Showing posts with label Musik Gereja. Show all posts
Showing posts with label Musik Gereja. Show all posts
Saturday, November 23, 2019
Saturday, October 13, 2018
Menjadi Kontemporer
“Menjadi Kontemporer” (Gone Contemporary) adalah judul dari sebuah artikel yang ditulis oleh Dave Mallinak, yang memaparkan kesalahan dan bahaya dari filosofi musik kontemporer yang sudah dianut oleh dunia kekristenan pada umumnya, dan sedang melanda gereja-gereja Baptis juga. Kami merekomendasi seluruh tulisan tersebut, yang juga memberikan tautan-tautan kepada contoh-contoh kebaktian-kebaktian Baptis Independen yang sudah menggunakan musik kontemporer, dan juga sebuah video dialog antara Josh Teis dan Robert Bakss, penulis dari buku Worship Wars. Berikut ini cuplikan dari laporan tersebut yang berkaitan dengan inti dari masalah ini, dan dengan tepat menyerukan separasi dari mereka yang sudah berkomitmen pada filosofi kontemporer: “Seruan untuk musik kontemporer adalah raungan kematian dari suatu gereja yang sekarat. Gaya ‘penyembahan’ ini tidaklah menjadi populer karena orang Kristen menjadi semakin setia. Dalam usaha untuk menyenangkan audiens, kita telah lupa bahwa Allah adalah audiens yang sebenarnya. Kita sekarang merasa bosan dengan Tuhan. Semakin tergantung kita pada pendekatan ‘penyembahan’ yang eksternal seperti ini, semakin kita kehilangan inti dari penyembahan. Pada akhirnya, orang Kristen akan mendapatkan bahwa mereka harus memiliki musik jenis kontemporer, atau mereka tidak bisa menyembah.
Penyembahan kontemporer mengubah audiens menjadi penonton dan musiknya menjadi suatu pertunjukan. Hal ini menghasilkan suatu pandangan yang rendah akan Allah, suatu kesenangan terhadap pengalaman penyembahan itu, bukan pada Allah yang kita sembah, suatu passion yang superfisial yang kehilangan passion terhadap penyembahan yang sejati, suatu ketergantungan yang semakin hebat pada pengalaman yang dihasilkan oleh musik tersebut, dan suatu ide palsu bahwa penyembahan itu sesuatu yang mudah, bahwa devosi dapat ditingkatkan dengan beberapa baris reff nyanyian. Penyembahan yang sebenarnya adalah menantang – memerlukan fokus dan ketekunan dan kedalaman, yaitu hal-hal yang justru ditentang oleh CCM. … Gaya musik mengindikasikan apa yang suatu gereja konsepkan tentang Tuhan. Secara alkitabiah, kami tidak dapat berpura-pura bersekutu baik dengan gereja-gereja yang lebih mengutamakan relevansi dibandingkan reverensi (Ed: lebih mengutamakan relevan di mata dunia dari menghormati Allah). Jadi, walaupun kami tidak berusaha mendikte cara suatu gereja melakukan kebaktian, kami jelas memiliki tanggung jawab dari Allah untuk menentukan dengan siapa kami bersekutu atau tidak. … Klaim bahwa gaya musik tidak lebih dari suatu pilihan preferensi saja, menunjukkan betapa relativistiknya orang-orang ini. Mereka dengan sengaja mengabaikan pembelajaran teori musik. Mereka percaya bahwa kita hanya perlu mempelajari Alkitab untuk melihat gaya musik apa yang diperlukan. Mereka mengingat kita, dengan nada merendahkan, bahwa Alkitab tidak berkata apa-apa tentang sinkopasi, atau ‘ketukan antisipasi.’ Dengan demikian, mereka dengan sengaja mengabaikan pesan yang jelas yang disampaikan oleh gaya musik tentang makna dari kebaktian dan penyembahan itu. Para produsen film menyadari hal ini. Kebanyakan orang tahu bahwa ada musik tertentu yang cocok untuk pernikahan, untuk penguburan, untuk restoran kelas atas, untuk barbecue di halaman belakang, untuk parade militer, dan untuk pertandingan basket. Orang-orang ini percaya bahwa kita bisa menyeret gaya apa saja untuk suatu kebaktian rohani, menempelkan kata-kata yang bagus padanya, dan dengan cara demikian ‘menebusnya.’ … Gaya musik itulah makna dari musik tersebut. Musik, pakaian, dan penampilan trendy dari kaum Baptis Independen yang kontemporer, lebih memberitahu kepada kita pandangan mereka tentang Allah daripada pandangan mereka tentang gaya musik. Hal ini benar untuk kebanyakan acara. Cara kita berpakaian dan musik yang kita mainkan, menyampaikan pandangan kita tentang acara tersebut, daripada pandangan kita tentang gaya yang kita pakai.” Laporan yang sepenuhnya dari Dave Mallinak dapat dilihat di villagesmithysite.wordpress.com/2018/08/31/gone-contemporary/
(Berita Mingguan GITS 10 September 2018 diterjemahkan oleh Dr. Steven Liauw, sumber: www.wayoflife.org)
Labels:
Musik Gereja,
musik kristen kontemporer,
worship war
Friday, May 11, 2012
Berita Bulan FEBRUARI 2012
ANJURAN PRINSIP TENTANG MUSIK GEREJA
(Berita Mingguan GITS 25 Februari 2012, sumber: www.wayoflife.org)
Baru-baru ini kami menerima permintaan berikut: “Ayah saya meminta saya untuk menulisimu dan meminta jika kamu punya suatu pernyataan tentang standar musik yang dapat kami pakai dalam merancang undang-undang dasar gereja kami. Musik telah menjadi topik yang sedemikian besar di zaman ini sehingga ia merasa, sebagai gembala sidang senior, bahwa kami memerlukan suatu pernyataan yang jelas dan bersifat prinsipil dalam undang-undang kami.” Saya (Dr. Cloud) mengirimkan yang berikut ini, yang adalah revisi dari pernyataan yang kami pakai dalam gereja-gereja kami di Asia Selatan: 1. Musik gereja haruslah mengajarkan doktrin yang benar (Kol. 3:16). Kata-kata dalam lagu-lagu haruslah benar dan sesuai dengan pengajaran Alkitab. Kebanyakan Musik Kristen Kontemporer (MKK atau CCM) tidak dapat diterima karena mengekspresikan filosofi ekumenis kharismatik atau menyampaikan pesan yang tidak jelas yang tidak memiliki kekuatan atau kejelasan doktrin. 2. Musik gereja harulah kudus atau terpisah dari dunia (Ef. 5:19; Rom. 12:2; 1 Yoh. 2:15-16). Ini berarti bahwa musik gereja tidak akan terdengar seperti musik populer yang dimainkan di radio atau musik yang dunia pakai untuk menari dan minum-minum dan berpesta. Musik gereja kita tidak akan memakai backbeat atau bentuk-bentuk lain sinkopasi dansa, karena hal-hal ini telah selalu diasosiasikan dengan sensualitas dan telah menjadi bagian yang sexy dalam musik pop. Kami percaya bahwa tidaklah bijak untuk memakai drum (kecuali dalam orkestra) dan gitar listrik dalam musik gereja, karena alat-alat musik ini mudah sekali dipakai dalam gaya musik pop. 3. Musik gereja tidak boleh meminjam dari dunia musik kontemporer Kristen, karena musik kontemporer Kristen adalah salah satu bahan baku pembangunan gereja esa sedunia yang sesat dan adalah perwakilan dari suatu roh yang asing (1 Kor. 10:21; Ef. 5:11; 2 Tim. 3:5; Wah. 18:4). Hal ini nyata dari pemeriksaan terhadap sejarah musik ini dan juga kehidupan dan kepercayaan para musisi kontemporer seperti yang sudah kami lakukan dalam buku Directory of Contemporary Worship Musicians. 4. Musik gereja tidak boleh didesain untuk menghasilkan suatu pengalaman mistik gaya kharismatik (1 Pet. 5:8). Tujuan dari musik kharismatik adalah menghasilkan suatu penyembahan yang berlandaskan pada pengalaman subjektif dan untuk mencapai ini para “penyembah” kontemporer menggunakan musik dengan ritme dansa yang kuat, urutan-urutan chord yang tidak genap, pengulangan musik berkali-kali, dan modulasi elektrik sehingga orang-orang dapat terbawa oleh musik secara emosional. Alkitab memberitahu kita untuk tetap waspada dan tidak membiarkan apapun mengikat hati kita selain Allah dan FirmanNya. Kita tidak boleh membuka diri secara sembarangan kepada pengalaman apapun tetapi harus terus menguji segala sesuatu dengan standar Kebenaran Allah yang absolut (1 Tesalonika 5:21).
Subscribe to:
Posts (Atom)