Thursday, May 01, 2014

Berita Bulan FEBRUARI 2014

TUR PERINGATAN DI TEMPAT LAHIRNYA API LIAR PANTEKOSTA
(Berita Mingguan GITS 22 Februari 2014, sumber: www.wayoflife.org)
Pada tanggal 22 Februari, sebuah tur jalan peringatan akan dilangsungkan di Los Angeles untuk memperingati ulang tahun kelahiran gerakan Pantekosta di Azusa Street Mission. Tur itu akan dipimpin oleh Mel Robeck dari Fuller Theological Seminary. Seratus delapan tahun yang lalu, William Seymour memulai Misi di Jalan Azusa (dikenal sebagai Azusa Street Mission) untuk mengajarkan kesesatan-kesesatannya, termasuk sinless perfectionism (bahwa orang Kristen bisa dan harus tidak berdosa sama sekali), jaminan kesembuhan, revival mujizat rasuli di akhir zaman, dan berbahasa lidah sebagai “bukti awal baptisan Roh Kudus.” Pertemuan-pertemuan di Jalan Azusa berlangsung lebih dari tiga tahun, dengan sejumlah besar orang yang menghadiri untuk mencari “Pentakosta” pribadi mereka masing-masing, dan setelah itu membawa theologi dan pengalaman itu kembali ke rumah-rumah mereka di seluruh Amerika dan dunia. Kebaktian-kebaktian yang diadakan di sana sungguh adalah kekacaubalauan. Biasanya tidak ada yang memimpin. “Siapapun yang diurapi dengan pesan akan berdiri dan menyampaikannya. Bisa jadi seorang lelaki, perempuan, atau anak-anak” (Larry Martin, The Life and Ministry of William J. Seymour, hal. 186). Orang-orang bernyanyi bersamaan, tetapi “dengan suku kata, ritme, dan melodi yang sama sekali berbeda” (Ted Olsen, “American Pentecost, Christian History, Issue 58, 1998).
Orang-orang berlompatan, jatuh, kejang-kejang, membuat suara-suara binatang yang aneh, tertawa histeris. Orang-orang yang datang untuk mencari tahu akan “terikat oleh semacam suatu sihir dan mulai mengucapkan kata-kata tak berarti.” Seorang penyelidik biografi William Seymour yang simpati padanya, mengakui bahwa “ada kalanya pertemuan-pertemuan itu menjadi sedemikian ribut sehingga polisi dipanggil” (Martin, The Life and Ministry of Seymour, hal. 188). Satu orang pernah kejang sedemikian keras di bawah pelayanan Seymour sehingga ambulans dipanggil. Ketika orang yang kejang-kejang itu memberitahu dokter, “Jangan sentuh saya, ini kuasa Allah,” dokter itu dengan berhikmat menjawab, “Jika ini kuasa Allah, kuasa itu sedang menggoncangkan kamu sehebat Iblis” (Martin, hal. 306). “Membunuh roh” juga adalah bagian besar dari kebaktian di Jalan Azusa. Seymour jatuh “seperti mati” ketika pertama kali ia berbahasa lidah, dan “kadang kala orang-orang berjatuhan di berbagai tempat di rumah itu, seperti suatu bala tentara yang terbunuh di medan tempur...” (Martin, hal. 148, 179).

SALAH SATU PENDIRI GERAKAN PANTEKOSTA MENOLAK JALAN AZUSA
(Berita Mingguan GITS 22 Februari 2014, sumber: www.wayoflife.org)
Wiliam Seymour dan Charles Parham sering disebut sebagai “para pendiri Pantekostalisme dunia” (Antonio Arnold, We Are Living in the Finished Work of Christ, p. 143), tetapi Parham tidak menerima pengalaman-pengalaman Jalan Azusa sebagai suatu gerakan dari Allah. Seymour adalah bagian dari gerakan Apostolic Faith (Iman Rasuli)-nya Parham, dan dia adalah seorang murid di Sekolah Alkitab-nya Parham di Houston ketika dia mendapat panggilan untuk pindah ke Los Angeles. “Berbahasa lidah” telah muncul pada tahun 1901 di Sekolah Alkitab Bethel milik Parham di Topeka, Kansas, sebelum dia pindah ke Houston. Kita bahkan memiliki deskripsi dari kata-kata persis yang diucapkan dalam “bahasa lidah” itu oleh salah satu murid Parham di Topeka, yang direkam oleh seorang wartawan Topeka State Journal. Saya menemukan satu salinan dari koran tersebut ketika mengunjungi Kansas Historical Society pada tahun 2002: “Mr. Parham memanggil Miss Lilian Thistlethwaite ke dalam ruangan dan bertanya apakah dia bisa berbicara sedikit lagi. Dia [Lilian] ... mulai mengucapkan kata-kata yang aneh yang terdengar seperti ini: ‘Euossa, Euossa, use rela sema calah mala kanah leulla ssage nalan. Ligle logle lazie logle. Ene mine mo, sah rah el me sah rah me’ (“Hindoo and Zulu Both Are Represented at Bethel School,” Topeka State Journal, 9 Jan. 1901). Ini tidak lain murni adalah kata-kata sembarangan. Ketika Parham mengunjungi kebaktian di Jalan Azusa pada Oktober 1906, dia menjadi kecewa oleh “sentakan-sentakan dan kejang-kejang kacau” yang dilakukan para “peneriak suci dan penghipnotis.” Dia mengatakan bahwa kebaktian-kebaktian Jalan Azusa sebagian besar dicirikan oleh manifestasi kedagingan, pengendalian rohani atas orang lain, dan praktek hipnotisme (Sarah Parham, The Life of Charles F. Parham, Joplin, MO: Tri-state Printing, 1930, hal. 163). Ketika Parham tiba di Jalan Azusa tahun 1906, dia memulai khotbah pertamanya dengan memberitahu orang-orang di sana bahwa “Allah sakit perut” karena hal-hal yang terjadi di Azusa (Charles Shumway, A Study of the “Gift of Tongues,” A.B. thesis, University of California, 1914, hal. 178, 179; dikutip oleh Goff, Fields White Unto Harvest, hal. 131). Menurut Parham, dua pergia orang yang mengaku sebagai Pantekosta di zaman dia adalah “terhipnotis atau didorong oleh rasa takut” (Sarah Parham, hal. 164).

TIDAK ADA UNTA DI ZAMAN ABRAHAM?
(Berita Mingguan GITS 22 Februari 2014, sumber: www.wayoflife.org)
Sebuah laporan tanggal 10 Februari di New York Times berjudul “Camels Had No Business in Genesis.” Laporan itu mengutip klaim dari arkeolog Universitas Tel Aviv, Erez Ben-Yosef dan Lidar Sapir-Hen bahwa “unta kemungkinan tidak atau sedikit berperan dalam kehidupan patriarkh awal Yahudi seperti Abraham, Yakub, dan Yusuf.” Pandangan ini didasarkan pada  kurang ditemukannya tulang unta dari periode waktu itu. Ini adalah argumen kuno dari tidak ditemukannya sesuatu yang sudah sejak lama dipatahkan. Kita juga tidak akan menemukan tulang bison di Amerika Barat walaupun jutaan ekor pernah hidup di sana. Faktanya, ada bukti arkeologis tentang unta di Mesir, Mesopotamia, dan Siria, yang berasal dari zaman sebelum Abraham bahkan. (Lihat K.A. Kitchen, Ancient Orient and Old Testament, Chicago: InterVarsity, 1966, hal. 79-80.) Karena Abraham berasal dari Mesopotamia (Ur dan Haran), tidaklah sulit untuk melihat bahwa dia membawa unta-unta bersama dirinya ketika ia pindah ke Kanaan. Lebih lanjut lagi, Alkitab tidak mengatakan bahwa unta dipakai luas di Kanaan. Misalnya, tidak dikatakan bahwa orang Filistin memakai unta. Kata “unta” muncul 25 kali di Kejadian, dan setiap kalinya pasti mengacu kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Dr. Andrew Steinmann, profesor Ibrani di Concordia University, Chicago, menunjukkan bahwa kesalahan ada pada pihak para arkeolog Universitas Tel Aviv yang salah membaca Alkitab. Mereka berasumsi bahwa Alkitab mengatakan unta dipakai luas di Kanaan pada zaman Abraham, padahal Alkitab tidak mengatakan hal itu (“Does the Camel Study Really Prove,” Breitbart.com, 17 Feb. 2014). Para arkeolog yang skeptis telah sering mencoba menyerang Alkitab dari dasar tidak ditemukannya sesuatu dari penggalian arkeologis dan sumber-sumber luar Alkitab. Ini adalah metode prominen yang dipakai oleh kaum liberal di bagian awal abad 18. Sebagai contoh, karena mereka tidak memiliki bukti luar Alkitab pada waltu itu, bahwa manusia bisa menulis sebelum 1000 SM, mereka mengklaim bahwa Musa tidak mungkin menulis Hukum Taurat, dan karena tidak ada bukti luar Alkitab tentang suku Het atau kota Ur, atau orang Filistin, atau Raja Daud, mereka pastinya tidak eksis. Dalam kasus-kasus ini dan banyak sekali lainnya, arkeologi akhirnya menyuguhkan bukti luar Alkitab yang mereka cari dan argumen dari “tidak ditemukannya sesuatu” gagal total. Namun “tidak ditemukannya sesuatu” masih dipakai untuk menyerang Alkitab. Kita harus mengakui bahwa para skeptis ini gigih. Ini mengingatkan saya tentang apa yang dikatakan seorang wanita yang berpikiran positif ketika ditantang untuk mengatakan satu hal positif mengenai Iblis. Dia menjawab, “Dia selalu aktif bekerja.”

MITOS AIR BAH KAFIR: BAHTERA KUBUS DAN BAHTERA BUNDAR
(Berita Mingguan GITS 8 Februari 2014, sumber: www.wayoflife.org)
Sejak penemuan Babylonian Gilgamesh Epic (cerita tentang Gilgamesh dalam budaya Babel kuno) pada abad ke-19, para skeptik telah berusaha memakai cerita-cerita tentang air bah dari suku-suku penyembah berhala untuk menyerang Alkitab. Namun, sama seperti semua usaha untuk menyerang Alkitab lainnya, ini pun penuh kelemahan. Tablet Gilgamesh yang pertama ditemukan pada tahun 1850an oleh Henry Layard, di reruntuhan Niniwe dan diterjemahkan pada tahun 1872 oleh George Smith dari British Museum. Isinya antara lain adalah cerita yang disampaikan oleh seorang tokoh bernama Utnapishtim kepada Gilgamesh tentang bagaimana ia bisa lolos dari air bah dan mendapatkan hidup yang kekal. Beberapa versi cerita ini telah ditemukan belakangan. Bertentangan dengan kisah Alkitab yang agung, Gilgamesh Epic ini sekali nampak jelas terlihat sebagai mitos kafir yang sangat konyol. Para ilah kafir dalam cerita ini sungguh lemah, saling bersaing, dan menipu satu sama lain. Sama konyolnya, bahtera yang dipakai Gilgamesh adalah berbentuk kubus, yang pastinya sangat tidak stabil bahkan dalam laut yang tenang sekalipun! Belakangan ini, Irving Finkel dari British Museum juga telah menerjemahkan satu lagi kisah kafir kuno tentang air bah, dan yang satu ini menggambarkan sebuah bahtera yang bundar bentuknya, sebesar lapangan bola, terbuah dari rangka kayu yang diikat dengan tali. Wow, berapa kokoh bahtera seperti itu menghadapi badai paling buruk sedunia! Finkel mengobservasi bahwa ada perahu-perahu bundar, yang disebut coracle, yang dipakai di sungai-sungai, dan itu memang benar, tetapi perahu untuk sungai bukanlah perahu untuk lagu. Sebagai kontras, bahtera dalam kitab Kejadian dideskripsikan berukuran 150 meter kali 25 meter kali 15 meter, mirip dengan proporsi kapal-kapal modern seperti tanker minyak dan kapal-kapal kargo. Tabletnya Finkel tidak diketahui asalnya. Ia mendapatkannya dari “seseorangy yang ayahnya mendapatkannya dari Timur Tengah setelah Perang Dunia II” ("British Museum: Prototype of Noah's Ark Was Round,” The Times of Israel, 24 Jan. 2014). Jadi, tidak seoranpun tahu dari mana datangnya, siapa yang menulisnya atau kapan ditulisnya. Klaim Finkel bahwa tablet itu berusia 4000 tahun adalah tebakan saja. Namun tablet ini, dengan ceritanya yang konyol, tanpa sejarah kuat, dipakai untuk menggulingkan Perjanjian Lama yang didukung oleh Yesus Kristus, Anak Allah, sebagai tulisan yang diilhamkan. Jangan tertipu oleh kata-kata skeptik. Manusia sering kali salah, tetapi Alkitab belum pernah salah. “Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya” ( 2 Pet. 3:3).

EDITOR: Banyaknya cerita-cerita tentang air bah di berbagai suku dan kebudayaan membuktikan bahwa air bah benar-benar pernah terjadi, dan bahwa sifatnya universal, sehingga semua suku bangsa mengetahuinya. Tetapi, dari semua kisah tentang air bah, yang tercatat dalam Alkitab-lah yang masuk akal, yang lainnya sangat konyol. Ini membuktikan bahwa kebenaran peristiwa ini tercatat dalam kitab Kejadian.

PEMENANG GRAMMY TIDAK PAHAM SOAL SEPARASI ALKITABIAH
(Berita Mingguan GITS 8 Februari 2014, sumber: www.wayoflife.org)
Penyanyi musik kontemporer Kristen, Mandisa, tidak mengikuti acara pemberian hadiah Grammy minggu lalu (walaupun dia memenangkan hadiah album musik Kristen kontemporer terbaik) karena dampak negatif dari tempat-tempat seperti itu pada kehidupan rohaninya. Dalam halaman Facebook-nya, dia mengakui bahwa dia telah dicelakai oleh keterlibatannya di dalam dunia. “Dua kali saya pergi ke Grammys, saya menyaksikan pertunjukan-pertunjukan yang saya sangat ingin bisa hapus dari ingatan saya, dan ya, saya melongkapi banyak pertunjukan tahun ini; tetapi alasan saya bukanlah karena mereka, tetapi karena saya sendiri. ...Saya telah menjadi mangsa dari tarikan daging, kesombongan, dan keinginan-keinginan egois belakangan ini” (“Mandisa Wary of Grammys’ ‘Allure of Pleasure,’”Baptist Press, 29 Jan. 2014). Dia tinggal di rumah untuk mencoba memperbaharui pikirannya daripada menempatkan dirinya dalam suatu lingkungan yang merayakan hal-hal yang dia anggap “berisiko.” Dia mengidentifikasi hal-hal ini sebagai “tarikan kenikmatan, nafsu untuk memiliki benda-benda dan rasa superioritas yang penuh kesombongan.” Selain kuota sampah moral yang biasa membludak, Grammys tahun ini juga menampilkan suatu “pernikahan” homoseksual massal, dan sebuah pertunjukan rock okultik (“Dark Horse” oleh Katy Perry). Sungguh berisiko!

Setelah membuat keputusan bijak untuk menjauh dari sampah ini dalam kesempatan yang satu ini, jelas bahwa Mandisa sendiri tidak paham penuh tentang separasi alkitabiah. Dia tidak bertobat dari cintanya kepada musik dunia dan pakaian yang tidak sopan; dia tetap terbuka kepada kemungkinan menghadiri pembagian hadiah Grammy di masa depan; dan dia dengan salah mengutip Yesus sebagai contoh teman orang-orang berdosa dalam konteks seperti ini. Tuhan Yesus sungguh memang adalah teman orang-orang berdosa. Ia bahkan menyerahkan nyawaNya bagi orang-orang berdosa. Tetapi Yesus tidak berpesta pora dengan orang-orang berdosa. Ia mengasihi orang-orang berdosa, tetapi Ia selalu “saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa” (Ibrani 7:26). Tidak seperti tipikal artis CCM, Yesus memperingatkan orang tentang penghakiman Allah atas orang-orang berdosa, menuntut pertobatan, dan memberitakan tentang api neraka yang kekal, dan hal-hal ini pastinya merusak suasana pesta duniawi mana pun, sekaligus menyebabkan pemberitanya tidak lagi diundang di pesta-pesta selanjutnya! Setelah saya diselamatkan pada usia 23 tahun dari gaya hidup rock & roll, saya menghabiskan banyak waktu bersaksi kepada mantan teman-teman hippie saya. Saya pergi ke rumah-rumah mereka, dan bertemu dengan mereka di restoran-restoran, dan berbicara dengan mereka secara pribadi, tetapi saya cukup memiliki akal sehat bahkan sebagai seorang yang baru percaya, untuk menjauh dari pesta-pesat mereka. Menjadi teman orang-orang berdosa tidak berarti ikut dalam konser rock, atau pesta immoral Hollywood. Jangan tertipu. Para rocker Kristen kontemporer, tidak peduli betapa tulusnya mereka, tidak sedang meneladani Kristus dan Paulus. Mereka sedang mengikuti jejak Lot dan Demas. “Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu” (Efesus 5:11). “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik” (1 Kor. 15:33).

AHLI PERUBAHAN IKLIM MENGATAKAN SALJU AKAN TIDAK ADA LAGI
(Berita Mingguan GITS 8 Februari 2014, sumber: www.wayoflife.org)
Pada tahun 2000, sebuah laporan di koran Inggris, The Independent, mengatakan bahwa salju sebentar lagi hanya akan ada di masa lampau. Artikel itu mulai dengan berkata, “Salju sedang mulai menghilang dari kehidupan kita,” dan berakhir dengan kata-kata “Kemungkinannya tinggi sekali bahwa tidak akan ada lagi salju lebat di kota-kota yang menginspirasikan [para pujangga di masa lampau]” (“Snowballs are now just a thing of the past,” The Independent, 20 Maret 2000). Koran itu mengutip David Parker dari Hadley Centre for Climate Prediction dan Research, yang mengatakan bahwa ujung-ujungnya anak-anak Inggris hanya akan bisa merasakan salju secara virtual, mengklaim bahwa dalam waktu 20 tahun salju “akan menimbulkan kekacauan luar biasa” karena begitu jarangnya terjadi. Ini dikatakan 14 tahun lalu. Sejak saat itu, planet kita ini telah semakin dingin, dan musim-musim dingin yang keras telah melanda banyak tempat, termasuk AS dan Inggris. Tentu saja hal ini tidak meruntuhkan teori “pemanasan global karena manusia,” karena sepertinya TIDAK ADA APAPUN yang dapat meruntuhkan teori “pemanasan global karena manusia!” Jika cuaca panas, maka itu adalah pemanasan global. Jika dingin, tetapi pemanasan global. Jika ada angin topan, atau tidak ada angin topan, jika es di kutub mencair, atau es di kutub bertambah banyak melampaui rekor – semuanya adalah pemanasan global yang disebabkan manusia. Sebagaimana yang dikatakan oleh almarhum Rev. Ike, dia memiliki koin keberuntungan, yang di satu sisinya bertuliskan “beruntung,” dan sisi satunya lagi “diberkati.” “Kalau pakai koin ini, tidak mungkin kalah,” katanya. Demikianlah para penganut global warming.

ARTIS CCM MENGATAKAN BAHWA DIA TIDAK MENGHAKIMI
(Berita Mingguan GITS 8 Februari 2014, sumber: www.wayoflife.org)
Penyanyi CCM, Natalie Grant, yang dinominasikan untuk dua hadiah Grammy minggu lalu, menolak untuk menegor kekejian dari acara penyerahan hadiah tersebut. Walaupun dia meninggalkan acara Grammys tersebut lebih awal, dia menolak untuk mengatakan bahwa tindakan itu adalah bentuk protes terhadap pakaian yang tidak sopan, dansa yang immoral, kata-kata makian kotor, “pernikahan” homoseksual, ataupun pertunjukan rock yang okultik secara terbuka dalam acara Grammy tersebut. Grant memberitahu pers, “Saya tidak menghakimi siapapun. Saya tidak membenci siapapun. Dan saya percaya bahwa setiap orang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Saya tidak akan pernah berdiri di sudut jalan dan mengibarkan panji, saya tidak akan memakai platform saya untuk masuk dalam argumen-argumen politik yang hanya akan memecahbelah dan tidak mempersatukan. Saya akan terus berdoa agar hidup saya menjadi pesan saya. Saya memiliki keyakinan saya sendiri yang menjadi pedoman hidup saya, dan saya akan terus mengerjakan keselamatan saya sendiri dengan takut dan gentar di hadapan Tuhan” (“Mandisa Wary of Grammys’ ‘Allure of Pleasure,’” Baptist Press, 29 Jan. 2014).

Saya mengutip kata-kata dia secara keseluruhan, karena menggambarkan dengan jelas pernyataan filosofi rock Kristen. Kami tidak menghakimi; kami tidak memberi peringatan; kami tidak berkhotbah; kami tidak memecahbelah; kami hanya menjalani kehidupan Kristen kami sebagai kesaksian. Filosofi seperti ini adalah kesesatan besar. Ini adalah kekacauan kebenaran. Ini destruktif terhadap rohani seseorang. Ini adalah batu dasar dari pembangunan gereja esa-sedunia. Ini adalah penggenapan nubuat Paulus dalam 2 Timotius 4:3-4 tentang suatu bentuk kekristenan yang penuh hawa nafsu. Gaya hidup dan filosofi CCM bukanlah untuk mengikuti jejak Yesus Kristus, yang sering sekali memperingatkan tentang bahaya api neraka – delapan kali dalam Injil Matius saja (Mat. 5:22; 7:19; 13:40, 42, 50; 18:8, 9; 25:41). Yesus berkhotbah melawan dosa dengan menggunakan kata-kata yang paling keras, bahkan dalam khotbah di bukit. Perhatikan kata-kata berikut dari Kristus, yang jelas bersifat menghakimi dan sangat menyinggung bagi orang-orang durhaka: “Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka” (Mat. 5:27-29). Mengenai memecahbelah, Kristus dengan tegas mengatakan bahwa Ia datang untuk memisahkan. “Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan” (Luk. 12:51). Di zaman ini, Injil seharusnya diberitakan kepada segala bangsa dan setiap individu harus berdiri bersama atau melawan Pribadi yang mengklaim sebagai SATU-SATUNYA jalan, kebenaran, dan hidup. Tidak ada yang lebih memecahbelah daripada ini. Para rocker Kristen telah bersekutu sejak lama dengan entertainment dunia yang kotor, dan karena itu mereka sama sekali tidak mirip Kristus.

Editor: Dr. Steven E. Liauw
Graphe International Theological Seminary (www.graphe-ministry.org)
(Didistribusikan dengan gratis, dengan mencantumkan informasi sumber di atas)
Untuk berlangganan, pilih opsi “Join Group” di: http://groups.yahoo.com/group/gits_buletin/ dan ikuti petunjuk selanjutnya di layar komputer

No comments: