Monday, December 29, 2008

CARA BAPTIS PERCIK ATAU SELAM?

Apakah yang harus menjadi cara baptisan? Tak perlu diragukan bahwa Perjanjian Baru mengajarkan bahwa orang-orang percaya benar-benar dibenamkan, yakni dimasukkan ke dalam air dan dikeluarkan lagi. Apakah itu Yohanes Pembaptis yang membaptis di Sungai Yordan, ataupun Filipus yang membaptis sida-sida Ethiopia, teks Alkitab memberitahu kita bahwa mereka turun ke dalam air dan kemudian keluar dari air. Cara inilah yang paling baik melukiskan penjelasan Paulus tentang baptisan Roh sebagai kematian, penguburan, dan kebangkitan (Roma 6:1-4).

(Sida-sida Ethiopia dalam Kisah Para Rasul 8:35-39,
8:35 Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya.
8:36 Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: "Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?"
8:37 Sahut Filipus: "Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh."
Jawabnya: "Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah."
8:38 Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia.
8:39 Dan setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita.

Perhatikan yang diBold/dicetak tebal, ada prinsip: BERITAKAN INJIL, PERCAYA, TEMPAT YANG ADA AIR untuk BAPTIS, Cara Baptis: TURUN KE DALAM AIR, KELUAR DARI AIR, Dampak: SUKACITA-- Penekanan Dede)

Di katakombe-katakombe di Roma terdapat gambar-gambar yang memperlihatkan air yang dituangkan ke atas kepala seseorang dalam tindakan baptisan. Seperti yang disebutkan, Didache, suatu buku pedoman tentang pemerintahan gereja yang diterbitkan pada abad kedua, mengajarkan bahwa jika seseorang tak dapat dibaptis dalam air yang mengalir (seperti sungai), air harus disiramkan ke atas kepalanya. Jelaslah, dibutuhkan air dalam jumlah yang banyak untuk membenamkan seorang dewasa, jadi cara SELAM.

Hari ini umumnya gereja hanya mempraktekkan dua cara pembaptisan yaitu Percik dan Selam? Mana yang Alkitabiah (sesuai dengan ajaran Alkitab)?

Ada banyak alasan yang bisa kita pelajari dari Alkitab:
  1. Adalah sangat jelas dari Alkitab bahwa Baptis dilakukan dengan cara Selam dan bukan Percik bahkan saat Yohanes Pembaptis. Tuhan Yesus sendiri dibaptis dengan cara Selam. Itulah sebabnya Alkitab berkata: Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, (Matius 3:16, Markus 1:10). Gereja HH Pope Shenouda III menamakan hari dimana Yesus dibaptis dengan sebutan “Hari Penyelaman” untuk mengingatkan arti ini dalam pikiran jemaatnya.
  2. Arti yang sama dari pernyataan “Came Up Immediately from the water = segera keluar dari air” digunakan dalam Peristiwa Filipus membaptis Sida-Sida dari Ethiopia. Alkitab berkata, “Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia. Dan setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita. (Kis 8:38-39). Ini membuktikan bahwa Sida-Sida dibaptis dengan cara Selam. Jika hanya Percik, maka cukuplah bagi Filipus memercikkan air ke atas kepala sida-sida Ethiopia itu ketika berada di keretanya tanpa perlu mereka berdua (pembaptis dan yang dibaptis) harus bersusah-susah menuju dan turun ke dalam air.
  3. Kata Baptisma berarti celup. Pencelupan tidak bisa dilakukan tanpa penyelaman.
  4. Pembaptisan adalah tindakan dari dikuburkan bersama Kristus dan merasakan kematian bersamaNya, seperti Rasul katakan: “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” (Roma 6:4) dan kita “dikuburkan dengan Dia dalam baptisan” (Kolose). Tindakan penguburan tidak dapat dicapai kecuali dengan penyelaman. Keluar dari Bak/Kolam menyatakan bangkit bersama Kristus setelah mati dan dikuburkan bersama Dia, yang mana Percik tidak mungkin menyimbolkan tindakan mati dan bangkit.
  5. Pembaptisan simbol Kelahiran Baru. Ini menyatakan dalam Baptisan ketika tubuh yang dibaptis keluar dari kolam, yang mana Percik tidak menyatakan tindakan Lahir Baru secara keseluruhan.
  6. Pembaptisan simbol pengudusan dari dosa-dosa seperti dikatakan Rasul Paulus dalam Kis 22:16, dan seperti Paulus katakan dalam surat kepada Titus, “Dia menyelamatkan kita melalui permandian kelahiran kembali dan pembaruan oleh Roh Kudus” (Titus 3:5). Tindakan permandian/Pencucian butuh dimasukkan dalam air yang dengan tepat disimbolkan dengan Penyelaman bukan dengan Pemercikan
  7. Siapapun yang melihat bangunan dari gereja mula-mula akan mengingatkan adanya kolam-kolam penyelaman sebagai bukti pembaptisan dengan cara SELAM dan bukan PERCIK karena tindakan Pemercikan tidak butuh sebuah Kolam yang dalam.
  8. Penyelaman memang merupakan arti utama dari kata BAPTIZO. Bahasa Yunani memiliki kosakata yang berarti pemercikan (rantiso) dan penuangan yang tidak pernah digunakan untuk menjelaskan tentang baptisan.
  9. Penyelaman sangat mungkin telah dilakukan dalam setiap keadaan. Cukup tersedia banyak kolam di Yerusalem sehingga memungkinkan 3000 orang yang bertobat dibaptis (SELAM) pada Hari Pentakosta. Jalan ke Gaza itu sepi dan gersang, namun bukan berarti tak ada air. Rumah-rumah seringkali memiliki kolam-kolam di luar rumah dimana, misalnya, keluarga kepala penjara Filipi sangat mungkin telah dibaptis selam
  10. Baptisan proselit dilakukan dengan cara menyelamkan diri sendiri ke dalam sebuah tangki air. Cara baptisan seperti inilah yang mungkin biasa dilakukan dalam gereja Kristen.
Penuangan air, bukan pemercikan, merupakan pengecualian pertama terhadap penyelaman dan diizinkan dalam kasus untuk penderita sakit. Hal ini disebut ”baptisan klinis”. Cyprian (pada 248-258 SM) merupakan orang pertama yang menyetujui cara pemercikan. Bahkan mereka yang tidak menganut Baptis Selam menyatakan bahwa penyelaman merupakan Praktik yang umum (universal) dalam gereja pada zaman para rasul (Bacalah Calvin, Institutes, 4:15:19).


Sebuah pengamatan:
Mereka yang ingin membenarkan cara pemercikan nampaknya memiliki jalan pemikiran sebagai berikut: Jika Anda dapat menunjukkan bahwa cara lain dari penyelaman (seperti penuangan/pencurahan) dipraktikkan pada awalnya, maka secara sah Anda dapat mempraktikkan pemercikan, walaupun hal itu terbukti tidak dilakukan dalam gereja pada zaman para rasul. Dengan kata lain, jika Penuangan dapat menjadi suatu alternatif lain dari cara penyelaman yang universal, maka pemercikan juga dapat. Akan tetapi, seandainya ada, bukti yang ada hanya menunjukkan bahwa penuangan (jika hal itu pernah dilakukan) dapat dianggap sama dengan penyelaman, tetapi pemercikan TIDAK DAPAT dianggap SAH sebagai BAPTISAN. (Charles Caldwell Ryrie, dalam buku Teologi Dasar)

3 comments:

shemgrace said...

ada yang harus dikritisi dari tulisan saudara. baik percik ataupun selam adalah hal yang sah sebab didalam keduanya menggunakan rumusan trinitas. Tidak tergantung dari banyaknya air. Baptisan berasal dari kata kerja Yunani (baptizo)yang berarti membasahi.sebagaimana air dipakai unutk membersihkan demikianlah pembptisan itu bersangkut paut dengan pembersihan manusia dari dosanya.

Yuliana Rampa said...

Prinsip pembaptisan harus banyak air. Hal ini benar oleh karena Alkitab mencatat praktek pembaptisan Yohanes sebagai berikut:


"Akan tetapi Yohanes pun membaptis juga di Ainon, dekat Salim, sebab di situ banyak air, dan orang-orang datang ke situ untuk dibaptis" (Yohanes 3:23).

mr.x said...

BAPTIZO ITU BERARTI DICELUPKAN....