tersebut. Penanggalan Tionghoa berulang setiap 60 tahun sekali, yaitu 12 shio dikalikan 5 unsur Tangkai Langit yaitu Naga (Timur), Finiks (Selatan), Bumi (Pusat),Harimau (Barat) dan Kura-kura/Ular (Utara).

“Seorang rahib Tao akan mengundang kekuatan-kekuatan Langit atau roh lewat Hewan-hewan Perlambang namun ia juga harus mengakui kekuatan-kekuatan di Bumi yang dilambangkan oleh Dua belas Hewan Zodiak, yang secara khusus mencerminkan sifat-sifat khas seseorang.” (hlm. 24)
“Upacara-upacara magis Tao yang paling penting, yang mengikuti urut-urutan Lo-Shu, terdiri dari kemampuan untuk mengundang datang kekuatan yang dipunyai Jenderal-Jenderal Roh ini dan upcara-upcara tersebut menunjukkan bahwa Unsur Pakua-Empat Hewan Perlambang merupakan hakekat daya-daya supranatural.” (hlm. 28).

Hewan-hewan itu, yang utama yang digunakan dalam perayaan Sincia/Imlek adalah Barongsai dan Naga yang diarak dalam tarian. Barongsai dan Naga memiliki kesamaan sebagai penjaga dunia roh dan sebagai pengusir roh-roh jahat. Naga bertujuan melindungi raja/istana dan gedung-gedung umum dalam menghadapi kuasa-kuasa jahat, sedangkan barongsai masuk ke rumah-rumah untuk mengusir roh jahat dari kamar-ke-kamar sehingga rumah itu memperoleh rejeki/keberuntungan/keselamatan.

Akhirnya . . .
Sehubungan dengan kuasa dunia roh dalam tarian yang dilambangkan sebagai hewan Barongsai dan Naga, umat kristen agar waspada untuk tidak sembarangan mengundang kedua simbol itu masuk ke rumah apalagi masuk ke gedung gereja. Seperti kita ketahui dan percayai, rumah orang kristen adalah rumah dari orang-orang yang menjadi rumah Roh Kudus, demikian juga gedung gereja adalah rumah Allah dimana Roh Allah hadir. Karena itu, dengan mengundang kedua simbol hewan itu kita patut bertanya: “Lalu roh mana yang akan mengusir roh yang mana?”

Semoga artikel ini membawa kehati-hatian bagi umat kristen yang kebetulan berhubungan dengan perayaan Sincia/Imlek.***

19 comments:

papa&mama said...
This comment has been removed by a blog administrator.
papa&mama said...

yg bilang sin karena tdk ngerti ,yg mengerti jd muliatisme ... artikel diatas dalam cerita tradisi betul tapi dalam makna salah , jd tradisi itu bukan sin tapi muliatisme ... kalu kesimpulan bagi yg maksa itu sin,yah apa kata dunia ? tapi paksa dan kesimpulan sepihak adalah menjadi sin sebenarnya ,karena memaksa dan sepihak adalah sifat milik sin ... wkwkwk

Anonymous said...

sin adalah kata yg diciptakan oleh orang picik bukan orng suci,bijak atau yesus , sin adalah kata yg berbahaya dan sering digunakan orng haus kekuasaan untuk meojokan kaum yg berbeda dan menindas minoritas ,kalu dengan mata bijak kata sin berdifinisi sesuai dengan penggunanya untuk bebuat sin wkwkwkk kata sin lebih sering dijadikan alat memojokan daripada menyadarkan ,karena kata sin mengandung sifat sampul bukan makna ! bagi ajaran bijak yg disampul dgn kata sin secara sepihak ,berarti yg menyampulnya sedang berbuat sin wkwkwk karena memiliki sifat fitnah dan pemaksaan yg menganiaya = sin ... kadangkala yg menyebut ajaran lain sin adalah sin yg sesungguhnya wkwkwkwk

Anonymous said...

kalo loe ga ngerayain sincia ya loe ga usah comment macem2....

Anonymous said...

eitzzz sesama kristen berdebat ni…
klo injil itu indah apa ada yg hafal 1 kitab..
mustahil….. paus aja sy ykin ndk hafal smua…
apa ada kompetisi mmbaca injil.
ndk ada….
coba kalian liat Quran bocah 7 thun bsa hafal semua…
kira2 knapa bisa gitu ya?
coba drenungi…..

Anonymous said...

kesian sama leluhurnya sdr Dede wijaya ,apes dpt keturunan begini ,tau dikit ngomong banyak ( toa pek kong bukan dewa dapur ),sudahlah engak usah menghasut orang ,engak usah terlalu fanatik ,yg penting tingkah laku sehari-hari ,jaman sekarang bukan seperti jaman dulu orang gampang dibodohin. Angpao ya angpao bukan jimat ,jgn suka mengambil kesimpulan kalau tidak paham ,byk tempat ibadah yg dirusak oleh org2 karena anda tidak bisa menjaga SEBAB (suka menjelekkan tradisi/agama org lain )kapan sdr2 sekalian bisa SADAR !!!

Anonymous said...

Anonymous said...
eitzzz sesama kristen berdebat ni…
klo injil itu indah apa ada yg hafal 1 kitab..
mustahil….. paus aja sy ykin ndk hafal smua…
apa ada kompetisi mmbaca injil.
ndk ada….
coba kalian liat Quran bocah 7 thun bsa hafal semua…
kira2 knapa bisa gitu ya?
coba drenungi….
----------------------------------
ngapain khatam quran berjuta-juta kali tapi ga tau artinya.bagaimana mau memahami artinya saja tidak tahu

Anonymous said...

semua agama mengajarkan kebaikan,skrg bagaimana manusia menjalankan dan menerapkannya,jangan melecehkan agama yg bukan kepercayaan anda, krn anda pasti marah jika ada yg melecehkan kepercayaan anda,semoga semua mahluk berbahagia

Anonymous said...

UR: perhatikan bahwa Abraham bukan saja Bapak Orang Percaya tetapi juga BAPAK FENGSHUI. Ini tertulis jelas dalam kultur alkitab!

http://www.guiculture.com/fs08biblefs3.htm

memandang rendah kultur Tiong Hwa tetapi meninggikan kultur bangsa lain? Ternyata masih urusan Fengshui juga toh? Hahaha.

Sent from Heaven.

Anonymous said...
This comment has been removed by a blog administrator.
robert sudirga said...
This comment has been removed by the author.
robert sudirga said...
This comment has been removed by the author.
Rusli Chen said...

Ada 2 jenis penginjilan dlm kalangan Tionghua :

1.Cara keras terkesan Fanatik, orang type seperti ini tdk perduli jika keutuhan keluarga atau Hubungan Pertemanan retak, yg penting adalah Jesus is real God.

2.Cara Fleksibel lewat pendekatan secara kekeluargaan sehingga Kasih Kristus tercermin dalam penginjilan nya.

Ilustrasi: Dalam Ilmu Kungfu ada 2 jenis Ilmu yaitu yg keras seperti Shaolin & ada juga Ilmu kungfu yg Lemah lembut seperti Taichi dari Butong.

Menurut saya ke 2 Cara tsb sama Efektif nya jika diterapkan dalam situasi yg diperlukan pada saat penginjilan. tetapi jika kita hanya meguasai satu jurus maka kadang-kadang bisa menimbulkan masalah dalam pelayan.

Contoh kasus :
Seorang pemuda yg sdh dibaptis menolak ketika diminta oleh orang tua nya membersihkan Hio lo (Abu dari dupa) pada meja leluhur menjelang Imlek, bahkan beradu keyakinan yg berahkir dgn pertengkaran bahkan diusir oleh Orang tuanya. Akhir nya pemuda tsb mengangkat Koper & pergi kpd Mentor Kristen yg mengajarkan bhw tdk boleh ada Allah lain dihadapan nya. tetapi mentor tsb menolak memberi tumpangan ketika terjadi masalah yg timbul dari ajaran tsb sehingga sang pemuda kecea & kembali kpd kepercayaan yg lama.

Menurut Pendapat saya :
Sebaiknya Pemuda tsb taat mengerjakan perintah Ortu nya dgn sikap membersihkan abu Hio lo sambil mengusir roh yg ada pada Hio lo serta menghancurkan kuasa Roh tsb dalam nama Yesus.

Kita hrs ingat ketika seseorang memuji menyembah Allah maka Allah akan hadir di rumah tsb. Dan Kehadiran Allah akan membuat segala roh - roh lain ketakutan & meninggalkan rumah tsb.

Salam Penginjilan.

tony chai said...

selamat siang pak dedi wijaya ... nama saya tony chai, saya bersedia memberikan (bantuan) banyak informasi dan pengetahuan mengenai chinese culture, baik mengenai perayaan besar dalam tradisi dan budaya tionghua, sehingga kerinduan dan beban bapak dalam melaksanakan lebih efektif dan efisien. Terima kasih

mohon maaf ya sdr. anonymous ... saya salah klik ...

Anonymous said...

Ini menurut pendapat dan pengetahuan saya. Tuhan Yesus juga mengikuti adat istiadat Yahudi, tidak ada yg salah dengan budaya. Silahkan saja tionghoa kristen merayakan imlek, karena itu tahun baru tionghoa. Silahkan saja menggunakan dupa untuk berdoa, karena itu tradisi tionghoa. Tapi ingat tujuan berdoa itu kepada Tuhan Yesus. Dalam kristen adat dan budaya itu sejalan, selama tujuan adat itu untuk melestarikan kebiasaan budaya tidak ada masalah, tapi harus juga diingat setiap kegiatan adat budaya itu persembahkanlah kepada Tuhan Yesus. Selamat Imlek

Anonymous said...

Tentang ramalan tahun baru misalnya monyet api. Dalam ajaran Kristen tidak mengenal ramalan, silahkan tionghoa kristen merayakan imlek, tapi tempat Tuhan Yesus sebagai sumber pengharapan. Tidak boleh ramal-meramal. Begitu juga setelah imlek ada jiarah kubur, silahkan kristen tionghoa melakukan kegiatan itu tapi tunjukkan bakti tionghoa kristen dengan tindakan bersihkanlah kuburan orangtua, lalu berdoalah kepada Tuhan Yesus. Silahkan pergunakan dupa atau hio untuk berdoa, dupa hanya alat, silahkan lakukan adat istiadat tionghoa, itu bisa sejalan dengan ajaran kristen. Barongsai, lampion, gunakan semua jangan takut-takut, Tuhan Yesus adalah Tuhan yg baik, Tuhan Yesus datang untuk semua suku bangsa di dunia, Selamat Imlek.

Anonymous said...

Saya berikan penjelasan tentang meja leluhur, abu leluhur. Dalam Kristen mengenal ajaran hormatilah orangtuamu. Jika dalam adat istiadat tionghoa kristen orang yg sudah meninggal di kremasi lalu di letakkan di kendi. Lalu ada meja untuk menghormati leluhur. Tuhan Yesus juga menghormati orangtuanya menurut adat istiadat Yahudi, apa bedanya dengan budaya tionghoa. Menurut pengetahuan saya, lakukan jika disuruh atau ingin membersihkan meja leluhur. Lalu pertanyaannya bolehkan memberi hormat ke abu leluhur. Silahkan, gunakan dupa/hio tidak ada masalah, sebagai rasa hormat kita kepada leluhur orangtua yg sudah meninggal, tapi berdoalah menurut ajaran kristen, persembahkanlah doa untuk berkat yg telah diberikan Tuhan Yesus, budaya dan ajaran kristen itu sejalan, jangan takut dihakimi orang munafik, mereka yg menghakimi itu seperti orang buta menuntun orang buta. Inti ajaran kristen itu kasih, kasihilah sesama manusia, hormatilah ayah dan ibumu. Ingat segala budaya adat istiadat yg dilakukan tionghoa kristen wajib dipersembahkan buat Tuhan Yesus.

Anonymous said...

Saya tadi baca larangan mengundang barongsai apalagi ke gereja. Alasannya gereja tempat kudus, barongsai tujuannya mengusir roh, sedangkan di gereja pendeta juga mengusir roh. Seperti saya bilang tolong bedakan budaya dengan kepercayaan. Itu kepercayaan konghucu tentang barongsai. Tapi sebagai orang percaya Tuhan Yesus, maka barongsai tidak lebih sebagai alat budaya yg tidak memiliki arti apapun selain perayaan. Silahkan saja barongsai masuk gereja, disini saya akan jelaskan seperti perumpamaan garam. Perayaan imlek seperti air yg mendidih diatas perapian, begitu meriah, sangat diinginkan. Lalu datanglah garam putih halus, masuk. Inilah ajaran Kristen. garam ini tidak merubah warna, boleh merayakan imlek, boleh jiarah kubur, tapi kristen merubah rasa seperti garam. Rasanya harus sesuai dengan firman Tuhan Yesus. Jangan lagi hambar dengan menyembah dewa-dewi, tapi begitu Tuhan Yesus masuk jadi penyelamat orang tionghoa maka saat itu jugalah rasa keimanan kristen tionghoa harus memuji dan memuliakan Tuhan Yesus dalam adat istiadat budayanya. Selamat Imlek

Anonymous said...

Saya mau menjelaskan tentang ayat alkitab diatas, ayat ini ayat yg digunakan untuk menentang budaya adat biasanya digunakan gereja pentakosta atau kharismatik. Seperti GBI, dll. Alasan gereja ini menentang adat budaya karena budaya adat itu termasuk produk orang yg tidak mengenal Tuhan. Saya tidak mau membahas doktrin gereja ini karena ada ribuan orang diluar sana yg sakit hati jika saya bantah doktrin ini disini. Saya hanya mau membahas tentang ayat diatas yg katanya menentang budaya. saya jelaskan dengan poin-poin. 1. Ketika Tuhan Yesus berkata itu ada orang Farisi dan ahli taurat yg pintar menjebak orang. 2. Saat itu keadaannya sangat berbeda, budaya Yahudi itu sangat dekat dengan ajaran agama yahudi, jadi ketika membasuh tangan pun bisa dianggap mengikuti agama yahudi, saat itu juga sedikit saja salah maka mulut orang farisi bisa sebarkan berita bohong ke semua penjuru. 3. Dalam Matius 15 ayat 11 ditulis artinya begini bukan adat istiadat budaya yg menajiskan orang, tapi tujuan kepada dewa dewi itu yg menajiskan orang. Jadi silahkan lakukan adat istiadat tapi dipersembahkan kepada Tuhan Yesus. 4. Tuhan Yesus katakan orang buta menuntun orang buta, artinya itu adat istiadat itu orang buta, pelakunya harus bisa melihat kebenaran. Orang tionghoa harus percaya Tuhan Yesus, tuntunlah budaya adat istiadat itu menurut ajaran Tuhan Yesus, maka Tuhan Yesus akan menjadi raja orang Tionghoa yg terakhir. 5. Lalu ada perumpamaan tentang hati, Matius 15 ayat 18 artinya itu fisik budaya, adat istiadat itu tidak menajiskan orang tionghoa dimata Tuhan Yesus, tapi ketika sumber adat istiadat itu berasal dari hati manusia, perasaan manusia bahwa adat istiadat itu untuk orangtua leluhur, untuk dewa-dewi yg kenyataannya hanya bersumber dari perasaan hati manusia itu bukan dari Tuhan Yesus, itulah yg Tuhan tidak sukai. Sudah jelaskan saudaraku tionghoa, nantilah aku buatkan aturan ajaran Kristen biar semua bangsa mengerti, nanti aku buat bukunya. 5 tahun lagi aku usahakan terbitkan. Percayalah Tuhan Yesus itu baik, terima kasih buat pemilik blog yg sudah menyediakan tempat untuk menjelaskan adat istiadat tionghoa. Shalom Tuhan Yesus memberkati. Selamat Imlek