Saturday, March 29, 2008

Doktrin Allah Tritunggal

Doktrin Allah Tritunggal atau Trinitas merupakan doktrin yang sukar dan membingungkan kita. Kadang-kadang orang Kristen dituduh mengajarkan pemikiran yang tidak masuk akal (logika), yaitu 1+1+1=1. Ini merupakan pernyataan yang salah. Mengapa tidak memakai formula 1x1x1=1 atau 1:1:1=1? atau (1 Pribadi Bapa yang tak terhingga) ~ + (1 Pribadi Firman/Yesus yang tak terhingga) ~ + (1 Pribadi Roh Kudus yang tak terhingga) ~ = (1 Tuhan yang tak terhinggal) ~ . Istilah Trinitas bukan menjelaskan relasi dari Tiga Allah (ini yang sering dikatakan oleh sekte Unitarian kepada Orang Kristen). Tritunggal bukan berarti triteisme, yaitu di mana ada tiga keberadaan yang tiga-tiganya adalah Allah. Kata Trinitas dipergunakan sebagai usaha untuk menjelaskan kepenuhan dari Allah, baik dalam hal keesaan-Nya maupun dalam hal keragaman-Nya.



Formulasi Trinitas yang telah dikemukakan dalam sejarah adalah Allah itu satu esensi dan tiga Pribadi. Formula ini memang merupakan suatu hal yang misteri dan paradoks tetapi tidak kontradiksi. Keesaan dari Allah dinyatakan sebagai esensi-Nya atau keberadaan-Nya, sedangkan keragaman-Nya diekspresikan dalam Tiga Pribadi. Istilah Trinitas sendiri tidak terdapat dalam Alkitab, namun konsepnya dengan jelas diajarkan oleh Alkitab. Di satu sisi, Alkitab dengan tegas menyatakan keesaan Allah (Ulangan 6:4). Di sisi lain, Alkitab dengan tegas menyatakan keilahian tiga pribadi dari Allah: Bapa, Anak dan Roh Kudus. Gereja telah menolak ajaran-ajaran bidat modalisme dan triteisme. Modalisme adalah ajaran yang menyangkali perbedaan Pribadi-Pribadi yang ada di dalam keesaan Allah, dan menyatakan bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus hanyalah merupakan tiga cara Allah di dalam mengkspresikan diri-Nya. Di pihak lain, Triteisme mengungkapkan pernyataan yang salah, yaitu ada tiga keberadaan yang menjadi Allah.

Istilah Pribadi sama sekali tidak berarti adanya perbedaan di dalam esensi, tetapi perbedaan di dalam subtansi dari Allah. Substansi-substansi pada diri Allah memiliki perbedaan yang nyata satu dengan yang lain tetapi tidak berbeda secara esensi, dalam arti suatu keberadaan yang berbeda satu dengan yang lain.setiap Pribadi berada ”di bawah” esensi Allah yang murni. Perbedaan substansi ini berada dalam wilayah keberadaan, bukan suatu merupakan suatu keberadaan atau esensi yang terpisah. Semua pribadi pada diri Allah memiliki atribut ilahi.

Setiap Pribadi di dalam Trinitas memiliki peran yang berbeda. Karya keselamatan dalam pengertian tertentu merupakan pekerjaan dari ketiga Pribadi Allah Tritunggal. Namun, di dalam pelaksanaannya ada peran yang berbeda yang dikerjakan oleh Bapa, Anak dan Roh Kudus. Bapa memprakarsai penciptaan dan penebusan; Anak menebus ciptaan; dan Roh Kudus melahirbarukan dan menguduskan, dalam rangka mengaplikasikan penebusan kepada orang-orang percaya.

Doktrin tritunggal tidak menunjukkan bagian-bagian atau peran-peran dari Allah. Analogi manusia yang menjelaskan seseorang yang adalah seorang ayah, seorang anak, dan seorang suami tidak dapat mewakili misteri dari natur Allah.

Doktrin Tritunggal tidak secara lengkap menjelaskan tentang karakter Allah yang bersifat misteri. Sebaliknya, doktrin ini memberikan perbatasan yang tidak boleh kita langkahi. Doktrin ini menjelaskan batas pemikiran kita yang terbatas. Doktrin Tritunggal menuntut kita untuk setia pada wahyu ilahi yang menyatakan bahwa dalam satu pengertian Allah adalah esa dan dalam pengertian lain Dia adalah tiga.

1. Doktrin Tritunggal meneguhkan kesatuan Allah di dalam tiga pribadi

2. Doktrin Tritunggal bukan merupakan suatu kontradiksi; Allah memiliki satu esensi dan tiga pribadi.

3. Alkitab meneguhkan baik keesaan Allah dan keilahian dari Bapa, Anak dan Roh Kudus.

4. Ketiga pribadi di dalam Tritunggal dibedakan melalui karya yang dilakukan oleh Bapa, Anak dan Roh Kudus.

5. Doktrin Tritunggal memberikan batasan kepada spekulasi manusia tentang natur Allah.

1 Petrus 3:15

Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat.

3 comments:

Petrus HB & rekan said...

...bahwa dalam satu pengertian Allah adalah esa dan dalam pengertian lain Dia dalah tiga. Ya kalo DiA ESA ya jelas lebih besar daripada Anak Allah.

Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!(1 Pet. 3:15). Kata Tuhan di sini adalah Lord (bukan God)

Kenapa kalian begitu dungu ? Dan terlalu mudah menuduh sesat hanya karna beda istilah atau penjelasan padahal intinya sama aja !

Anonymous said...

Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah satu kesatuan yg tak terpisahkan di dalam Satu Pribadi yaitu Yesus Kristus. Dlm Mat 28:19 tidak dikatakan dalam nama Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus yg jelas menggambarkan 3 pribadi (Allah). Yg benar adalah 1 Oknum/Pribadi yg terdiri dr 3 Kepribadian/Peran. Contoh paling mudah ya manusia. Kita semua adalah 1 pribadi yg terdiri dr Tubuh, Jiwa dan Roh. Pria yg sdh berumah tangga berperan sbg Suami, Ayah dan Kepala RT atau jg sbg Imam, Nabi dan Raja (Pemimpin). Semua itu adanya 1 pribadi bukan terpisah jadi 3 pribadi sendiri-2.
Demikian hikmat yg sy peroleh dr Tuhan (sy sblmnya jg bingung sampai sy bergumul dlm doa mengenai hal yg sulit tsb). Semoga bisa jd berkat. JBU

Anonymous said...

Jangan kita terperangkap dengan menilai Allah agar dapat disesuaikan dengan logika manusia. Dalam Alkitab PL dan PB secara tersirat Allah telah menyatakan dirinya dengan Bapa, Firman Allah (Yesus) dan Roh Allah (Roh Kudus). Trinitas adalah konsep yg sesuai untuk menggambarkan Allah yg jauh melebihi logika manusia.

Trinitas adalah doktrin (pengajaran) Kristen mengenai ketirtunggalan Allah. Kata 'trinitas' memang tidak ada (disebutkan secara eksplisit) dalam Perjanjian Baru, namun kita dapat memahami istilah trinitas ini dengan sangat jelas sekali pada peristiwa pembabtisan Yesus di sungai Yordan (Mrk.1: 9-11), hubungan Yesus dengan Allah Bapa dan Roh Kudus (Yoh.14: 7-10 dan Yoh.16: 13-14) dan perintah terakhir Yesus (Mat.28: 19). Konsep trinitas ini akhirnya dirumuskan pada Konsili Nicea tahun 325 M. Istilah trinitas dihasilkan oleh bapa-bapa gereja mula-mula untuk melawan doktrin-doktin bidat Gnostik. Allah yang Esa dinyatakan sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus, kesemuanya adalah Allah tetapi setiap oknum dibedakan tersendiri.



Allah bersifat jamak, tetapi Ia juga bersifat tunggal (satu). Kata Ibrani untuk 'satu' yang digunakan di sini dan berlaku bagi Allah adalah echad. Kata ini menunjukan kesatuan dengan elemen-elemen komponen. Dalam Kejadian 2: 24 , kata yang sama, echad, digunakan lagi: "Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu [echad] daging." Kata 'echad' yang digunakan disini bukanlah kata untuk kesatuan yang mutlak tidak dapat dibagi, yaitu yachid. Kata Ibrani yang digunakan dalam ayat ini, echad, berlaku bagi pernikahan. Ini menggambarkan suatu kesatuan yang terdiri dari dua pribadi yang berbeda dipersatukan. Namun, dalam pemwahyuan Allah yang alkitabiah, bukan dua, melainkan tiga Pribadi yang disatukan untuk menghasilkan kesatuan (Esa), yaitu kesatuan di mana juga ada kemajemukan.



Jadi, orang Kristen menyembah Tuhan yang Esa (monoteisme) bukan banyak tuhan (politeisme) dan pernikahan Kristen adalah pernikahan monogami bukan poligami. Pada masa jemaat mula-mula, orang-orang Yahudi menuduh kalau orang Kristen telah meninggalkan monoteisme karena menyembah Yesus dan agaknya pemikiran yang sangat keliru ini tampaknya juga melekat pada orang-orang Muslim.

sumber: http://faithbookz.blogspot.com