Showing posts with label CALVINISME. Show all posts
Showing posts with label CALVINISME. Show all posts

Tuesday, June 23, 2015

BERLINDUNG DI BALIK PAYUNG FANTASI

Kepada Para Calvinis

BERLINDUNG DI BALIK PAYUNG FANTASI

Teologi Reformed/Calvinis saya samakan dengan judul lagu “Payung Fantasi” yang dinyanyikan dengan nuansa Jazz yang kental oleh Shelomita and Opustre Big Band, liriknya adalah sebagai berikut:

Lenggang menorak menarik hati serentak Hei hei siapa dia
Wajah sembunyi di balik payung fantasi Hei hei siapa dia
Payung Fantasi arah ke mana dituju hei hei tunggu dulu
Bolehkah aku melihat sari wajahmu, bolehkan sayang?
Siapa gerangan dinda, bidadari dari surga
Ataukah burung kenari membawa harapan pelipur hati
Payung Fantasi menempeli sinar pagi hei hei cantik dia
Boleh kupandang wajahmu secantik bintang bolehkah kupandang?
Siapa gerangan pula cend’rawasih dari bola
Ataukah si bintang siang pembawa pelipur rasa bahagia

Ketika membaca judul lagu ini, angan saya melayang memikirkan Teologi Reformed/Calvinis, saya tersentak dengan kata 
Payung Fantasi, seorang yang menganut Teologi Reformed/Calvinis bagaikan seseorang yang berlindung di balik Payung Fantasi. Karena “Payung Fantasi” maka orang yang berpegang teguh pada Teologi Reformed/Calvinis bagaikan percaya pada Filsafat Logis yang kait-mengait namun TIDAK BENAR pada kenyataannya karena menabrak ayat-ayat Alkitab dan mengabaikan ayat-ayat Alkitab serta menafsirkan secara salah ayat-ayat Alkitab yang lain, sehingga tidak menghasilkan harmonisasi dan satu penafsiran yang utuh dan benar dari semua ayat-ayat Alkitab.

Lewis Sperry Chafer, pendiri dan Rektor pertama Dallas Theological Seminary, salah seorang yang sangat merasa dari 5 point Calvinisme yang disebut TULIP, point ke-3 yaitu 
Limited Atonement adalah salah satu dari 5 poin Calvinisme yang paling sulit untuk dipertahankan sehingga banyak dari mereka membuang poin ini dan menjadi Four-points Calvinist, karena terlalu sulit bagi mereka untuk melawan terlalu banyak ayat Alkitab yang menyatakan bahwa Yesus Kristus menebus dosa semua manusia.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Wednesday, April 22, 2015

KEHIDUPAN DAN TINDAKAN JOHN CALVIN DAN PARA PENGIKUTNYA

Masa muda John Calvin
John Calvin adalah seorang Perancis yang nama kecilnya Jean Cauvin, terlahir pada tanggal 10 Juli 1509 di Picardy, Noyon, Perancis, sekitar enam puluh mil utara Paris. Namanya kemudian dilatinkan menjadi Joannes Calvinus, dan diinggriskan menjadi John Calvin, Hidupnya termasuk pendek yaitu hanya 54 tahun, karena ia meninggal para 27 mei 1564. Ayahnya bernama Gerald Calvin, seorang notaris yang bekerja pada keuskupan untuk urusan bisnis di Catedral kota mereka.
John adalah salah satu anak laki dari kelima anak laki, dua meninggal selagi bayi dan ibunya meninggal selagi John berumur 3 tahun, kemudian ayahnya menikah dengan seorang janda yang memiliki dua orang putri dan seorang putra yang meninggal selagi bayi.
Mereka adalah umat katolik yang taat.karena masalah financial ayahnya dikeluarkan dari gereja dan kemudian meninggal pada  tahun 1531, dan pada tahun  yang sama kakak lakinya Charles dikeluarkan dari gereja atas tuduhan mengajarkan bidat. Adik lakinya, Antoine dan seorang adik perempuan tiri mengikutinya, namun satu adik perempuan tiri yang lain tetap teguh di Katolik .

Friday, February 22, 2013

Seminar Apakah Kalvinisme Alkitabiah, Selasa 12 Maret 2013



Benarkah semua yang anda lakukan hari ini SUDAH ditentukan Tuhan dari sejak kekekalan? Orang yang akan Masuk Surga dan Neraka SUDAH ditentukan Tuhan sejak kekekalan tanpa melihat apapun dalam diri orang itu? Bisakah Anugerah Keselamatan di TOLAK orang? Tuhan Yesus mati menebus DOSA semua manusia atau dosa sebagian orang saja? Benarkah Tuhan hanya mengasihi orang-orang pilihan saja? Masih banyak topik lainnya akan dibahas secara terbuka dan jujur dalam Seminar ini. Anda bebas tanya jawab!

Seminar Gratis, Daftarkan Diri Anda Segera! Ingat Tempat Terbatas hanya bagi 370 orang! Hubungi nomor hp/telpon pada brosur!

Selasa, 12 Maret 2013 (Hari Libur)
Pukul 09.00-12.30 WIB
Auditorium STT Graphe, Jl. Danau Agung 2 No 7, Sunter, Jakarta Utara
Pembicara Dr. Steven E. Liauw, Th.D




Friday, November 16, 2012

Video Debat Apakah KALVINISME itu ALKITABIAH?

Debat tentang Kalvinisme (Calvinism Debate) 24 Agustus 2012 di STT Graphe, Sunter
antara:
Dr. Steven E. Liauw, Th.D & Andrew M. Liauw, M.Th berhadapan dengan
Budi Asali, M.Div & Esra Alfred Soru, M.Pdk

Sesi 1: Unconditional Election (Pemilihan Tanpa Kondisi)

Sesi 2: Perseverance of the Saints (Ketekunan Orang-Orang Kudus atau Sekali Selamat Tetap Selamat=OSAS=Once Saved Always Save)

DVD dengan kualitas video yang bagus, dapat anda pesan melalui website http://graphe-ministry.org/online_bookstore.html atau telepon ke 021-6471-4156 atau sms ke 0816-140-2354, 0897-972-8557

Friday, September 28, 2012

Debat Terbuka: Kalvinisme Apakah ALKITABIAH?



Debat Terbuka: Kalvinisme Apakah ALKITABIAH? (membahas 2 point TULIP yaitu Unconditional Election dan Once Saved Always Save / Perseverance of the Saints) antara Pihak Kalvinis Budi Asali, M.Div dan Esra Soru, M.Pdk dengan Kristen Fundamental / Independent Baptist Dr. Steven Einstain Liauw, Th.D dan Andrew Monroe Liauw, M.Th di STT GITS, Sunter. 

DVD (6 cd) selengkapnya dapat di pesan ke www.graphe-ministry.org dengan harga Rp 120.000,00. Telepon ke (021)-6471-4156.

Kata-kata Penutup dari Suhento Liauw, Th.D selaku pihak penyelenggara/tuan rumah, Rektor STT Graphe dan Gembala GBIA Graphe.

Tuesday, August 07, 2012

Debat Terbuka: CALVINISME vs Kristen Fundamental

Doakan dan Hadirilah

COMING SOON

Debat  TERBUKA

 VS 
Calvinisme vs Kristen Fundamental

Tema: Calvinisme, Apakah Alkitabiah?

sesi 1 :  Unconditional Election  (= Pemilihan yang tidak   bersyarat).

Ini mengajarkan bahwa dari permulaan segala jaman, sebelum segala sesuatu ada,
Allah sudah menetapkan / memilih orang-orang tertentu untuk selamat / masuk surga,
dan orang-orang yang lain untuk binasa / masuk neraka.
Penentuan / pemilihan ini dilakukan semata-mata berda-sarkan kehendak Allah,
bukan karena apa yang ada atau yang akan ada dalam diri manusia.

sesi 2 :  Perseverance of the Saints (= Ketekunan orang-orang kudus).

Ini mengajarkan bahwa sekali seseorang menjadi orang kristen yang sejati
dan diselamatkan, ia tidak akan berhenti menjadi orang kristen / murtad,
dan ia tidak mungkin kehilangan keselamatannya.

Saturday, October 22, 2011

Seminar DOKTRIN KESELAMATAN ALKITABIAH 10 Desember 2011 Jogjakarta

Seminar “Doktrin Keselamatan Alkitabiah

Tema-tema yang akan dibahas: Benarkah Semua Agama Benar dan Pasti membawa ke Surga? Benarkah hanya ada SATU JALAN menuju SURGA? Cara Allah menghapus Dosa, Apa yang menjamin Anda yakin PASTI MASUK SURGA? Apa itu TULIP/Kalvinisme, Arminianisme, Masuk Surga karena Perbuatan Baik atau Iman, KIta selamat karena Dipilih Allah atau karena Bertobat dan Percaya kepada Tuhan Yesus?

Bayi Mati bagaimana nasibnya Masuk Surga atau Neraka? Orang Gila, Keterbelakangan Mental Matinya masuk Surga atau Neraka? Euthanasia atau Bunuh Diri apakah masuk Surga juga? Apa itu Dosa yang TAK TERAMPUNI? Bagaimana Nasib orang Kristen yang terus-menerus hidup di dalam DOSA?

Dapatkah orang Kristen Murtad dan Terhilang alias Binasa? Sekali Selamat Tetap Selamat?  Iman Pemberian Tuhan atau Respon manusia? Di Surga manusia bisa berbuat Dosa? Masihkah ada Kehendak Bebas di Surga nanti? Keselamatan itu Bersyarat atau Tidak Bersyarat? Bisakah orang menolak Anugerah Keselamatan?

Ikuti Pembahasannya bersama Suhento Liauw, D.R.E., Th.D (Gembala Sidang GBIA GRAPHE, Rektor Graphe International Theological Seminary), pada

Thursday, February 18, 2010

MENGINJIL BAYI DALAM KANDUNGAN?

Ada pemimpin gereja yang mungkin karena kebingungan tentang topik keselamatan, mengajarkan kepada anggota jemaatnya konsep keselamatan yang kedengarannya agak aneh, yaitu penginjilan terhadap bayi, bukan hanya kepada yang telah lahir, bahkan kepada yang masih di dalam kandungan. Memang agak aneh, tetapi ini bukan cerita bohong, betul-betul ada gereja yang mengajarkan bahwa mereka perlu menginjil bayi yang masih di dalam kandungan. Mendengar itu, seorang teman berguyon, bahwa yang sanggup melakukan tugas itu hanya dokter kandungan.

AKIBAT DOKTRIN KESELAMATAN YANG SALAH

Calvinis, karena percaya bahwa nasib orang telah dipredestinasikan dalam satu dekrit Allah sejak kekekalan, percaya bahwa tiap-tiap orang yang akan dijumpai mereka di Sorga kelak adalah yang dipilih Allah tanpa kondisi (Unconditional Election).

Dengan konsep demikian, maka dapat disimpulkan bahwa keselamatan bayi juga masuk dalam lingkup unconditional election sebagaimana orang dewasa. Sebagaimana orang dewasa masuk Sorga karena dipilih secara tanpa kondisi, maka tentu pemilihan itu termasuk bayi.

Jika Calvinis berterus terang, maka mereka tidak tahu, serta tidak ada cara untuk mengetahui apakah seseorang termasuk dalam pilihan atau tidak. Dengan kata lain, sesungguhnya bagi Calvinis mereka tidak tahu siapa masuk Sorga atau tidak, bahkan mereka tidak memiliki cara bagi seseorang untuk memastikan dirinya masuk Sorga, karena tidak ada orang yang tahu apakah dirinya termasuk dalam pilihan atau tidak. Jika terhadap orang dewasa saja Calvinis tidak akan tahu dan tidak ada kepastian siapa masuk Sorga siapa masuk Neraka, apalagi bayi mereka.

TULIP. Dimana T = Total Depravity dalam bahasa Indonesia bisa diterjemahkan“hancur total” dan U= Unconditonal election dalam bahasa Indonesia bisa diterjemahkan “pemilihan tanpa kondisi. L = Limited Atonement dalam bahasa Indonesia bisa disebut “penebusan terbatas.” Dan I = Irresistable Grace dalam bahasa Indonesia bisa diterjemahkan “anugerah yang tidak bisa ditolak” serta yang terakhir P = Perseverance of the saints atau dalam bahasa Indonesianya adalah “ketekunan orang-orang kudus”. Calvinis sendiri sudah semakin meninggalkan lima poin mereka karena bukan hanya tidak alkitabiah, yaitu tidak didukung ayat-ayat Alkitab, bahkan tidak masuk akal. Akhirnya para Calvinis menyebut diri mereka three-point Calvinis, two-point Calvinis, bahkan one-point Calvinis. Hampir tidak ditemukan Calvinis yang benar-benar percaya pada keseluruhan dari lima poin Calvinis. Mereka makin langka karena terlalu sulit untuk mempertahankan bahwa Tuhan Yesus mati di kayu salib hanya menebus sebagian orang, yaitu yang dipilih Allah dalam kekekalan sementara Alkitab dengan begitu jelas menyatakan bahwa Allah mengasihi semua manusia, dan Kristus mati bagi semua manusia (Yoh.3:16, I Yoh.2:2, Ibr.2:9).

Wednesday, December 30, 2009

KESALAHAN TULIP: Irresistible of Grace (Bag 1)

Point ke-4 Kalvinis ini menyatakan bahwa kasih karunia atau Grace Allah tidak bisa ditolak. Ini konsekuensi logis dari TULIP. Di dalam konsep ini juga sangat dipengaruhi oleh Augustine. Boettner mengatakan, “This cardinal truth of Christianity (I.G) was firt clearly seen by Augustine.” [Lorainne Boettner, The Reformed Doctrine of Predestination, 1932, hal. 365]. Sproul menambahkan, “Augustinianism is presently called Calvinism or Reformed Theology.” [Sproul, The Holiness of God, (Tyndale House Pub. 1993), hal. 273). Padahal Augustine adalah seorang yang percaya akan konsep Purgatory, Asketikisme, dan dipertanyakan kelahiran barunya. Lalu bagaimanakah bisa dikatakan bahwa konsep Augustine alkitabiah?

Jika kita mempelajari konsep Irresistible of Grace (IG) ini secara seksama maka kita akan melihat bahwa konsep ini sesungguhnya seperti oxymoral. Sebab bagaimana dikatakan anugerah, jika itu dilakukan dengan paksaan! Hal ini tidak ada ubahnya dengan si buta bermata elang. Tentu orang yang buta tidak akan memiliki penglihatan seperti elang, karena ia memang buta. Ini adalah pernyataan yang tidak logis. Kalau anugerah itu tidak bisa ditolak, maka itu sama dengan si buta bermata elang yang mampu melihat benda yang jauh yang tidak bisa dilihat mata biasa. Bila keselamatan itu adalah Anugerah, maka ia bisa ditolak, dan kalau tidak bisa ditolak itu bukanlah Anugerah, tetapi pemaksaan kehendak.

Sebuah konsep yang sangat tidak alkitabiah. Kata “grace” muncul 170 kali dalam 159 ayat, dimana ditekankan bahwa kasih/anugerah berasal dari Allah (Allah yang menganugerahkan) namun tidak satu kalipun dikatakan bahwa anugerah yang Allah berikan itu tidak dapat ditolak.

Untuk menjawab ini, Kalvinis akan menyatakan bahwa kalau kasih karunia bisa ditolak, maka kasih karunia Allah menjadi tidak efektif lagi. Kalvinis banyak memakai terminologi-terminologi menurut defenisi mereka sendiri, bukan seperti defenisi umum.

Seperti kata “semua” mereka bisa mengatakan, bahwa semua di sini bukanlah semua orang tetapi hanya orang pilihan saja. Dan pengertian “dunia” hanyalah dunia orang-orang pilihan. Misalnya, dalam Yoh 1:29, kata ‘dunia’ di ayat ini jelas mengacu kepada seluruh dunia bukan hanya dunia orang-orang pilihan saja.

Monday, September 21, 2009

KEHANCURAN GEREJA EROPA

Semangat penginjilan yang ditahan, bahkan dilenyapkan, baptisan bayi yang menghasilkan anggota jemaat atau orang Kristen tanpa dilahirkan kembali, serta sistem gereja yang disatukan dengan pemerintah dari Calvinisme telah menghantar masyarakat benua Eropa menjadi apatis terhadap perkara rohani dan tinggal sedikit waktu lagi akan menjadi wilayah Islam.

Banyak Negara yang menjadi pengayom gereja-gereja calvinistik atas dasar konsep penyatuan gereja dengan Negara. Mereka menggaji Gembala gereja-negara seperti mereka menggaji pegawai negeri mereka. Setiap bulan para “pendeta” menerima gaji mereka dari pemerintah.

Tanpa disadari oleh kebanyakan gembala bayaran yang tidak mengerti kebenaran Alkitab karena tidak dilahirkan kembali bahwa sistem ini akan menghancurkan gereja. Setelah berjalan cukup lama, sistem ini sudah pasti akan menyebabkan para gembala bayaran itu tidak menghiraukan pertumbuhan iman domba gembalaan mereka. Mereka tetap akan menerima gaji walau jumlah hadir jemaat mereka dalam kebaktian semakin berkurang. Para theolog, dan dosen sekolah teologi juga digaji oleh pemerintah. Mereka tidak peduli pada masalah semangat penginjilan bahkan konsep teologi yang destruktif. Bahkan sampai tidak ada satu orang pun yang datang kebaktian pada minggu pagi, mereka tetap akan menerima gaji setiap bulan.

Bagi para gembala bayaran itu Tuhan telah mempredestinasikan jumlah orang yang masuk Sorga dan masuk Neraka, jadi apa urgensinya bagi mereka untuk menginjil dan menasehati anggota jemaat agar bertekun di dalam iman? Bagi mereka, jika yang menjadi anggota jemaat telah dibaptiskan dan Tuhan cukup berkuasa untuk memelihara orang-orang milik kepunyaanNya, maka tidak ada urgensi untuk mendorong anggota jemaat bertekun di dalam iman. Terlebih lagi karena mereka percaya bahwa iman itu pemberian Allah, jadi kalau iman anggota jemaat semakin luntur, itu bukan salah mereka tetapi salah Allah yang tidak memberi iman yang kuat kepada mereka.

Tinggal sedikit waktu lagi, betul tinggal sedikit waktu lagi, Eropa akan menjadi wilayah yang matang bagi munculnya anti-Kristus. Apakah penyebabnya? Filsafat Calvinisme punya andil didalamnya. Ia telah melenyapkan antusiasme orang Kristen untuk memberitakan Injil. Karena segala sesuatu telah dipredestinasikan sejak kekekalan, bahkan orang Kristen tidak perlu berdoa, karena didoakan atau tidak, toh tidak akan ada perubahan jika segala sesuatu telah dipredestinasikan atau ditakdirkan sejak kekekalan. Apakah ini tidak menghancurkan?

Akhirnya, teman-teman Calvinis, tinggalkanlah doktrin Calvinisme. Anda tidak rugi, toh John Calvin tidak membayar anda untuk mengagungkan namanya atau nama gereja (Reform) yang didirikannya, bukan? Mengapa setelah menyadari ada poin dari kelima poin Calvinisme ada yang sangat bertentangan dengan Alkitab masih tetap ngotot mau menyebut diri Calvinis? Padahal 5 poin Calvinisme itu sangat berkaitan seperti mata rantai. Jika satu mata rantai putus, maka putuslah rantai itu. Mari kita berbuat sesuatu untuk Tuhan menjelang Ia datang menjemput kita. Menangkanlah jiwa sebanyak-banyaknya, karena Allah berkehendak menyelamatkan semua orang, namun banyak orang menolakNya. Pakailah kepintaran yang Tuhan berikan untuk mengargumentasikan InjilNya, bukan untuk membela Calvinisme (II Pet 3:9, I Tim 2:6).***

Buku Doktrin Keselamatan Alkitabiah, Dr.Suhento Liauw, 2007.

WABAH TERDAHSYAT TERHADAP KEKRISTENAN

Banyak orang Kristen di Indonesia beriman secara tidak kritis. Ada yang berprinsip “pokoknya pergi ke gereja, apa yang diajarkan pendeta itu urusan pendeta bukan urusan kita.” Bahkan ada yang tahu ia sedang berbakti di gereja yang sesat namun baginya itu tidak menjadi persoalan karena ia berprinsip “pokoknya saya yakin sendiri, urusan pemimpin gereja yakin yang lain, itu urusan dia.”

Agar orang Kristen Indonesia semakin cerdas, kritis dalam beriman, maka buletin Pedang Roh Graphe International Theological Seminary = GITS, Sunter Podomoro, Jakarta-Utara) berusaha membahas hal-hal yang bersifat teologi dan doktrinal/pengajaran. Bukan hanya orang Kristen bahkan setiap manusia harus beriman dengan penuh pengertian, karena untuk itulah Allah memberi kita dua alat, yaitu akal budi dan firman tertulisnya, agar kita bisa mengerti kehendakNya yang tertulis dalam firmanNya dengan akal kita.
(Jurnal Teologi Triwulan dari STT Graphe)

Bukanlah kehendak penulis untuk mengkritisi apalagi menyerang pihak manapun, melainkan adalah permintaan dari berbagai pihak agar Pedang Roh sekali-kali membahas tentang Calvinisme. Permintaan tersebut muncul mungkin karena Calvinisme sangat berbeda dari Mormonisme, Saksi Yehuwa, dll. Ia masuk ke dalam kekeristenan bahkan sedemikian merasuki kekristenan hingga hampir tidak ada denominasi yang lolos darinya.

Sesungguhnya tidak mungkin membahas keseluruhan Calvinisme melalui sebuah buletin yang tipis ini. Itulah sebabnya yang dibahas hanyalah poin-poin utama ajaran Calvinisme.

Teologi PREDESTINASI
Calvinisme, atau disebut juga dengan Teologi TULIP, atau Teologi Predestinasi, dan masih banyak lagi sebutannya, bagaikan kuman yang memasuki tubuh kekristenan dan mengalir hingga ke ujung jari.
Calvinisme percaya bahwa dalam satu dekrit Allah, Ia telah menetapkan segala sesuatu dalam kekekalan, bahkan tiap-tiap tindakan dari tiap-tiap individu sesungguhnya telah ditetapkan Allah sejak dalam kekekalan.
Calvinisme memaksakan Ef 1:4, untuk meyakinkan orang bahwa Allah telah menetapkan orang masuk Sorga dan Neraka sejak KEKEKALAN.
Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah, kepada orang-orang kudus di Efesus, orang-orang percaya dalam Kristus Yesus. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu. Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristusyang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya. untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia,

Melalui exegesis yang hati-hati dan mendalam, dapat disimpulkan bahwa ayat-ayat tersebut memberitahukan bahwa Allah telah memilih Kristus sejak kekekalan dan setiap orang yang DI DALAM KRISTUS akan termasuk dalam lingkup pemilihan. Supaya bisa termasuk di dalam Kristus seseorang harus percaya kepada Kristus. Dan surat Efesus adalah surat yang kudus menekankan jemaat yang adalah tubuh Kristus, kumpulan orang yang percaya kepada Kristus yang berarti termasuk dalam lingkup orang pilihan. Mereka termasuk dalam pilihan karena mereka berada di dalam Kristus dan berkumpul membentuk tubuh Kristus.
Pada zaman PL Allah menetapkan bangsa Israel sebagai Tiang Penopang dan Dasar Kebenaran (TPDK), dan setiap orang yang dilahirkan sebagai orang Yahudi secara jasmani MASUK ke dalam pemilihan Allah. Sedangkan zaman PB Allah menetapkan jemaat lokal (Gereja) yang adalah tubuh Kristus sebagai TPDK dan memilih setiap orang yang tergabung ke dalamNya melalui bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus untuk memperoleh berkat rohani.
Doktrin Predestinasi telah menekankan aspek Kedaulatan Allah (sovereignty), tanpa mempertimbangkan aspek dua makhluk ciptaaan Allah, yaitu malaikat dan manusia yang diberi kemampuan berpikir dan kebebasan memilih. Hasilnya Calvinisme mirip dengan konsep Islam yang disebut TAKDIR. Bagi Muslim segala sesuatu telah ditakdirkan, sedangkan bagi Calvinis telah diPREDESTINASIkan. Jadi, kalau seorang perempuan diperkosa bergilir dan dibunuh, itu telah ditakdirkan atau telah dipredestinasikan Allah sejak kekekalan.
Selanjutnya rangkaian pengajaran Calvinisme tentang keselamatan biasanya disingkat TULIP, yaitu T=Total Depravity, U=Unconditional Election, L=Limited Atonement, I=Irresistible Grace, dan P=Perseverance of the Saints. Sesungguhnya ini bukan teologi, melainkan filsafat tentang cara manusia masuk Sorga oleh Agustinus yang dikembangkan oleh John Calvin.
Total Depravity
Dalam bahasa Indonesia bisa diterjemahkan jatuh total, hancur total, atau rusak total. Mereka menyimpulkan bahwa Allah menetapkan Adam jatuh ke dalam dosa dan sesudahnya manusia hancur total. John Calvin berkata,
Again, I ask: whence does it happen that Adam’s fall irremediably involved so many peoples, together with their infants offspring, in eternal death unless because it so pleased God? Here there tongues, otherwise to loquacious, must become mute. The decree is dreadful indeed, I confess. Yet no one can deny that God foreknew what end man was to have before he created him, and consequently foreknew because he do ordained by his decree. [John Calvin, Institutes of Christian Religion. Ed. By John T. Mcneil. Trans. By Ford Lewis Battles (Philadelphia: The Westminster Press, 1960), p.955 (III.xxi.5)].
(Terjemahan bebasnya) Lagi, saya bertanya: darimana itu terjadi bahwa kejatuhan Adam yang tak dapat diperbaiki melibatkan begitu banyak orang, bersama bayi keturunan mereka dalam kebinasaan kekal kecuali karena itu sangat disenangi Allah? Di sini lidah mereka yang suka berbicara harus tak berbunyi. Dekrit itu memang mengerikan, saya mengakuinya. Namun tidak ada orang yang dapat menyangkal bahwa Allah tahu dulu akhir seseorang sebelum Ia menciptakannya, dan secara konsekuen tahu dulu karena Ia yang menetapkannya dengan dekritNya.
Calvin percaya dan mengajarkan bahwa Allah demi kesenangannya telah menetapkan Adam jatuh ke dalam dosa sehingga menyeret seluruh umat manusia. Manusia sejak kejatuhan menjadi Totally Depraved (hancur total), bahkan tidak bisa menjawab ya kepada Allah.
Padahal tidak demikian menurut Alkitab, selain Allah tidak pernah menetapkan kejatuhan Adam, setelah kejatuhan, ternyata manusia masih bisa berpikir, memilih, memutuskan bahkan Allah menyatakan bahwa manusia sudah seperti Allah.

Berfirmanlah TUHAN Allah: "Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya." (Kejadian 3:22)

UNCONDITIONAL ELECTION

Menurut alur filsafat Calvin, karena manusia tidak bisa memberi respon sedikitpun kepada Allah, maka satu-satunya cara manusia diselamatkan ialah melalui pemilihan yang tanpa syarat (Unconditional Election). Ef 1:4-5 dijadikan prooftexts padahal di situ tidak disebutkan pemilihan untuk keselamatan melainkan untuk memperoleh berkat surgawi. Dan lagi pula di situ dikatakan pemilihan atas mereka yang di dalam Kristus, tanpa menunjukkan cara seseorang masuk ke dalam Kristus.

Demikian juga dengan kesukaan mereka dalam Roma 8:29-30, yang sesungguhnya tidak dikatakan bahwa Allah memilih sejumlah orang masuk Sorga sejak kekekalan, melainkan berkata bahwa Allah tahu dulu (Alkitab bhs Indonesia sedikit salah terjemah), maka Allah menetapkan. Jadi penetapan Allah didasarkan atas foreknowledge (tahu lebih dulu) Allah.

Ketika Calvinis diajak rasionalisasi bahwa jika Allah telah menetapkan sejumlah orang masuk Sorga sejak kekekalan, maka itu berarti Ia telah menetapkan sejumlah orang masuk Neraka juga, maka jawaban yang muncul seringkali agak aneh, yaitu bahwa Allah secara AKTIF memilih sejumlah orang masuk Sorga, dan secara PASIF membiarkan sejumlah orang masuk Neraka. Padahal Calvinis percaya bahwa jika Allah mau, maka Ia bisa memilih semua orang Sorga, namun Ia tidak mau, melainkan senang, dan demi kemuliaanNya serta kesenanganNya Ia hanya memilih sebagian saja.

Dr. David Cloud berkata bahwa “ada yang tidak beres dengan Allah orang Calvinis.” Dan Dave Hunt berkata, “Allahnya John Calvin bukan Allah yang maha kasih.” Kalau zaman sekarang ini di negara hukum ada orang bertindak seperti Allah Calvinis, pasti dia harus dipenjarakan. Bayangkan kalau ada orang melihat sebuah kapal yang berpenumpang seratus orang di lautan akan tenggelam, dan Ia membawa kapal besar yang cukup memuat beratus-ratus orang, namun ia hanya memilih menyelamatkan 10 orang dan secara PASIF membiarkan 90 orang tenggelam, maka jika ia bukan seorang yang sangat jahat, ia pasti sakit jiwa.

Konsep Unconditional Election Calvinisme telah berhasil menggambarkan Allah sebagai penjahat, bahkan monster. Padahal Alkitab jelas menyatakan Allah itu maha kasih. Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Ayat-ayat Alkitab tentu tidak saling bertentangan. Kalau ia terkesan bertentangan, maka pasti penafsirannya ada masalah.

LIMITED ATONEMENT

Rasionalisasi filsafat Calvinisme berkata bahwa manusia ambruk total sehingga tidak bisa merespon pada panggilan Allah sehingga untuk masuk Sorga sepenuhnya tergantung pada pemilihan Allah yang unconditional, maka konsekuensi berikutnya adalah limited atonement (penebusan terbatas). Calvinis tidak bisa terima bahwa Allah menebus seisi dunia (I Yoh 2:2, Ibr 2:9, Yoh 1:29, I Tim 2:6), karena itu tidak masuk ke dalam nalar filsafat mereka.

Mereka selalu berargumentasi bahwa, “Jika Allah menebus seisi dunia, maka tentu seisi dunia akan selamat, dong?! Kan Allah maha kuasa.”

Padahal, memang Allah maha kuasa dan ayat-ayat Alkitab menyatakan bahwa Allah mengasihi semua manusia bahkan Allah ingin semua manusia diselamatkan (II Pet 3:9). Konsep Calvinis bahwa jika Allah menghendaki semua manusia selamat dan Ia maha kuasa maka seharusnya semua orang menjadi selamat, itu karena mereka tidak memahami manusia yang memiliki kehendak bebas yang diberikan Allah dan Allah yang mahakuasa menghargainya.

Limited atonement adalah salah satu dari 5 poin Calvinisme yang paling sulit mereka pertahankan sehingga Four-points Calvinist, termasuk Lewis S. Chafer (pendiri Dallas Theological Seminary). Karena terlalu sulit bagi mereka untuk melawan terlalu banyak ayat yang menyatakan bahwa Yesus Kristus menebus dosa semua manusia.

IRRESISTIBLE GRACE

Point ini sesungguhnya tidak terlalu penting karena merupakan tambahan, atau rasionalisasi logis dari tiga point sebelumnya. Jalan nalar filsafat Calvin ialah, jika Allah memilih siapa yang ingin diselamatkanNya, maka sudah pasti orang tersebut tidak bisa menolak, mereka sebut anugerah yang tidak bisa ditolak (Irresistible Grace).

Padahal di dalam Alkitab banyak sekali contoh penolakan. Orang muda yang datang kepada Yesus dalam Matius 19:16-26, ternyata menolak. Dan Tuhan Yesus berkata, “…Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.” (Matius 23:37)

PERSEVERANCE of the saints

Perseverance of the saints artinya pemeliharaan orang-orang kudus adalah poin akhir dari rangkaian nalar Calvinisme. Tentu, kalau Allah telah menetapkan untuk menyelamatkan sebagian orang untuk masuk Sorga, dan kemudian memilih mereka, maka Ia pasti akan menjamin mereka masuk Sorga.

Namun para Calvinis tidak pasti siapa yang dipilih dan siapa yang tidak. Bahkan seorang Calvinis mendebat mahasiswa Graphe lewat internet berkata bahwa ia percaya ada orang yang sudah dipilih namun masih di kuil-kuil, di mesjid-mesjid, dan di gereja-gereja Arminian. Sedangkan ada orang yang sedang menjadi Gembala di gereja Reform tetapi sebenarnya tidak dipilih. Sesungguhnya Calvinis tidak memiliki kepastian masuk Sorga yang alkitabiah.

Kepastian masuk Sorga yang alkitabiah adalah, Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula. (Ibrani 3:14).

Mengenai keselamatan bayi yang meninggal sebelum akil-balik, para Calvinis sendiri kebingungan. Ada yang berkata bahwa bayi orang Kristen akan masuk Sorga sedangkan bayi non-Kristen akan masuk Neraka. Lalu bagaimana kalau tadinya seseorang belum menjadi Kristen, dan bayinya mati, dan sesudahnya ia menjadi Kristen? Betapa kejamnya Allah Calvinis yang memasukkan bayi ke dalam neraka karena status orang tuanya. Ada Calvinis yang sangat jujur yang mengaku tidak tahu. Memang benar, jangankan bayi yang mati, yang sudah jadi pengkhotbah terkenal pun bisa-bisa ternyata tidak terpilih.

Sebagian lagi mengajarkan baptism regeneration (keselamatan oleh baptisan) sehingga Reform dan Presbyterian giat membaptis bayi. Mereka mensejajarkannya dengan sunat PL, sementara itu mereka baptis bayi perempuan walau di PL wanita tidak disunat.

Di dalam Calvinisme tidak ada kepastian masuk Sorga, baik bayi, orang dewasa, anggota jemaat, bahkan para pendeta mereka pun sesungguhnya tidak ada kepastian masuk Sorga karena sesungguhnya mereka tidak tahu siapa dipilih Allah dan siapa disingkirkan Allah (reprobation).

KESIMPULAN

Tidaklah heran kalau Laurence M. Vance, Ph.D menulis dalam bukunya The Other Side of Calvinism berkata, “Calvinism is therefore the greatest Christian heresy that has plagued the church.” [(Calvinisme adalah ajaran sesat terdahsyat yang telah mewabahi gereja) Laurence M. Vance, The Other Side of Calvinism (Pensacola: Vance Publications, 2002), p.x.]

Bagaimana tidak, Mormonisme memang sesat, tetapi tidak diizinkan masuk ke dalam gereja melainkan diblock di luar, Saksi Yehuwa juga sesat dan juga diblock di luar. Sedangkan Calvinisme sesat dan dizinkan untuk memasuki gereja hingga hampir tidak ada denominasi yang terlepas dari pengaruhnya.

Calvinisme telah melenyapkan semangat penginjilan, bahkan semangat bertekun di dalam iman. Bayangkan, kalau Allah telah memilih sejumlah orang masuk Sorga atau Neraka sejak kekekalan melalui satu dekrit, untuk apa kita menginjil atau mempertahankan hidup keimanan kita? Calvinis selalu menjawab, “kita menginjil karena kita tidak tahu siapa dipilih dan siapa tidak.” Coba duduk tenang dan renungkan! Kalau angkanya sudah pasti, artinya giat beritakan Injil juga tidak akan menambah, dan tidak beritakan Injil juga tidak akan berkurang, lalu apa perlunya Injil diberitakan?

Filsafat Calvinistik inilah yang telah menghancurkan Eropa, yang tinggal sedikit waktu lagi akan menjadi wilayah Islam. Bahkan dengan Covenant Theology mereka telah menyuburkan Liberalisme sehingga telah dan sedang menghancurkan kekristenan dari dalam. Apakah ini berkat atau wabah bagi kekristenan?

Bayangkan jika Allah telah menetapkan (mempredestinasikan) atau menakdirkan segala sesuatu yang Calvin sendiri akui sebagaimana telah kita kutip di atas bahwa Allah menetapkan Adam jatuh ke dalam dosa, maka kejatuhan Adam adalah kesalahan Allah, bukan kesalahan Adam. Menurut Calvinis Allah juga yang menetapkan orang membunuh, memperkosa, mencuri yang tentu berarti juga Allah yang menetapkan keributan 14 Mei 1998. Bisakah kita simpulkan bahwa Calvinisme adalah filsafat yang diciptakan John Calvin dengan memungut sebagian ayat Alkitab sehingga filsafatnya bisa dimasukkan sebagai pengajaran kekristenan?

Jika kita renungkan dengan sungguh-sungguh, lima poin ajaran Calvinisme, maka satu dengan yang lainnya saling kait-mengait secara konsisten. Jika salah satunya gagal, maka yang lain juga harus ditinggalkan. Oleh sebab itu logisnya tidak ada orang yang four-points Calvinist, bahkan tidak ada yang one-point. Jika Calvinisme benar, maka ia benar kelima-lima poinnya.

Kita menjadi sangat heran, ada di antara mereka yang sudah memodifikasi ajaran John Calvin, atau men-drop beberapa poin dari TULIP, namun mereka tetap mau menyebut diri mereka Calvinis. Ketika pertanyaan ini dikemukakan, ada pihak yang menjawab, mungkin karena mereka telah terlanjur memakai nama gereja Reform atau Presbyterian yang nota bene adalah denominasi gereja yang didirikan oleh John Calvin dan teman-temannya. Atau sesungguhnya mereka belum pernah dilahirkan kembali, karena mereka belum pernah bertobat dan percaya kepada Kristus dengan benar melainkan hanya yakin secara membabi buta sebagai orang pilihan?

Jika anda berbicara dengan jemaat gereja Reform ataupun Presbyterian yang sesungguhnya adalah Calvinistik, tentang poin Calvinisme yang tidak masuk akal dan tidak alkitabiah, mereka pasti akan mengelak dengan berkata bahwa Calvinisme yang sejati tidak seperti itu. Bahkan sekalipun kita telah mengutip omongan John Calvin sendiri, mereka masih tetap akan berkelit dengan berkata bahwa itu pengajaran hypher-Calvinist. Mereka berbuat demikian karena ada poin tertentu yang terlalu sulit untuk dipertahankan, maka mereka menuduh kelompok Calvinis yang mempertahankan poin itu sebagai hypher-Calvinist. Dan mereka juga sering menuduh orang lain salah dalam memahami Calvinisme, sehingga Dr. David Cloud berkata, “jika tidak ada orang yang sanggup memahami Calvinisme, atau jika Calvinisme itu sedemikian berbelit-belit, maka pasti itu bukan kebenaran, melainkan penipuan.”

Tulisan ini tidak memiliki maksud negatif, melainkan ingin mengajak teman-teman Calvinis, dan mengingatkan orang Kristen, untuk menilai dengan nurani serta akal sehat yang murni. Jika Calvinisme memang sulit untuk dipertahankan, ya untuk apa dipertahankan. Bukankah tujuan kita berteologi itu untuk mencari kebenaran, bukan mencari pembenaran apalagi mempertahankan ketidakbenaran? Dengan kasih Kristus.***

(Buletin Pedang Roh edisi 47, Bab 13 Artikel 1 dari buku Doktrin Keselamatan Alkitabiah, Dr. Suhento Liauw, halaman 194-204, Jakarta: GITS, 2007)

AMSAL 23:23 Belilah kebenaran dan jangan menjualnya; demikian juga dengan hikmat, didikan dan pengertian.

Monday, April 20, 2009

KEDAULATAN ALLAH DAN KEBEBASAN MANUSIA YANG ALKITABIAH (Bag 5-Ending)

B. Ayat-Ayat Alkitab yang Disalahgunakan Kalvinis

Dalam usaha mereka untuk membuktikan bahwa Allah menentukan segala sesuatu, Kalvinis mencoba untuk memakai berbagai ayat Alkitab. Kita akan melihat, apakah ayat-ayat yang mereka pakai sungguh mengajarkan premis dasar Kalvinisme.

1. Keluaran 21:13. “Tetapi jika pembunuhan itu tidak disengaja, melainkan tangannya ditentukan Allah melakukan itu, maka Aku akan menunjukkan bagimu suatu tempat, ke mana ia dapat lari.” Dari ayat ini, Kalvinis mengatakan bahwa suatu hal yang tidak disengaja (pembunuhan), ditentukan oleh Allah. Mereka mengambil frase “tangannya ditentukan Allah,” untuk membuktikan bahwa segala tindakan manusia ditentukan oleh Allah.

Jawab: Kesalahan Kalvinis adalah tidak memperhatikan konteks dan juga mengambil kesimpulan yang terlalu cepat. Jika Allah menentukan tangan orang dalam suatu kasus pembunuhan tidak disengaja, apakah berarti Allah menentukan segala sesuatu? Sama sekali tidak. Kalau memperhatikan konteks, justru perikop ini membuktikan sebaliknya! Jika membaca dari ayat 12-13, ada dua jenis pembunuhan yang Tuhan diskusikan. Di ayat 12, Tuhan mengatur tentang pembunuhan yang disengaja: “Siapa yang memukul seseorang, sehingga mati, pastilah ia dihukum mati.” Barulah di ayat 13, ada aturan tentang pembunuhan yang tidak disengaja.

Coba dipikir dengan baik-baik, dan baca ayat 12 dan 13 dalam satu konteks. Orang yang tidak sengaja membunuh sesamanya, artinya tangannya ditentukan Tuhan. Sebagai contoh, dalam Ulangan 19:4-5, seseorang yang sedang menebang pohon dengan kapak, tiba-tiba mata kapak terlepas dan mengenai temannya. Lepasnya mata kapak, trayektori mata kapak, dan hal-hal lain yang mendukung sehingga mata kapak mengenai orang, semua itu ditentukan Allah. Ini tidak ada masalah, karena yang Allah tentukan bukanlah suatu keputusan manusia. Pembaca bisa melihat lagi dalam bagian pembahasan tentang bagaimana Allah mengendalikan sejarah. Undi ada di tangan Tuhan, jatuhnya mata kapak juga di tangan Tuhan! Hal-hal yang tidak sengaja itu ditentukan oleh Tuhan! Amin!

Apakah ini membuktikan Allah menetapkan segala sesuatu? Sama sekali tidak! Ayat 12 dan 13 sedang menjelaskan perbedaan dua kasus. Pembunuh di ayat 12, harus dihukum mati, karena membunuh dengan sengaja. Pembunuh di ayat 13, tidak dihukum mati karena tangannya ditentukan Allah. Kesimpulan apa yang dapat ditarik? Bahwa pembunuh di ayat 12 justru tangannya tidak ditentukan oleh Allah. Jadi, Kel. 21:12-13, justru membuktikan bahwa hal-hal yang dilakukan oleh manusia secara sengaja (atas kehendak sendiri), tidak ditentukan oleh Allah. Ayat ini tidak mendukung premis Kalvinis, sebaliknya membuktikan bahwa Allah tidak menentukan hal-hal yang manusia lakukan dengan sengaja!

2. Daniel 11:36 “Raja itu akan berbuat sekehendak hati; ia akan meninggikan dan membesarkan dirinya terhadap setiap allah. Juga terhadap Allah yang mengatasi segala allah ia akan mengucapkan kata-kata yang tak senonoh sama sekali, dan ia akan beruntung sampai akhir murka itu; sebab apa yang telah ditetapkan akan terjadi.” Ada Kalvinis yang ingin memakai ayat ini untuk membuktikan bahwa Allah menetapkan dosa. Raja dalam Daniel 11:36 ini (antikristus), jelas melakukan dosa. Kalvinis lalu mengambilfrase “apa yang telah ditetapkan akanterjadi,” untuk membuktikan bahwa dosa itu telah Allah tetapkan.

Jawab: Kalvinis melihat ayat ini dari kacamata bias doktrinnya sendiri. Padahal, jika dibaca secara normal, justru ayat ini mengajarkan bahwa perbuatan si raja jahat ini tidak ditentukan. Bagian awal ayat ini berkata, “raja itu akan berbuat sekehendak hati.” Apakah ini kurang jelas? Perbuatannya berasal dari kehendak dia sendiri, bukan ditentukan oleh Tuhan. Lalu apakah yang telah ditetapkan itu? Walaupun kehendak jahat raja itu berasal dari dirinya sendiri, dia tentu tidak akan berhasil kalau Allah tidak mengizinkan. Allah menetapkan bahwa kehendak jahat raja ini bisa dia laksanakan, salah satu caranya adalah dengan memberikan hidup yang cukup panjang kepada dia. Itulah sebabnya dikatakan bahwa “ia akan beruntung sampai akhir murka itu.” Tetapi, sampai titik tertentu, Allah tidak lagi mengizinkan maksud jahatnya untuk berhasil, dan saat itulah dia akan mati. Jadi, Allah sama sekali tidak menetapkan kejahatan yang ia perbuat. Allah mengontrol, sampai seberapa jauh kejahatannya dapat berlangsung.

3. Kisah Para Rasul 4:27-28 “Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dansuku-suku bangsa Israelmelawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi, untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendak-Mu.” Ini adalah perwakilan dari beberapa ayat lain, tentang kematian dan penyaliban Yesus, yang Kalvinis pakai. Argumen mereka cukup jelas, yaitu bahwa penyaliban Yesus telah Allah tentukan. Ini, bagi Kalvinis, membuktikan bahwa Allah menetapkan terjadinya dosa.

Jawab: Sekali lagi, Kalvinis membaca ayat ini dengan presuposisi doktrin mereka. Oleh karena itu mereka mendapatkan Allah menetapkan dosa disini. Padahal Allah yang mahakudus benci kepada dosa, masakan merencanakan dan mengharuskan dosa? Kalau ayat ini dibaca dengan netral, sama sekali tidak mengajarkan Kalvinisme. Ayat ini berbunyi: “telah berkumpul....bangsa-bangsa..... untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula.” Ayat ini TIDAK berbunyi: “Engkau menentukan mereka untuk menyalibkan Yesus (melakukan dosa).” Ada perbedaan antara dua kalimat tersebut.

Kehendak untuk menyalibkan Yesus berasal dari manusia itu sendiri, tidak pernah ditetapkan oleh Allah. Mereka punya pilihan untuk menerima Yesus, tetapi mereka memilih untuk menyalibkanNya. Allah yang mahatahu, memasukkan kehendak manusia-manusia jahat ini dalam rencana penyelamatanNya, sehingga Ia menentukan bahwa Yesus memang akan mereka salibkan. Jadi, Allah tidak menetapkan mereka harus menyalibkan Yesus. Allah tahu mereka mau menyalibkanNya (darikehendak mereka sendiri), dan Allah memutuskan, dalam kuasa dan kehendakNya, agar kemauan mereka tercapai, dan Yesus disalibkan.

Sebuah ilustrasi dapat membantu memberikan contoh dalam kehidupan nyata. Kepolisian Jakarta telah lama berusaha membongkar jaringan perampok toko emas. Suatu ketika, mereka mendapatkan info akurat (foreknowledge), bahwa para perampok akan beraksi di toko tertentu. Karena ingin menangkap para penjahat secara basah, para polisi memutuskan untuk tidak menghalangi niat para perampok, melainkan memasang jebakan. Akhirnya para perampok beraksi, dan di tengah perampokan mereka, mereka ditangkap oleh polisi. Tindakan perampokan itu berasal dari kehendak para perampok, sama sekali tidak ditentukan atau ditetapkan oleh para polisi. Para polisi pun punya kemampuan untuk membatalkan perampokan, misalnya dengan menempatkan banyak penjaga ekstra ditoko itu. Namun, untuk tujuan tertentu (menangkap basah para perampok), para polisi sengaja membiarkan para perampok untuk melakukan kejahatan mereka. Bisa dikatakan, bahwa tindakan para perampok persis sesuai dengan rencana para polisi, dan bahwa para perampok melakukan apa yang polisi rancangkan/tetapkan. Tetapi, jelas bukan polisi yang menetapkan mereka untuk merampok. Demikianlah, Allah mempergunakan kejahatan manusia, untuk tujuanNya sendiri. Pembaca silakan melihat lagi bagian pembahasan bagaimana Allah mengendalikan sejarah tanpa menentukan tindakan manusia.

4. Matius 10:29-30 “Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya.” Menurut Kalvinis, ayat ini mendukung konsep bahwa Allah menentukan segala sesuatu. Jawab: Dalam pembahasan sebelumnya, sudah dijelaskan, bahwa non-Kalvinis percaya Allah menentukan banyak sekali hal. Tetapi ini berbeda dengan menentukan segala hal. Banyak ayat yang Kalvinis kutip hanya menyatakan bahwa Allah menetapkan hal ini dan hal itu, tetapi tidak ada satupun yang menyatakan bahwa Allah menetapkan segala sesuatu.

Bahwa jumlah rambut di kepala kita diketahui oleh Tuhan, sama sekali tidak membuktikan bahwa Allah menetapkan segala tindakan kita. Diperlukan lompatan logika yang luar biasa untuk bisa menyimpulkan hal seperti itu dari ayat ini. Hidup matinya pipit berada di tangan Tuhan. Saya sungguh mengaminkan hal ini! Jangankan pipit, hidup matinya manusia pun ada di tangan Tuhan. Tetapi ini sama sekali tidak membuktikan bahwa Allah menentukan segala pikiran, tindakan, dan keputusan manusia.

5. Yeremia 4:28 “Karena hal ini bumi akan berkabung, dan langit di atas akan menjadi gelap, sebab Aku telah mengatakannya, Aku telah merancangnya, Aku tidak akan menyesalinya dan tidak akan mundur dari pada itu.” Saya akan mengutip argumen Asali dari ayat ini:

Ayat ini baru mengatakan 'Aku telah mengatakannya' dan lalu langsung menyambungnya dengan 'Aku telah merancangnya'. Ini jelas menunjukkan bahwa Tuhan mengatakan sesuatu kepada nabi-nabi (yang lalu dinubuatkan oleh para nabi itu), karena Tuhan telah merancang / merencanakannya.42

Jadi, Asali mengatakan bahwa ayat ini membuktikan pengetahuan Tuhan berasal dari penentuanNya. Asali juga menyatakan bahwa jika Tuhan bernubuat tentang sesuatu hal, berarti hal itu sudah Ia tentukan lebih dahulu.

Jawab: Ayat ini sama sekali tidak membuktikan bahwa semua pengetahuan Tuhan berasal dari penentuanNya. Kalau seorang dosen berkata, “Seluruh kelas akan berkabung karena ujian yang akan saya berikan, sebab aku telah mengatakannya, aku telah merancangnya, aku tidak akan menyesalinya dan tidak akan mundur dari pada itu.” Apakah ini membuktikan bahwa semua pengetahuan dosen itu berasal dari penentuannya? Tentu tidak!

Tentu ada banyak hal yang Allah tentukan, dan Allah tahu akan hal-hal itu. Ada banyak nubuat yang memang berasal dari ketentuan Tuhan. Tetapi tidak kurang juga nubuat yang tidak berasal dari ketentuan Tuhan, melainkan Tuhan memberitahu apa yang akan dilakukan oleh manusia. Contohnya, dalam 1 Samuel 23:12, Allah menubuatkan apa yang akan orang-orang Kehila lakukan jika Daud tinggal di Kehila. Pada kenyataannya, Daud tidak tinggal di Kehila, jadi itu bukanlah penentuan Tuhan. Nubuat (pengetahuan) ini bukanlah sesuatu yang Allah tentukan dulu!

6. Efesus 1:11 “Aku katakan "di dalam Kristus", karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya.” Bahwa Allah di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendakNya, diartikan oleh Kalvinis untuk mendukung premis mereka bahwa Allah menentukan segala sesuatu.

Jawab: Ayat inisama sekalitidak mengatakanbahwa Allahmenentukansegala sesuatu. Jikalau dikatakan bahwa “Allah bekerja di dalam segala sesuatu,” maka non-Kalvinis sama sekali tidak akan protes, karena itulah bunyi ayat ini. Allah memang bekerja dalam segala sesuatu. Segala tindakan dan keputusan manusia, haruslah melalui izin Allah, apakah dapat tercapai atau tidak. Seperti sudah diilustrasikan, seseorang bisa saja berniat untuk membunuh. Maksud pembunuhan tersebut tidak Allah tetapkan melainkan keluar dari hati orang yang jahat itu. Tetapi, Allah bekerja dalam segala sesuatu. Allah bisa menggagalkan niat pembunuhan itu, atau Allah bisa membiarkan niat pembunuhan itu untuk melaksanakan rencanaNya. Allah bekerja dalam segala sesuatu menurut keputusan kehendakNya! Ayat ini sama sekali tidak harus mendukung bahwa Allah telah menetapkan segala sesuatu.

Catatan Kaki

1 John Gill, A Body of Doctrinal and Practical Divinity (Paris: Baptist Standard Bearer, 1987), hal. 174.

2 Budi Asali, dalam “Kedaulatan / penetapan Allah dan Kebebasan / tanggung jawab manusia,” artikel yang didapatkan penulis lewat email.

3 Louis Berkhof, Systematic Theology, hal 100, dikutip oleh Asali.

4 David S. West, dalam “The Baptist Examiner Forum II,” The Baptist Examiner, 18 Maret 1989, hal. 5.

5 Timothy Tow dan Jeffrey Khoo, Theology for Every Christian (Singapura: Far Eastern Bible College, 2007), hal. 42.

6 Philip Melanchton, dikutip oleh Boettner, The Reformed Doctrine of Predestination (Phillipsburg: Presbyterian and Reformed Publishing Co., 1932), hal. 15.

7 Boettner, The Reformed Doctrine of Predestination, hal. 234.

8 R. C. Sproul, Chosen by God, hal. 26-27.

9 Arthur Pink, The Sovereignty of God, revised ed. (Edinburgh: The Banner of Truth Trust, 1961) hal. 147.

10 Ibid., hal. 249.

11 Edwin H. Palmer, The Five Points of Calvinism, enlarged ed., Grand Rapids: Baker Book House, 1980, hal. 82.

12 Asali, ibid.

13 Adalah kebiasaan Kalvinis, untuk mengelompokkan semua orang yang bertentangan dengan dirinya sebagai “Arminian.” Ini adalah taktik tentunya. Dengan demikian, mereka hanya perlu menjelek-jelekkan segala sesuatu yang berkaitan dengan Arminian. Orang akan ngeri dengan “Arminianisme,” dan mengaku Kalvinis hanya agar tidak disebut Arminian. Padahal, kelompok Non-Kalvinis berasal dari berbagai spektrum. Banyak yang memiliki pengajaran yang berbeda dengan James Arminius.

14 Boettner, The Reformed Doctrine of Predestination, hal. 44.

15 William G. T. Shedd, Dogmatic Theology, vol. I, hal. 396, dikutip oleh Asali.

16 Benjamin Warfield, Biblical and Theological Studies, hal 281.

17 Webster’s New World Dictionary, ed. 3, New York: Simon & Schuster, 1988, s.v. free will.

18 Budi Asali, dalam “Kedaulatan / penetapan Allah dan Kebebasan / tanggung jawab manusia,” artikel yang didapatkan penulis lewat email.

19 Asali, ibid.

20 Charles Spurgeon, dikutip dari Budi Asali.

21 Boettner, The Reformed Doctrine of Predestination, hal. 45.

22 Kita akan melihat di bagian berikutnya bahwa sebenarnya logika Boettner (dan Kalvinis) salah di sini. Kemahatahuan Allah tidak harus berarti bahwa Ia menentukan segala sesuatu.

23 Suatu doktrin yang juga ditentang oleh Kalvinisme. Tetapi lihat 1 Yoh. 2:2, Ibrani 2:9, Yoh. 1:29, dll.

24 Asali, ibid.

25 Ini hanyalah cetusan praktis dari Kalvinisme. Sebenarnya, yang paling sentral adalah: Kalvinisme hanya akan membuat manusia untuk berharap, “Semoga saya termasuk orang pilihan.”

26 Webster’s New World Dictionary, s.v. sovereign.

27 Kata “sovereign” juga tidak ditemukan dalam KJV.

28 Tentu kehendak bebas manusia berbeda dengan kehendak bebas Allah. Kehendak bebas Allah tidak dihalangi oleh apapun juga selain sifat-sifat Allah sendiri. Kehendak bebas manusia, selain dihalangi oleh sifat-sifat manusia itu sendiri, juga dapat dihalangi oleh kehendak bebas pribadi lain. Misalnya, penjahat yang dipenjara bisa saja ingin lepas, tetapi ia dihalangi oleh tembok yang dibangun oleh orang-orang lain.

29 Boettner, The Reformed Doctrine of Predestination, hal. 42.

30 William G. T. Shedd, Dogmatic Theology, vol. I, hal. 396.

31 Sekilas sepertinya kata “pasti” dan “harus” adalah sinonim. Tetapi ada perbedaan konotasi antara kedua kata ini.

32 Louis Berkhof, Theologi Sistematika, diterjemahkan oleh Yudha Thianto (Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1993), vol. 1, hal. 192.

33 William Lane Craig, The Only Wise God (Grand Rapids: Baker Book House, 1987), hal. 74.

34 Terjemahan literal. Dalam ITB, “foreknowledge” diterjemahkan “rencana,” memperlihatkan bahwa para penerjemah ITB telah dipengaruhi oleh Kalvinisme.

35 Pink, The Sovereignty of God, hal. 57.

36 Sekali lagi penerjemah ITB menunjukkan bias Kalvinis mereka. Dalam ITB, ayat ini berbunyi “Sebab semua orang yang dipilihNya dari semula.” Padahal, kata “dipilih” berasal dari proegno (mengetahui sebelumnya), dan semua terjemahan Inggris yang kompeten menerjemahkannya sebagai “foreknew” atau “foreknow” atau “know before.”

37 Warfield, Biblical and Theological Studies, hal 281.

38 James Arminius, The Works of James Arminius, diedit oleh James Nichols dan William Nichols (Grand Rapids: Baker Book House, 1986) vol. 2, hal. 160.

39 Charles Hodge, Systematic Theology (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 1989), vol. I, hal. 547.

40 Oleh LAI diterjemahkan “rencanaNya,” yang tidak berdasar sama sekali. Terjemahan Bahasa Inggris dengan konsisten memakai “foreknowledge,” yang baiknya diterjemahkan “pra-pengetahuan” Tuhan.

41 James O. Wilmoth dan David S. West, dikutip dalam Laurence M. Vance, The Other Side of Calvinisme (Vance Publications: Pensacola, Florida, 2002), rev. ed., hal. 276.

42 Asali, ibid.

KEDAULATAN ALLAH DAN KEBEBASAN MANUSIA YANG ALKITABIAH (Bag 4)

D. Allah yang Mengendalikan Sejarah

Tidak ada orang yang benar-benar percaya pada Alkitab yang akan meragukan bahwa Allah maha berdaulat. Demikian pula tidak ada seorang pun yang benar-benar mengerti kebenaran dapat meragukan bahwa Allah mengontrol sejarah. Perdebatan antara Kalvinis dengan non-Kalvinis sebenarnya bukanlah masalah apakah Allah berdaulat atau tidak. Perselisihan juga bukan pada poin apakah Allah mengendalikan sejarah atau tidak. Baik Kalvinis maupun non-Kalvinis percaya akan hal-hal tersebut. Permasalahannya adalah, apakah Allah yang berdaulat harus menentukan segala tindakan makhlukNya? Apakah Allah mengendalikan sejarah dengan cara menentukan segala tindakan makhlukNya?

Kita sudah melihat di bagian yang lebih awal, bahwa tidak ada suatu hal pun dalam definisi “kedaulatan” yang mengharuskan Allah untuk menentukan segala tindakan makhlukNya. Ide ini tidak inheren dalam makna “kedaulatan,” melainkan adalah suatu pilihan filosofis dari kaum Kalvinis. Lalu bagaimana dengan pengendalian atas sejarah?

Banyak sekali bukti dan contoh kasus dalam Alkitab, bahwa Allah memegang kendali penuh atas perjalanan sejarah. Nubuat-nubuat yang terdapat dalam Alkitab adalah salah satu contoh kendali Tuhan. Pada saat yang sama, Allah tidak menentukan tindakan-tindakan makhluk-makhlukNya, karena terbukti Ia masih meminta pertanggungan jawab makhluk-makhluk itu. Lalu, bagaimanakah Tuhan mengendalikan sejarah?

Pertama, walaupun Allah tidak menentukan segala sesuatu, tetapi Ia menentukan banyak hal. Jelaslah bahwa Allah yang menentukan semua hukumalamyang berlaku. Segala tindakan penciptaan Allah adalah keputusanNya sendiri. Banyak Kalvinis berpikir, bahwa karena non-Kalvinis menentang penentuanAllahatas segala sesuatu, maka kami tidak percaya Allah menentukan apa-apa. Ini tidak benar! Saya percaya Allah menentukan banyak sekali hal. Yang tidak Allah tentukan adalah keputusan-keputusan makhluk-makhluk yang berkehendak bebas. Mengapa Allah tidak menentukannya? Karena Allahlah yang pada awalnya menentukan mereka berkehendak bebas, yang berarti Allah ingin mereka sendiri yang memutuskan. Namun saya percaya bahwa hal-hal lain di luar kehendak bebas makhluk ciptaan Tuhan, ditentukan oleh Tuhan. Penulis Amsal mengakui kebenaran ini dengan pernyataan berikut: “Undi dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari pada TUHAN” (Ams. 16:33). Bukan hanya jatuhnya undian, saya percaya bahwa setiap tetes hujan yang turun, diatur oleh Tuhan untuk mengenai titik tanah yang tertentu, baik itu melalui hukum alam maupun intervensi khususNya. Setiap batu yang berguling, Tuhan tentukan trayektorinya, baik melalui hukum alam maupun intervensi khususnya. Hal-hal ini tidak berkaitan dengan kehendak bebas makhluk ciptaan, dan Allah memang menentukan hal-hal ini. Dengan jalan demikian, kita bisa memahami salah satu cara yang Tuhan pakai untuk mengendalikan sejarah, tanpa menentukan keputusan manusia. Kita melihat bagaimana undian telah Tuhan pakai sepanjang sejarah untuk mengendalikan jalannya sejarah (kisah Yunus, juga Nebukadnezar di dalam Yeh. 21:18-22).

Kedua, walaupun Allah tidak menentukan keputusan manusia, Allah menentukan apakah keputusan itu bisa sampai atau tidak. Alkitab selalu menyuruh manusia untuk memilih yang baik, menentukan yang benar, dan memutuskan secara bertanggung jawab. Ini adalah bukti implisit bahwa Allah tidak menentukan itu semua bagi manusia. Manusialah yang membuat berbagai keputusan bagi dirinya sendiri. Namun demikian, Allah dapat menentukan apakah keputusan manusia itu akan sampai atau tidak. Seseorang bisa saja memutuskan untuk membunuh temannya. Itu adalah keputusannya sendiri. Jika kita percaya bahwa Allah mahakudus, dan juga percaya bahwa manusia bertanggung jawab, kita tidak dapat mengatakan bahwa keputusan untuk membunuh telah ditentukan Tuhan. Namun demikian, Tuhan menentukan apakah keputusan orang tadi untuk membunuh akan terlaksana atau tidak. Tuhan bisa mengintervensi dengan berbagai cara. Orang itu bisa saja terkena serangan jantung atau tertimpa kecelakaan sebelum sempat melaksanakan niatnya. Intinya, Tuhan bisa memastikan bahwa niatnya tidak kecapaian. Oleh sebab itulah penulis Amsal berkata, “Banyaklah rancangan dihati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana” (Ams. 19:21). Bukan berarti bahwa Allah menentukan segala sesuatu. Justru ayat ini mengajarkan bahwa rancangan dalam hati tiap individu adalah rancangan dia sendiri. Itu keputusannya! Tetapi, Allah bisa mengintervensi sehingga niatnya tidak kesampaian, melainkan rencana Tuhan yang jadi!

Jadi, jelaslah bahwa segala sesuatu adalah atas izin Tuhan, tetapi bukan segala sesuatu ditetapkan oleh Tuhan. Ada perbedaan antara mengizinkan sesuatu dengan menetapkan sesuatu. Mengizinkan sesuatu berarti kehendak untuk melakukan berasal dari pihak lain. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa Allah mengizinkan dosa (untuk sementara waktu), dan Allah tidak bertanggung jawab atas dosa. Tetapi, jika Allah menentukan harus ada dosa, maka Allah bertanggung jawab akan dosa.

Berdasarkan pemahaman ini, kita juga mengerti mengapa Tuhan selalu melihat hati, lebih daripada hal-hal eksternal. TuhanYesus berkata bahwa: “Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya” (Mat. 5:27-28). Niat dan pikiran berzinah adalah keputusan orang itu, Tuhan tidak menentukannya. Tetapi belum tentu ada kesempatan dan peluang bagi dia untuk melakukan zinah itu. Walau dia tidak pernah berzinah secara fisik, di hadapan Tuhan dia sudah berzinah, karena Tuhan tahu pikiran dan niatnya. Dalam kondisi dan dengan peluang yang tepat, dia tentunya sudah berzinah.

Walaupun Allah tidak menentukan tindakan dan keputusan manusia, Allah senantiasa melakukan berbagai intervensi, agar rencanaNya jadi. Allah tidak pernah menentukan agar orang-orang Sodom menjadi sangat jahat. Itu adalah keputusan mereka. Tetapi, Allah mengintervensi agar kejahatan mereka tidak merusak rencanaNya. Tuhan menghancurkan Sodom dengan hujan belerang. Kita perlu mengucap syukur karena Allah kita mengendalikan sejarah dan senantiasa turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Roma 8:28).

Ketiga, rencana Allah dan intervensi yang Allah lakukan bekerja sama dengan kemahatahuan Allah. Kalvinis sering memakai kasus penyaliban Yesus Kristus untuk membuktikan bahwa Allah menentukan segala sesuatu, dan bahkan dosa. Hodge mengajarkan bahwa “Penyaliban Kristus tidak diragukan lagi ditentukan lebih dulu oleh Allah. Tetapi itu adalah tindakan kriminal terbesar yang pernah dilakukan. Karena itu tidak perlu diragukan, Alkitab mengajarkan dosa ditentukan lebih dulu merupakan pengajaran Alkitab.”39

Tentu tidak ada orang Kristen yang menyangkal bahwa Allah sudah merencanakan penyelamatan melalui kematian AnakNya, sejak kekekalan bahkan. Ada banyak ayat yang mengajarkan tentang rencana Tuhan ini. Petrus pernah berkhotbah tentang Yesus: “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan pra-pengetahuanNya, 40 telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka” (Kis. 2:23). Apakah ini berarti Allah menentukan tindakan orang-orang Israel yang menyalibkan Yesus? Sama sekali tidak ! Ini adalah asumsi Kalvinis. Kalau anda tidak memiliki bias Kalvinis, anda tidak akan mendapatkan dari ayat-ayat ini bahwa Allahlah yang membuat mereka menyalibkan Yesus! Justru ayat ini mengajarkan bahwa rencana Allah bekerja sama dengan kemahatahuanNya.

Orang Israel menyalibkan Yesus atas dasar keinginan mereka sendiri. Semuanya berjalan sesuai dengan rencana Allah, karena Allah mahatahu. Tuhan memutuskan untuk datang ke dalam dunia dalam waktu yang tepat dan dalam kondisi yang tepat. Dan Allah tahu apa tindakan manusia dalam tiap kondisi. Oleh karena itu, Allah dapat merencanakan penyaliban Kristus, tanpa memaksa manusia atau menentukan pilihan manusia. Dengan kata lain, Allah tahu bahwa jika Kristus lahir di zaman tertentu, lalu mengajarkan pengajaran-pengajaran yang benar, lalu melakukan segala yang Kristus lakukan, maka para tua-tua dan imam-imam akan berniat untuk membunuh Yesus. Niat itu sama sekali tidak ditentukan Allah, melainkan adalah keputusan dan tanggung jawab manusia. Yang Allah tentukan adalah bahwa niat mereka bisa tercapai dalam kondisi dan waktu yang tepat, dan mereka berhasil menyalibkan Yesus. Jadi, Allahtidak menentukan dosa terbesar dalam sejarah,Allah mengizinkannya. Dengan kata lain, niat dosa manusia, yang datang dari manusia itu sendiri, Tuhan pergunakan untuk maksud dan tujuan Tuhan!

Hal ini bisa menjawab pertanyaan, mengapa Allah mengizinkan dosa? Tuhan memiliki maksud dan tujuanNya sendiri. Walaupun dosa tidak disebabkan oleh Tuhan, dan tidak ditentukan oleh Tuhan, tetapi untuk sementara waktu Tuhan membiarkan dosa. Selalu ada tujuan dibaliknya. Dalam kasus penyaliban Yesus, kita melihat bagaimana Allah menggunakan dosa manusia untuk justru mendatangkan keselamatan. Sama sekali bukan Tuhan yang menentukan dosa itu, melainkan Tuhan “memelintir dosa itu” untuk tujuanNya. Dalam kasus Yusuf dan saudara-saudaranya, Yusuf bisa mengambil kesimpulan: “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah merekarekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar” (Kej. 50:20). Dari ayat ini, sama sekali tidak ada indikasi bahwa kejahatan kakak-kakak Yusuf adalah atas penentuan Tuhan. Justru ayat ini mengajarkan konsep yang kita bahas di bagian ini, bahwa dengan kemahatahuanNya dan kemahakuasaanNya, Tuhan memperhitungkan dosa sedemikian rupa dalam rencanaNya, agar dosa itu memainkan peran dalam rencana Tuhan.

Untuk mengulangi sekali lagi, kejahatan manusia dan Iblis tidak Tuhan tentukan. Namun, kejahatan mereka Tuhan izinkan, dan Tuhan pakai untuk maksudNya yang baik. Oleh karena itulah dalam Wahyu dikatakan: “Sebab Allah telah menerangi hati mereka untuk melakukan kehendak-Nya dengan seia sekata dan untuk memberikan pemerintahan mereka kepada binatang itu, sampai segala firman Allah telah digenapi” (Wah. 17:17).

Sebagai kesimpulan, saya dapat mengatakan bahwa Allah yang berdaulat tidaklah perlu menentukan segala sesuatu. Lebih lanjut lagi, karena Allah mahatahu, karena Ia adalah Pencipta, karena Ia mahakuasa, Ia tidak perlu menentukan pilihan-pilihan manusia agar dapat mengendalikan alam semesta ini.

E. Kedaulatan Mana Yang Lebih Agung?

Kalvinis banyak menggunakan konsep “kedaulatanAllah” untuk menakut-nakuti non-Kalvinis. Seolah-olah hanya Kalvinis-lah yang percaya dengan sungguh-sungguh akan kedaulatan Tuhan. Seolah-olah, jika Tuhan tidak menentukan segala sesuatu, maka Tuhan kehilangan kendali atas alam semesta ciptaanNya.

Tetapi kita telah melihat, bahwa tidak benar demikian. Definisi “kedaulatan” itu sendiri sama sekali tidak memerlukan penentuan atas segala sesuatu. Kita juga telah melihat bagaimana Allah tetap memegang kendali atas segala sesuatu, walaupun Ia memberikan kehendak bebas pada manusia. Pertanyaan yang muncul justru adalah sebagai berikut: Kedaulatan versi mana yang lebih agung? Kedaulatan Allah versi Kalvinis, di mana Allah menentukan segalanya? Atau kedaulatan versi Alkitab, di mana ada kehendak bebas manusia (yang tidak ditentukan Allah)?

Manakah yang lebih hebat dan agung, (1) bahwa rencana Allah terlaksana karena Allah menentukan segala sesuatu, atau (2) bahwa rencana Allah terlaksana walaupun banyak makhluk bebas yang menentangNya, namun tetap rencanaNya yang menang? Manakah yang lebih hebat, berhasil mengendalikan suatu lingkungan yang segala aspeknya anda tentukan, atau berhasil mengendalikan suatu lingkungan yang terdiri dari pribadi-pribadi bebas lainnya? Manusia dan Iblis dalam skema Kalvinis, telah ditentukan oleh Allah segala pikiran dan tindakan mereka. Bahwa lalu segalanya berjalan sesuai dengan rencana Allah tidaklah mengherankan. Yang kita herankan adalah justru jika segalanya ditentukan Allah, mengapa masih terjadi banyak dosa dan kekacauan. Jika seseorang berhasil mengendalikan 100 robot yang dia buat, untuk menciptakan suasana persis seperti keinginannya, ini bukan hal yang mengagumkan. Toh segalanya tinggal di program. Tetapi, ketika seorang guru berhasil mengendalikan 100 siswa untuk menciptakan suasana persis seperti keinginannya, ini adalah suatu hal yang hebat. 100 siswa ini bisa menentang atau mengikuti keinginan guru tersebut. Jadi, kedaulatan mana yang lebih hebat dan agung? Kedaulatan di mana semuanya sudah ditentukan, atau kedaulatan di mana ada makhluk-makhluk bebas, bahkan banyak yang menentang Allah, tetapi pada akhirnya semuanya sesuai dengan rencana Allah?

Jikalau saya mengambil ilustrasi sebuah permainan catur, konsep Kalvinis dapat digambarkan dengan seorang yang bermain catur sendirian. Dia menggerakkan buah-buah putih dan juga buah-buah hitam. Dia menentukan segala sesuatu. Serangan musuh, dia yang tentukan, tangkisannya juga dia yang tentukan. Bisa saja pemain solo ini melakukan acting, dan seolah-olah memerankan dua orang yang sedang bertarung. Tetapi pada dasarnya, dialah yang menentukan setiap langkah. Jikalau permainan ini berakhir dengan kemenangan bagi pihak yang dia pilih, maka tidak ada seorangpun yang perlu kagum. Ini adalah hal yang mendasar. Jika anda menentukan segala sesuatu maka hasil akhir pastilah sesuai keingian anda, ini adalah hukum alam.

Bandingkan dengan konsep yang Alkitabiah. Kembali ke ilustrasi catur, kali ini ada seorang grandmaster yang hebat sekali, melawan pemain yang riil. Lawannya benar-benar berniat mengalahkan sang grandmaster, dan sama sekali tidak ada kolusi. Kolusi saja tidak ada, jadi sang grandmaster sama sekali tidak menentukan langkah-langkah musuhnya. Namun, kemampuan dan penguasaan sang grandmaster begitu jauh di atas lawannya, sehingga ia dapat membaca semua gerakan lawannya itu. Ia benar-benar mengendalikan permainan. Ia menyerang dan bertahan sesuai keinginannya. Bahkan ia memakai gerakan-gerakan musuhnya untuk kepentingannya sendiri. Musuhnya mungkin menggerakkan buah caturnya untuk menyerang, tetapi sang grandmaster tahu, bahwa justru langkah itu bisa dipakai dalam rencananya sendiri.

Dalam kisah mitos Cina, ada seorang pecatur yang legendaris. Kehebatannya terkenal ke mana-mana sehingga raja pun ingin menjajalnya. Jeleknya, raja ini punya sifat yang sombong. Dia merasa dirinya paling hebat dan mestinya mampu mengalahkan siapapun. Namun demikian, raja tidak mau pecatur legendaris ini mengalah daripadanya. Oleh karena itu, dia membuat suatu peraturan. Sang grandmaster catur tidak boleh kalah dari padanya, dan jika kalah maka sang grandmaster akan dibunuh.

Pertandingan catur antara raja melawan grandmaster pun di mulai. Sebenarnya mudah bagi sang grandmaster untuk mengalahkan raja yang sombong itu. Tetapi si grandmaster tahu sifat raja itu. Kalau dia menang, maka raja yang sombong ini pasti akan membunuhnya juga. Sedangkan kalau dia kalah, maka raja telah mengeluarkan titah untuk membunuhnya. Akhirnya, setelah berpikir, pecatur hebat itu memutuskan untuk mengendalikan permainan sedemikian rupa, sehingga hasil akhir adalah remis. Pada awalnya, raja tidak sadar, karena permainan sang grandmaster seolah-olah serius. Karena penasaran, raja mengulangi permainan berkali-kali dan hasilnya selalu remis. Akhirnya setelah semua permainan berakhir remis, raja itu sadar betapa hebat pecatur itu sebenarnya. Pecatur itu dapat mengendalikan hasil-akhir dari permainan, walaupun raja berusaha keras untuk mengalahkannya!

Memang, ilustrasi catur tentu tidak sempurna untuk menggambarkan hubungan antara Allah dengan ciptaanNya. Tetapi, konsep Kalvinis bahwa Allah menentukan segala sesuatu, tercermin pada kasus seorang pecatur yang bermain sendirian. Sama sekali tidak ada keagungan! Dan jika pada akhirnya manusia dan malaikat memuji dan menyembah Allah, atas dasar penentuan Allah, ini pun tidak memuaskan. Manusia saja tidak akan puas jika dipuji-puji oleh komputer atau robot yang telah diprogram. Itulah sebabnya Allah menciptakan makhluk yang bebas, yang serupa dan segambar dengan Dia, yang dapat membuat keputusan atas dasar dirinya sendiri. Makhluk-makhluk yang bebas ini, membawa kemuliaan kepada Allah pencipta mereka, ketika mereka atas keputusan mereka sendiri menyembah dan memuji Allah.

Kedaulatan mana yang lebih agung? Skema mana yang lebih menunjukkan kehebatan dan kekuasaan Allah atas ciptaanNya? Pecatur yang bermain sendirian dan menentukan segala sesuatu sendiri? Oh, teman-teman Kalvinisku, tidak dapatkah anda melihat, bahwa Kalvinisme justru membuat kedaulatan Allah menjadi tidak agung sama sekali?

VI. Pengajaran Alkitab

Walaupun sudah cukup banyak ayat-ayat yang kita lihat dalam pembahasan sejauh ini, bagian ini akan secara spesifik membahas berbagai ayat yang berhubungan dengan kedaulatan Tuhan, kebebasan manusia, dan apakah Tuhan menentukan segala sesuatu atau tidak.

A. Alkitab Mengajarkan Bahwa Allah Tidak Menentukan Segala Sesuatu

Ada banyak alasan dari Alkitab, mengapa Allah tidak mungkin menentukan segala sesuatu. Mari kita perhatikan satu persatu alasan-alasan di bawah ini.

Pertama, Allah sendiri menyatakan bahwa Dia tidak menentukan segala sesuatu! Mengenai praktek penyembahan berhala dan pengorbanan anak yang ditiru oleh orang Israel dari bangsa-bangsa sekitar mereka, Allah berkata: “Mereka telah mendirikan bukit-bukit pengorbanan bagi Baal untuk membakar anak-anak mereka sebagai korban bakaran kepada Baal, suatu hal yang tidak pernah Kuperintahkan atau Kukatakan dan yang tidak pernah timbul dalam hati-Ku” (Yer. 19:5). Jikalau Tuhan tidak pernah memerintahkannya, dan bahkan tidak pernah timbul dalam hati Tuhan, bagaimana mungkin Tuhan menentukannya? Mustahil! Justru dosa yang sangat biadab ini muncul dari hati manusia yang jahat, bukan ditentukan oleh Tuhan. Tuhan menegaskan bahwa hal ini tidak pernah timbul dalam hatiNya! Apakah Kalvinis mau percaya kepada pernyataan langsung dari Tuhan, atau lebih percaya kepada guru-guru Kalvinis mereka? Ataukah Tuhan membohongi kita, dan bahwa sebenarnya tindakan ini telah ditentukan dalam suatu “dekrit rahasia?” Saya lebih percaya pada Tuhan!

Kedua, sifat Allah yang mahakudus tidak memungkinNya menentukan dosa! Poin ini telah dibahas sebelumnya, jadi hanya akan disinggung sekilas saja. Allah yang “kudus, kudus, kudus” (Yes. 6:3) dan yang “membenci kefasikan” (Maz. 45:8), tidak mungkin menetapkan dan mengharuskan adanya kefasikan dan dosa.

Ketiga, Allah tidak bermain sandiwara! Berbicara melalui Yesaya kepada kaum Israel, Tuhan berkata, “Tidak pernah Aku berkata dengan sembunyi atau ditempat bumi yang gelap. Tidak pernah Aku menyuruh keturunan Yakub untuk mencari Aku dengan sia-sia! Aku, TUHAN, selalu berkata benar, selalu memberitakan apa yang lurus” (Yes. 45:19). Nyatanya, banyak keturunan Yakub yang tidak mencari Tuhan! Apakah Tuhan menentukan mereka untuk tidak mencariNya, lalu memberi perintah untuk mencariNya? Itu sandiwara! Tetapi ayat ini menegaskan bahwa Tuhan tidak bermain seperti itu. Tuhan tidak menetapkan ketidakpercayaan Israel. Jelas, Tuhan tidak menetapkan segala sesuatu.

Keempat, jika Allah menentukan segala sesuatu, manusia tidak bertanggung jawab! Inijuga telah dibahas dibagian sebelumnya. Tentang Yudas, Tuhan Yesus berkata, “Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan!” (Luk 22:22). Kalvinis sering salah mengartikan kata “telah ditetapkan,” dan menyimpulkan bahwa pengkhianatan Yudas ditetapkan oleh Allah. Tetapi ayat ini tidak berkata bahwa tindakan Yudas ditetapkan Tuhan. Ayat ini mengajarkan bahwa adalah ketetapan Allah agar Yesus diserahkan dan disalibkan. Silakan lihat lagi bagian pembahasan tentang bagaimana Tuhan mengendalikan sejarah. Melalui kemahatahuan dan intervensi Allah (kelahiran Yesus, dll), Tuhan tahu bahwa imam-imam kepala akan memutuskan untuk membunuh Yesus. Hal ini Tuhan pakai dalam rencanaNya bagi keselamatan manusia. Jadi, penyaliban Yesus memang adalah menurut rencana dan maksud Allah. Allah bukan menetapkan maksud jahat manusia, Allah menetapkan bahwa maksud jahat mereka boleh terlaksana! Tuhan bukan menetapkan bahwa Yudas akan menjual Yesus, tetapi Tuhan menetapkan bahwa niat jahatnya itu dapat terlaksana, sesuai rencana Tuhan. Jika Tuhan yang menetapkan Yudas untuk menjualnya, dan Yudas tidak punya pilihan lain, maka di manakah keadilan perkataan Yesus: “celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan!”

Kelima, Alkitab mengajarkan bahwa manusia memiliki kehendak dirinya sendiri! Daud berkata kepada Salomo: “Dan engkau, anakku Salomo, kenallah Allahnya ayahmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan dengan rela hati, sebab TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita. Jika engkau mencari Dia, maka Ia berkenan ditemui olehmu, tetapi jika engkau meninggalkan Dia maka Ia akan membuang engkau untuk selamanya” (1 Taw. 28:9). Salomo diperintahkan untuk beribadah dengan rela hati. Kerelaan hati mengimplikasikan bahwa tindakan itu adalah atas dasar keinginan sendiri, bukan dipaksa atau ditentukan oleh orang lain. Kerelaan hati yang telah ditentukan oleh Tuhan adalah konsep yang kontradiktif. Masih banyak ayat lain yang berbicara mengenai kerelaan seseorang (e.g. Ezra 7:13; Hakim 5:2).

Ada juga ayat-ayat tentang kehendak manusia. Tuhan berjanji, “Jikalau kamu tinggal didalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (Yoh. 15:7). Apakah Tuhan telah menetapkan kehendak kita, lalu menyuruh kita untuk meminta sesuai dengan “kehendak” yang telah ditetapkan itu? Apakah ini tidak terdengar aneh bagi anda? Pembacaan Alkitab yang normal, dan pengalaman hidup sehari-hari memberitahu kita bahwa kehendak kita sungguh adalah kehendak kita sendiri, bukan sesuatu yang telah ditentukan Allah. Kalvinis juga mengajarkan bahwa dalam hidup ini, keputusan-keputusan manusia seolah-olah adalah keputusannya sendiri. Hanya saja, menurut mereka sebenarnya keputusan itu telah ditetapkan dalam “dekrit rahasia” Allah. Tetapi, saya tidak tahu siapa yang memberitahu para Kalvinis “rahasia” ini, karena sama sekali tidak ada dalam Alkitab.

Keenam, Alkitab mengajarkan bahwa doa dapat mengubah keadaan! Kebanyakan orang Kristen yang berdoa, percaya bahwa doanya dapat membawa perubahan dalam dunia ini. Tetapi, jika segala sesuatu telah ditentukan oleh Allah, maka bagaimana mungkin doa dapat membawa perubahan? Oleh sebab itulah, James O. Wilmoth, seorang Kalvinis, berkata: “Kita tahu bahwa Allah telah mempredestinasikan segala sesuatu yang terjadi. Ia mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan maksud kehendakNya sendiri. Sulit untuk merekonsiliasi doa dengan kehendak Allah yang tidak berubah.” David West berkata, “Doa tidak mengubah apapun, doa juga tidak mengubah Allah atau pikiranNya.”41

Bandingkanlah dengan ayat-ayat Alkitab seperti berikut:

Sesudah itu aku sujud di hadapan TUHAN, empat puluh hari empat puluh malam lamanya, seperti yang pertama kali roti tidak kumakan dan air tidak kuminum karena segala dosa yang telah kamu perbuat, yakni kamu melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, sehingga kamu menimbulkan sakit hati-Nya. Sebab aku gentar karena murka dan kepanasan amarah yang ditimpakan TUHAN kepadamu, sampai Ia mau memunahkan kamu. Tetapi sekali inipun TUHAN mendengarkan aku. Juga kepada Harun TUHAN begitu murka, hingga Ia mau membinasakannya; maka pada waktu itu aku berdoa untuk Harun juga. (Ul. 9:18-20)